Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Fenomena pasangan yang dianggap “tidak cocok” dari segi penampilan sering menjadi bahan perbincangan di tengah masyarakat. Tidak sedikit orang yang mempertanyakan mengapa seorang pria yang dinilai tampan dan mapan justru memilih pasangan yang dianggap sederhana, atau sebaliknya perempuan yang dinilai cantik dan modis berpacaran dengan pria yang berpenampilan biasa.

 

Komentar semacam itu masih kerap terdengar dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang pria muda asal Jepara, misalnya, mengaku pernah merasa heran ketika melihat pasangan yang menurutnya tidak seimbang dari sisi penampilan.

“Kenapa ya, cowonya tinggi dan lumayan ganteng, penampilannya juga terlihat dari keluarga ekonomi yang aman, tapi kok ceweknya seperti itu, kurus, biasa saja dan penampilannya kuno,” ujarnya, Minggu (2/8/2026).

Hal senada juga disampaikan seorang perempuan muda asal Jepara.

“Ceweknya cantik dan penampilannya kekinian, tapi kok cowoknya kusut, kurus dan wajahnya terasa tidak cocok dengan cewek cantik itu,” katanya.

Fenomena tersebut memunculkan berbagai pertanyaan di masyarakat. Apakah seseorang memilih pasangan karena benar-benar mencintai? Apakah karena ingin segera menikah? Atau hanya sekadar memenuhi tuntutan pergaulan?

 

Penampilan Bukan Penentu Kebahagiaan

Menurut pandangan para pengamat sosial, masyarakat sering kali terlalu cepat menilai sebuah hubungan hanya berdasarkan penampilan fisik.

Padahal, hubungan yang bertahan lama umumnya dibangun oleh banyak faktor lain, seperti kenyamanan, komunikasi, kesamaan visi hidup, rasa saling menghargai, kepercayaan, hingga karakter masing-masing pasangan.

Tidak sedikit pasangan yang secara fisik dianggap “tidak serasi” justru mampu membangun rumah tangga yang harmonis selama puluhan tahun.

Sebaliknya, pasangan yang dinilai sangat cocok secara penampilan belum tentu mampu mempertahankan hubungan ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

 

Setiap Orang Memiliki Standar Pasangan yang Berbeda

Pengamat sosial menjelaskan bahwa setiap individu memiliki kebutuhan emosional yang berbeda.

Ada yang mencari pasangan karena merasa nyaman diajak berbicara.

Ada pula yang lebih menghargai sifat penyayang, tanggung jawab, kesetiaan, serta kemampuan menerima kekurangan pasangan dibanding sekadar wajah yang tampan atau cantik.

Dalam ilmu psikologi sosial dikenal adanya kecenderungan bahwa daya tarik seseorang tidak hanya berasal dari penampilan fisik, tetapi juga kepribadian, sikap, kecerdasan emosional, serta bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.

Karena itu, hubungan yang terlihat “tidak cocok” dari luar belum tentu benar-benar tidak serasi bagi mereka yang menjalaninya.

 

Mengapa Ada Orang yang Sering Berganti Pasangan?

Fenomena lain yang juga banyak dijumpai adalah seseorang yang kerap berganti pasangan dalam waktu relatif singkat.

Menurut pengamat sosial, kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:

  • Belum memiliki tujuan hubungan yang jelas.
  • Masih mencari pasangan yang dianggap paling sesuai.
  • Pengaruh media sosial dan lingkungan pergaulan.
  • Hubungan hanya dijadikan simbol status sosial.
  • Belum siap berkomitmen menuju pernikahan.
  • Kurangnya kedewasaan emosional.

Namun demikian, tidak semua orang yang pernah memiliki beberapa hubungan dapat langsung dinilai negatif. Ada pula yang memang mengakhiri hubungan karena mengalami ketidakcocokan, kekerasan, atau alasan yang sehat.

Karena itu, setiap hubungan perlu dilihat berdasarkan konteksnya, bukan sekadar jumlah mantan atau lamanya berpacaran.

 

Pacaran Bukan Sekadar Gengsi

Di era digital, sebagian anak muda terkadang merasa harus memiliki pacar agar dianggap tidak ketinggalan zaman.

Tekanan dari lingkungan maupun media sosial dapat membuat seseorang menjalin hubungan hanya agar terlihat “laku”, memiliki pasangan saat malam Minggu, atau mengikuti tren pergaulan.

Pengamat sosial menilai bahwa pola pikir seperti ini berisiko membuat hubungan kehilangan makna yang sebenarnya.

Hubungan yang sehat seharusnya dibangun atas dasar saling menghormati, saling mendukung, serta memiliki tujuan yang jelas, bukan hanya demi pencitraan di media sosial.

 

Masyarakat Diminta Tidak Mudah Menghakimi

Pengamat sosial juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah memberikan penilaian terhadap hubungan orang lain hanya dari apa yang terlihat.

Seseorang yang tampak sederhana belum tentu memiliki kualitas hidup yang rendah. Sebaliknya, orang yang tampil mewah belum tentu mampu menjadi pasangan yang bertanggung jawab.

Pada akhirnya, kecocokan dalam hubungan tidak hanya ditentukan oleh wajah, penampilan, maupun kondisi ekonomi, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh karakter, komitmen, rasa saling menghormati, komunikasi yang baik, dan kesiapan membangun masa depan bersama.

Karena itu, sebelum menilai hubungan orang lain, masyarakat diharapkan lebih mengedepankan sikap bijak dan menghormati pilihan pribadi setiap individu, selama hubungan tersebut dijalani secara sehat, saling menghargai, dan tidak merugikan pihak lain.

 

***

Penulis: Vico Rahman.