Queensha.id – Yogyakarta,

 

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api paling aktif di dunia sekaligus menjadi bagian penting dalam sejarah, budaya, dan kepercayaan masyarakat Jawa. Dengan ketinggian sekitar 2.930 meter di atas permukaan laut (mdpl), gunung yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini menyimpan beragam cerita mistis yang diwariskan secara turun-temurun.

Mulai dari kisah Keraton Merapi, Pasar Bubrah, Mbah Petruk, hingga berbagai pantangan saat mendaki, seluruh cerita tersebut masih hidup dalam tradisi masyarakat lereng Merapi. Namun, para pakar sejarah menegaskan bahwa kisah-kisah tersebut merupakan bagian dari folklore atau tradisi lisan yang tidak dapat diposisikan sebagai fakta sejarah tanpa didukung bukti ilmiah.

 

Keraton Merapi dalam Tradisi Masyarakat

Salah satu cerita yang paling dikenal adalah keberadaan Keraton Merapi, yang diyakini sebagian masyarakat sebagai kerajaan gaib dengan struktur pemerintahan layaknya keraton di dunia manusia.

Dalam cerita rakyat Jawa, tokoh-tokoh seperti Eyang Merapi maupun Kyai Sapu Jagad disebut sebagai sosok yang menjaga keseimbangan alam di kawasan Merapi. Kepercayaan tersebut telah berkembang selama ratusan tahun dan menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat lereng gunung.

 

Pasar Bubrah dan Kisah Suara Gamelan

Pendaki Gunung Merapi juga kerap mengenal kawasan Pasar Bubrah, yang berada tidak jauh dari puncak.

Dalam cerita yang berkembang, sejumlah pendaki mengaku pernah mendengar suara gamelan maupun keramaian layaknya pasar tradisional ketika berada di lokasi tersebut pada malam hari.

Hingga kini, belum ada penelitian ilmiah yang dapat membuktikan fenomena tersebut. Para ahli menilai pengalaman seperti itu dapat dipengaruhi oleh kondisi alam, kelelahan fisik, faktor psikologis, maupun persepsi masing-masing individu.

 

Mbah Petruk dan Bunker Kaliadem

Legenda lain yang cukup populer adalah kemunculan sosok Mbah Petruk di balik kepulan awan panas Merapi. Sebagian masyarakat memaknainya sebagai simbol peringatan agar warga meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas vulkanik.

Sementara itu, Bunker Kaliadem juga sering dikaitkan dengan cerita mistis sejak tragedi letusan Merapi tahun 2006 yang menewaskan dua relawan. Berbagai cerita mengenai suara tangisan maupun penampakan berkembang di tengah masyarakat, meski hingga kini belum dapat dibuktikan secara ilmiah.

 

Sumbu Filosofis Merapi–Keraton–Laut Selatan

Dalam kosmologi Jawa, Gunung Merapi memiliki posisi penting dalam Sumbu Filosofis Yogyakarta, yang menghubungkan Gunung Merapi, Tugu Yogyakarta, Keraton Yogyakarta, hingga kawasan Pantai Parangkusumo.

Para budayawan menjelaskan bahwa konsep tersebut lebih banyak dimaknai sebagai simbol keseimbangan hubungan manusia dengan alam, budaya, dan Sang Pencipta daripada sebagai bukti keberadaan dunia gaib.

 

Pandangan Pakar Sejarah

Sejumlah sejarawan Indonesia, termasuk akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), berpendapat bahwa kisah-kisah mengenai Gunung Merapi merupakan bagian dari tradisi lisan (oral tradition) yang diwariskan lintas generasi.

Menurut mereka, cerita tentang kerajaan gaib, penunggu gunung, maupun pantangan mendaki tidak dapat dikategorikan sebagai fakta sejarah karena belum didukung bukti arkeologis, naskah primer, atau data ilmiah yang dapat diverifikasi.

Para ahli sejarah menilai legenda-legenda tersebut memiliki fungsi sosial yang penting, yakni sebagai media pendidikan budaya, pengingat agar manusia menghormati alam, serta cara masyarakat tradisional menjelaskan fenomena alam yang belum dapat dipahami melalui ilmu pengetahuan pada zamannya.

Selain itu, sejumlah pantangan yang berkembang, seperti larangan merusak hutan, menjaga tutur kata, dan tidak membuang sampah sembarangan, dinilai mengandung pesan konservasi lingkungan yang masih relevan hingga sekarang.

 

Menghormati Budaya, Mengutamakan Keselamatan

Gunung Merapi tetap menjadi salah satu destinasi favorit bagi wisatawan, peneliti, maupun pendaki. Di balik berbagai cerita mistis yang berkembang, pengelola kawasan konservasi dan Balai Taman Nasional Gunung Merapi terus mengimbau masyarakat untuk mengutamakan keselamatan, mematuhi aturan pendakian, mengikuti informasi aktivitas vulkanik dari instansi berwenang, serta menjaga kelestarian lingkungan.

Dengan demikian, kisah-kisah mistis Gunung Merapi dapat dipahami sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang patut dihormati, tanpa mengesampingkan pendekatan ilmiah dalam memahami fenomena alam dan sejarah.

 

***

Penulis: Vico Rahman.