Queensha.id – Edukasi Sosial,
Sebuah unggahan di Facebook dari akun Rahma Fitri menjadi perbincangan warganet setelah mengangkat tema gaya hidup konsumtif, utang, dan pentingnya hidup sederhana. Tulisan berjudul “Termakan Gaya” tersebut dibagikan ribuan kali dan memancing beragam tanggapan dari masyarakat pada, Sabtu (1/8/2026).
Dalam unggahannya, penulis menyoroti fenomena sebagian masyarakat yang dinilai lebih mengutamakan gengsi dibandingkan membangun fondasi keuangan yang sehat. Ia menggambarkan kondisi seseorang yang masih mengontrak rumah atau masih mencicil rumah, namun telah memiliki beberapa kendaraan dan berbagai peralatan elektronik yang diperoleh melalui fasilitas kredit.
Menurut narasi tersebut, kebiasaan membeli barang demi menjaga citra sosial berpotensi menimbulkan beban keuangan yang berat apabila tidak disesuaikan dengan kemampuan ekonomi.
Penulis juga membandingkan gaya hidup masyarakat Indonesia dengan Jepang. Namun, klaim bahwa masyarakat Jepang menganggap kepemilikan mobil sebagai sesuatu yang “kampungan” tidak didukung oleh data resmi dan tidak dapat digeneralisasi. Pada kenyataannya, penggunaan mobil di Jepang dipengaruhi oleh lokasi tempat tinggal, kebutuhan transportasi, serta ketersediaan angkutan umum.
Unggahan itu juga mengajak masyarakat lebih mengutamakan investasi seperti tanah atau rumah dibandingkan membeli barang elektronik yang nilainya terus menurun seiring waktu. Selain itu, penulis menilai hidup sederhana dapat memberikan ketenangan dan mengurangi tekanan akibat beban cicilan.
Dari sudut pandang keagamaan, unggahan tersebut turut mengingatkan agar masyarakat berhati-hati terhadap praktik utang berbunga yang dalam ajaran Islam dipandang sebagai riba. Penulis berpendapat bahwa kebutuhan rumah tangga seperti kulkas, mesin cuci, atau pendingin ruangan boleh dimiliki selama tidak diperoleh melalui utang yang memberatkan.
Meski demikian, para pengamat ekonomi selama ini menekankan bahwa kredit atau pembiayaan pada dasarnya merupakan instrumen keuangan yang dapat memberikan manfaat apabila digunakan secara bijak dan disesuaikan dengan kemampuan membayar. Sebaliknya, utang yang tidak direncanakan dengan baik memang berpotensi menimbulkan masalah finansial.
Literasi keuangan menjadi faktor penting agar masyarakat mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, menyusun prioritas pengeluaran, menyiapkan dana darurat, serta berinvestasi sesuai tujuan keuangan jangka panjang.
Pesan utama yang dapat dipetik dari unggahan viral tersebut adalah pentingnya menjalani kehidupan sesuai kemampuan. Memiliki kendaraan, rumah, maupun berbagai fasilitas bukanlah hal yang salah, selama diperoleh melalui perencanaan keuangan yang matang dan tidak membahayakan kondisi ekonomi keluarga.
Di tengah meningkatnya gaya hidup konsumtif dan kemudahan memperoleh fasilitas kredit, masyarakat diharapkan semakin bijak dalam mengambil keputusan finansial agar kesejahteraan jangka panjang tetap terjaga.
Purnomo Wardoyo, Pengamat Sosial asal Jepara, menilai fenomena gaya hidup konsumtif yang didorong oleh gengsi dan tekanan lingkungan sosial perlu menjadi perhatian bersama. Menurutnya, masyarakat sebaiknya tidak menjadikan kepemilikan barang mewah sebagai tolok ukur keberhasilan hidup.
“Keberhasilan seseorang tidak diukur dari banyaknya aset yang terlihat, tetapi dari kemampuan mengelola keuangan secara bijak dan hidup sesuai kemampuan. Jangan sampai demi gengsi sesaat, justru mengorbankan ketenangan dan masa depan keluarga,” ujar Purnomo Wardoyo, Sabtu (1/8/2026).
Ia juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan literasi keuangan serta membiasakan budaya menabung dan berinvestasi agar kondisi ekonomi keluarga lebih kuat dan berkelanjutan.
***
Sumber: RF.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan