Queensha.id – Edukasi Sosial,
Akting selama ini identik dengan dunia film, sinetron, teater, dan panggung hiburan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat juga kerap menjumpai orang yang dianggap pandai memainkan peran, menyembunyikan perasaan, atau menampilkan sikap tertentu demi mendapatkan respons dari orang lain.
Salah satu contoh yang sering menjadi bahan pembicaraan adalah seseorang yang terlihat sangat sedih agar mendapatkan perhatian, simpati, bantuan, atau kasih sayang. Perilaku seperti ini dapat dilakukan laki-laki maupun perempuan.
Namun, masyarakat perlu berhati-hati dalam menilai. Menangis, terlihat sedih, berubah sikap, atau mencari perhatian tidak otomatis berarti seseorang sedang berpura-pura. Ada orang yang memang sedang mengalami tekanan emosional tetapi tidak mampu mengungkapkannya dengan cara lain.
Karena itu, membedakan antara ekspresi emosi yang tulus dan perilaku manipulatif membutuhkan pengamatan terhadap pola perilaku secara keseluruhan, bukan hanya satu kejadian.
Apa yang dimaksud berpura-pura dalam kehidupan sehari-hari?
Dalam konteks sosial, berpura-pura dapat dipahami sebagai tindakan menampilkan keadaan, perasaan, atau sikap yang tidak sepenuhnya sesuai dengan keadaan sebenarnya.
Motivasinya bisa bermacam-macam.
Ada orang yang berpura-pura terlihat kuat karena tidak ingin dianggap lemah. Ada pula yang bersikap ramah meskipun sebenarnya tidak menyukai seseorang. Dalam situasi tertentu, seseorang juga dapat melebih-lebihkan kesedihan untuk memperoleh perhatian.
Tidak semua bentuk berpura-pura mempunyai tujuan buruk.
Dalam kehidupan sosial, manusia memang terkadang melakukan pengelolaan kesan atau impression management, misalnya bersikap sopan kepada orang lain meskipun sedang lelah atau menjaga ekspresi agar suasana tetap nyaman.
Persoalan menjadi berbeda ketika perilaku tersebut dilakukan secara sengaja dan berulang untuk memanipulasi, mengeksploitasi, menipu, atau mengendalikan orang lain.
Ciri-ciri orang yang gemar berpura-pura atau memainkan peran
Berikut beberapa tanda yang dapat menjadi bahan pengamatan. Tidak satu pun ciri berikut dapat digunakan untuk mendiagnosis seseorang secara pasti.
1. Ceritanya sering berubah
Seseorang yang sering berpura-pura dapat memberikan cerita berbeda ketika menceritakan kejadian yang sama kepada orang berbeda.
Perubahan kecil memang bisa terjadi karena seseorang lupa. Namun, apabila kontradiksi muncul berulang kali dan berkaitan dengan kepentingan pribadi, masyarakat patut lebih berhati-hati.
2. Sikap berubah sesuai dengan siapa yang dihadapi
Orang yang suka memainkan peran terkadang menunjukkan karakter yang sangat berbeda kepada orang yang berbeda.
Misalnya sangat ramah kepada orang yang dianggap dapat memberikan keuntungan, tetapi bersikap kasar kepada orang yang dianggap tidak memiliki kepentingan.
Namun, perubahan perilaku tidak otomatis berarti seseorang sedang berakting karena manusia memang menyesuaikan cara berkomunikasi berdasarkan situasi sosial.
3. Sering mencari simpati
Salah satu pola yang perlu diperhatikan adalah kecenderungan menjadikan dirinya sebagai korban dalam hampir setiap persoalan.
Tujuannya bisa mendapatkan perhatian, dukungan, bantuan, atau membangun citra tertentu.
Tetapi sekali lagi, orang yang sering bercerita tentang kesulitannya belum tentu berpura-pura. Bisa saja memang sedang membutuhkan dukungan.
4. Emosi muncul terutama ketika ada penonton
Masyarakat terkadang menilai seseorang berpura-pura ketika ekspresi emosinya terlihat sangat berbeda saat berada di depan orang lain dan ketika sendirian.
Meski demikian, hal ini juga tidak bisa menjadi bukti tunggal. Banyak orang memang lebih mampu menahan emosi ketika sendirian atau sebaliknya.
5. Terlalu sering memainkan peran sebagai korban
Dalam hubungan sosial yang tidak sehat, seseorang mungkin terus-menerus menempatkan dirinya sebagai korban dan menghindari tanggung jawab atas kesalahannya.
Jika pola tersebut berlangsung lama dan digunakan untuk mengendalikan orang lain, hubungan tersebut perlu dievaluasi.
6. Menggunakan rasa kasihan untuk mendapatkan sesuatu
Contohnya, seseorang sengaja membangun cerita emosional agar orang lain memberikan uang, bantuan, perhatian, atau perlakuan khusus.
Perilaku semacam ini berbeda dengan seseorang yang benar-benar meminta pertolongan karena sedang mengalami kesulitan.
7. Perkataan dan tindakan tidak sesuai
Salah satu indikator yang lebih penting adalah ketidaksesuaian antara ucapan dan perilaku.
Seseorang dapat mengatakan sangat peduli, tetapi tindakannya berulang kali menunjukkan hal sebaliknya.
Karena itu, masyarakat sebaiknya menilai pola tindakan, bukan hanya kata-kata.
8. Gemar mencari perhatian
Mencari perhatian merupakan perilaku manusia yang normal dalam batas tertentu.
Namun, apabila seseorang terus-menerus membuat drama, konflik, atau situasi emosional untuk mendapatkan perhatian, perilaku tersebut dapat menjadi pola yang tidak sehat.
Bagaimana dengan orang yang berpura-pura sedih agar dikasihani?
Fenomena ini memang dapat ditemukan dalam kehidupan sosial. Seseorang bisa menampilkan kesedihan untuk mendapatkan simpati atau keuntungan tertentu.
Tetapi penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa perempuan yang menangis atau terlihat sedih sedang berakting.
Menangis merupakan salah satu bentuk ekspresi emosi manusia.
Perempuan maupun laki-laki sama-sama dapat menangis karena sedih, kecewa, takut, tertekan, kehilangan, marah, atau merasa sangat lega.
Yang perlu diperhatikan adalah konteks dan pola perilakunya.
Apabila seseorang sengaja menggunakan kesedihan untuk memaksa orang lain memenuhi keinginannya, misalnya membuat pasangan merasa bersalah agar menuruti permintaan, hal tersebut dapat masuk dalam pola manipulasi emosional.
Jangan mudah tertipu oleh “drama”, tetapi jangan juga mudah menuduh
Masyarakat perlu berada di tengah.
Jangan mudah mempercayai semua cerita hanya karena seseorang menangis.
Namun, jangan pula menganggap semua orang yang menangis sebagai pembohong.
Cara yang lebih sehat adalah:
Dengarkan → periksa konteks → lihat konsistensi → perhatikan tindakan → jangan terburu-buru mengambil kesimpulan.
Apabila menyangkut uang, dokumen, hubungan profesional, atau keputusan penting, jangan hanya mengandalkan rasa kasihan.
Menurut pakar psikologi, apakah orang yang berpura-pura selalu mengalami gangguan psikologis?
Tidak.
Perilaku berpura-pura atau mengelola kesan tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan mental.
Manusia mempunyai kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial. Seseorang bisa memilih kata, ekspresi, dan sikap tertentu sesuai dengan situasi.
Baru menjadi persoalan apabila pola perilaku tersebut sangat menetap, merugikan diri sendiri atau orang lain, mengganggu hubungan, dan berkaitan dengan masalah psikologis yang lebih luas.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak sembarangan memberikan label seperti “psikopat”, “narsistik”, atau diagnosis psikologis lainnya hanya berdasarkan perilaku seseorang di media sosial atau dalam kehidupan sehari-hari.
Diagnosis hanya dapat dilakukan oleh tenaga profesional yang memiliki kompetensi, melalui proses asesmen yang tepat.
