Queensha.id – Jepara,
Di tengah gegap gempita tradisi Lomban Jepara, lahir sebuah ekspresi budaya yang tidak sekadar meriah, tetapi sarat makna: Festival Kupat Lepet. Tradisi ini bukan sekadar tontonan, melainkan simbol mendalam tentang pengakuan kesalahan, kerendahan hati, dan saling memaafkan yang merupakan nilai yang sejalan dengan semangat Idulfitri.
Gagasan penggunaan kupat dan lepet sebagai simbol refleksi diri berangkat dari dinamika budaya masyarakat Jepara yang terus berkembang. Kupat dan lepet dimaknai sebagai representasi pengakuan atas kekhilafan manusia, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun sesama.
Dari sanalah, Festival Kupat Lepet menemukan pijakannya merupakan sebuah inovasi budaya yang menjadikan tradisi tidak sekadar diwariskan, tetapi juga diperbarui dengan ruh zaman.
Ide ini pertama kali digagas pada tahun 2006 oleh Bupati Jepara saat itu, Hendro Martojo. Ia mendorong para seniman lokal untuk menghadirkan atraksi baru dalam prosesi Lomban, agar lebih menarik dan tidak monoton.
Ajakan tersebut disambut antusias oleh para pegiat seni yang tergabung dalam Dewan Kesenian Daerah Jepara.
Sejumlah nama seperti Aminan Basyarie, Sholikul Huda, hingga Nur Huda Tauchid terlibat dalam merumuskan konsep awal festival.
Festival perdana pada 2006 tampil sederhana namun memikat: satu gunungan kupat lepet dipadukan dengan seni tari dan pembacaan puisi. Meski baru, sajian ini langsung mencuri perhatian publik dan menjadi penanda lahirnya tradisi baru.
Setahun berselang, konsep festival berkembang lebih matang. Dua gunungan dihadirkan yaitu berisi 2007 kupat lepet, sesuai tahun pelaksanaan.
Gunungan tersebut tidak hanya menjadi objek visual, tetapi juga simbol filosofis: satu melambangkan dosa (ditutup kain hitam), dan lainnya melambangkan maaf serta kesucian (ditutup kain putih).
Puncak acara menjadi momen paling dinanti. Kupat dan lepet diperebutkan warga dengan penuh suka cita, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat. Tradisi ini menjadi representasi nyata dari rasa syukur dan kebahagiaan kolektif masyarakat.
Dalam prosesi simbolik, bupati mengambil kupat dan menyerahkannya kepada pimpinan DPRD sebagai bentuk permohonan maaf kepada seluruh warga. Sebuah gestur sederhana, namun sarat makna kepemimpinan yang membumi.
Seiring waktu, Festival Kupat Lepet tidak hanya menjadi pelengkap Lomban, tetapi telah menjelma sebagai identitas baru budaya Jepara. Ia menjadi bukti bahwa tradisi bisa terus hidup jika diberi ruang untuk tumbuh dan berinovasi.
Lebih dari itu, festival ini juga menjadi panggung bagi para seniman lokal untuk menunjukkan kreativitas mereka. Nama-nama di balik layar di mulai dari pembuat gunungan hingga penggarap artistik yang merupakan bagian penting dari denyut kebudayaan yang jarang terlihat, namun sangat menentukan.
Kini, Festival Kupat Lepet bukan sekadar perayaan, melainkan warisan budaya yang lahir dari kolaborasi, gagasan, dan semangat zaman. Harapannya, ruang-ruang kreatif seperti ini terus dijaga, agar Jepara tidak hanya dikenal karena tradisinya, tetapi juga karena keberanian memperbaruinya.
***
Penulis: Hadi Priyanto.
(22 Maret 2026)

Tinggalkan Balasan