Queensha.id – Edukasi Sosial,
Dalam kehidupan rumah tangga, tidak sedikit pasangan yang mengaku pernah merasakan kejenuhan. Sebagian orang kemudian menyimpulkan bahwa rasa bosan muncul karena pasangannya sudah tidak menarik lagi.
Namun, menurut ilmu psikologi, rasa bosan dalam pernikahan sering kali tidak semata-mata disebabkan oleh perubahan pasangan, melainkan juga dipengaruhi oleh cara seseorang memandang hubungan, mengelola harapan, serta menjaga komitmen dalam rumah tangga.
Sebuah kisah yang banyak beredar di media sosial menggambarkan persoalan tersebut.
Dikisahkan, seorang laki-laki mengadu kepada seorang syeikh.
Ia berkata bahwa sebelum menikah, ia menganggap calon istrinya sebagai perempuan paling cantik di dunia. Setelah melamar, ia mulai melihat banyak perempuan lain yang sama cantiknya. Setelah menikah, ia merasa ada perempuan yang lebih cantik daripada istrinya. Bahkan, hampir sepuluh tahun menjalani rumah tangga, ia merasa semua perempuan tampak lebih menarik dibandingkan istrinya.
Mendengar pengakuan itu, sang syeikh menjawab bahwa persoalan sebenarnya bukan berada pada sang istri.
Menurut syeikh tersebut, akar masalahnya adalah hati yang tidak pernah merasa cukup dan pandangan yang terus membandingkan pasangan dengan orang lain.
Sang syeikh kemudian memberikan nasihat bahwa seseorang yang mampu menjaga pandangan dari hal-hal yang dilarang serta mensyukuri pasangan yang halal baginya akan lebih mudah merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam rumah tangga.
Menurut Ilmu Psikologi, Mengapa Suami Bisa Bosan?
Dalam psikologi, rasa bosan merupakan hal yang dapat muncul dalam hubungan jangka panjang. Hal tersebut tidak selalu berarti cinta telah hilang.
Beberapa penyebab yang sering ditemukan antara lain:
- Terlalu sering membandingkan pasangan dengan orang lain, baik di lingkungan sekitar maupun media sosial.
- Rutinitas yang monoton tanpa menciptakan pengalaman baru bersama.
- Kurangnya komunikasi yang terbuka dan berkualitas.
- Harapan terhadap pasangan yang tidak realistis.
- Tidak adanya penghargaan terhadap perhatian dan pengorbanan pasangan.
- Gangguan dari penggunaan media sosial yang membuat seseorang terus melihat kehidupan orang lain dan membandingkannya dengan kehidupan sendiri.
Psikolog menjelaskan bahwa kebiasaan membandingkan pasangan secara terus-menerus dapat menurunkan rasa syukur dan kepuasan dalam hubungan.
Menjaga Pandangan dan Rasa Syukur
Selain faktor psikologis, banyak nilai moral dan agama mengajarkan pentingnya menjaga pandangan serta hati.
Dalam Islam, suami dan istri dianjurkan untuk saling menjaga kesetiaan, menghormati, serta tidak mudah tergoda oleh penampilan orang lain.
Rasa syukur terhadap pasangan yang telah menemani dalam suka dan duka menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun rumah tangga yang harmonis.
Cara Mengurangi Rasa Bosan dalam Pernikahan
Menurut ilmu psikologi, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan pasangan suami istri untuk menjaga keharmonisan rumah tangga, antara lain:
- Meluangkan waktu berkualitas bersama tanpa gangguan gawai.
- Saling mengungkapkan rasa terima kasih atas hal-hal sederhana.
- Menjalin komunikasi yang jujur dan terbuka.
- Mencoba aktivitas baru bersama agar hubungan tidak monoton.
- Menyelesaikan konflik dengan kepala dingin.
- Menghindari kebiasaan membandingkan pasangan dengan orang lain.
Rasa bosan dalam pernikahan merupakan hal yang dapat dialami siapa saja. Namun, menurut ilmu psikologi, penyebabnya sering kali bukan karena pasangan berubah, melainkan karena perubahan cara pandang, kebiasaan membandingkan, kurangnya komunikasi, dan menurunnya rasa syukur.
Kisah seorang syeikh yang beredar di media sosial mengingatkan bahwa kebahagiaan dalam rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh kecantikan atau ketampanan pasangan, tetapi juga oleh kemampuan seseorang menjaga hati, mengendalikan pandangan, serta menghargai pasangan yang telah dipilih untuk mendampingi perjalanan hidup.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan