Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Rumah tangga yang harmonis tidak hanya dibangun dengan cinta, tetapi juga dengan akhlak, komunikasi, tanggung jawab, dan saling menghormati. Dalam kehidupan sehari-hari, ada sejumlah sikap suami yang sering kali menjadi sumber kekecewaan istri.

Islam mengajarkan bahwa suami adalah pemimpin keluarga, namun kepemimpinan tersebut harus dijalankan dengan kasih sayang, keadilan, dan tanggung jawab. Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Berikut 10 hal yang paling sering dibenci istri terhadap suami menurut nilai-nilai Islam dan penjelasan para ulama.

1. Kasar dalam Berkata dan Bersikap

Ucapan yang menyakitkan, bentakan, makian, hingga kekerasan fisik merupakan perilaku yang sangat dibenci dalam Islam.

Ulama menjelaskan bahwa seorang suami diperintahkan memperlakukan istrinya dengan mu’asyarah bil ma’ruf (bergaul dengan cara yang baik), sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 19.

2. Tidak Bertanggung Jawab Memberi Nafkah

Memberikan nafkah lahir sesuai kemampuan merupakan kewajiban suami.

Apabila suami sengaja mengabaikan tanggung jawabnya padahal mampu, hal itu dapat melukai hati istri dan menjadi sebab timbulnya perselisihan dalam rumah tangga.

3. Tidak Jujur dan Sering Berbohong

Kepercayaan adalah pondasi pernikahan.

Sekali kebohongan terungkap, hubungan suami istri bisa dipenuhi rasa curiga. Islam sangat menekankan pentingnya sifat jujur dalam setiap aspek kehidupan.

4. Selingkuh dan Mengkhianati Kepercayaan

Perselingkuhan merupakan salah satu penyebab terbesar hancurnya rumah tangga.

Para ulama mengingatkan agar suami menjaga pandangan, hati, dan pergaulan sehingga tidak membuka pintu menuju perbuatan yang dilarang syariat.

5. Tidak Mau Mendengarkan Istri

Banyak istri tidak selalu membutuhkan solusi, tetapi ingin didengarkan.

Islam mengajarkan musyawarah dalam keluarga. Mendengarkan pasangan adalah bentuk penghormatan dan kasih sayang.

6. Pemarah dan Sulit Mengendalikan Emosi

Suami yang mudah marah sering menciptakan suasana rumah yang tidak nyaman.

Rasulullah SAW berulang kali menasihati umatnya agar mampu menahan amarah karena marah yang tidak terkendali dapat merusak hubungan dengan keluarga.

7. Terlalu Sibuk hingga Mengabaikan Keluarga

Kesibukan bekerja memang penting, tetapi keluarga juga memiliki hak atas waktu seorang suami.

Para ulama menjelaskan bahwa keseimbangan antara ibadah, pekerjaan, dan keluarga merupakan bagian dari tanggung jawab seorang kepala rumah tangga.

8. Tidak Menghargai Perjuangan Istri

Menganggap pekerjaan istri di rumah sebagai sesuatu yang biasa tanpa pernah mengucapkan terima kasih dapat membuat istri merasa tidak dihargai.

Rasulullah SAW memberikan teladan dengan membantu pekerjaan rumah dan memperlakukan keluarganya dengan penuh kelembutan.

9. Boros atau Tidak Bijak Mengelola Keuangan

Masalah ekonomi sering menjadi pemicu konflik.

Islam mengajarkan hidup sederhana, tidak berlebihan, dan mengelola rezeki dengan penuh tanggung jawab agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

10. Lalai dalam Agama dan Tidak Membimbing Keluarga

Suami tidak hanya bertugas memenuhi kebutuhan dunia, tetapi juga membimbing keluarga menuju ketaatan kepada Allah SWT.

Allah SWT memerintahkan kaum beriman untuk menjaga diri dan keluarganya dari hal-hal yang dapat menjerumuskan kepada keburukan. Karena itu, para ulama menegaskan bahwa suami memiliki tanggung jawab menjadi teladan dalam ibadah, akhlak, dan pendidikan agama di rumah.

 

Pandangan Ulama tentang Keharmonisan Rumah Tangga

Para ulama, seperti dan , menekankan bahwa rumah tangga yang baik dibangun di atas kasih sayang, kesabaran, saling memaafkan, dan pelaksanaan hak serta kewajiban masing-masing.

Dalam Islam, suami tidak diperintahkan menjadi sosok yang ditakuti, melainkan menjadi pemimpin yang adil, lembut, dan bertanggung jawab. Sebaliknya, istri juga memiliki kewajiban untuk menghormati dan menaati suami dalam perkara yang baik sesuai syariat.

Pada akhirnya, keharmonisan rumah tangga tidak tercipta karena salah satu pihak selalu benar, melainkan karena suami dan istri sama-sama berusaha memperbaiki diri, menjaga komunikasi, saling menghargai, dan menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman dalam membina keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.