Pakar psikologi terkemuka di Indonesia: penting melihat perilaku secara utuh
Dalam pemberitaan yang mengatasnamakan “pakar psikologi terkemuka di Indonesia”, identitas dan pernyataan narasumber sebaiknya harus jelas dan dapat diverifikasi.
Tanpa nama pakar, institusi, serta kutipan yang dapat dipertanggungjawabkan, media sebaiknya tidak membuat pernyataan seolah-olah berasal dari psikolog tertentu.
Secara prinsip psikologi, perilaku manusia memang tidak dapat dinilai hanya dari satu ekspresi atau satu kejadian.
Orang yang menangis belum tentu manipulatif. Orang yang terlihat bahagia belum tentu sedang baik-baik saja. Begitu pula orang yang tampak ramah belum tentu memiliki niat buruk.
Konteks, konsistensi perilaku, dan pola hubungan jauh lebih penting daripada penampilan sesaat.
Mengapa manusia bisa berpura-pura?
Ada berbagai kemungkinan alasan.
Menjaga citra diri
Seseorang mungkin ingin terlihat sukses, kuat, baik, atau disukai.
Menghindari konflik
Sebagian orang menyembunyikan perasaan sebenarnya karena takut terjadi pertengkaran.
Mendapatkan perhatian
Ada orang yang membutuhkan perhatian dan dukungan emosional.
Mendapatkan keuntungan
Dalam kasus tertentu, berpura-pura bisa digunakan untuk memperoleh uang, fasilitas, atau keuntungan sosial.
Melindungi diri
Tidak semua kepura-puraan bertujuan menipu. Seseorang mungkin menyembunyikan emosi karena merasa tidak aman atau belum siap menceritakan masalahnya.
Ciri hubungan yang perlu diwaspadai
Dalam hubungan pacaran atau pertemanan, masyarakat perlu berhati-hati apabila menemukan pola seperti:
- pasangan terus membuat seseorang merasa bersalah;
- cerita berubah ketika kepentingannya berubah;
- selalu meminta sesuatu dengan menggunakan tekanan emosional;
- mengancam akan meninggalkan pasangan jika keinginannya tidak dipenuhi;
- mengaku sebagai korban dalam hampir semua konflik;
- tidak pernah mau bertanggung jawab atas kesalahan;
- sering menggunakan tangisan atau kemarahan untuk menghentikan pembicaraan;
- mengontrol pasangan melalui rasa bersalah;
- perkataan dan tindakan berkali-kali bertentangan.
Satu kejadian belum tentu cukup untuk menyimpulkan seseorang manipulatif. Yang lebih penting adalah pola yang terus berulang.
Cara menghadapi orang yang diduga gemar berpura-pura
Tidak perlu membalas manipulasi dengan manipulasi.
Beberapa langkah yang lebih sehat adalah:
Pertama, tetap tenang dan jangan mengambil keputusan besar ketika sedang terbawa emosi.
Kedua, tanyakan fakta secara langsung dan sopan.
Ketiga, tetapkan batas pribadi.
Keempat, jangan memberikan uang atau akses penting hanya karena merasa kasihan.
Kelima, lihat konsistensi antara perkataan dan tindakan.
Keenam, jika hubungan sudah penuh tekanan emosional, pertimbangkan meminta bantuan orang yang dipercaya atau profesional.
Akting memang tidak hanya ditemukan di film dan sinetron. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia terkadang menampilkan versi dirinya yang berbeda sesuai dengan situasi.
Namun, tidak semua orang yang menangis, terlihat sedih, mencari perhatian, atau berubah sikap sedang berpura-pura.
Perempuan juga tidak dapat dianggap lebih gemar berakting dibandingkan laki-laki. Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama mempunyai kemampuan mengelola emosi, membangun citra diri, mencari perhatian, dan dalam situasi tertentu melakukan manipulasi.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menilai seseorang berdasarkan jenis kelamin atau satu kejadian saja.
Lihat pola perilakunya, periksa konsistensinya, pahami konteksnya, dan hindari memberikan diagnosis psikologis tanpa dasar profesional.
Pada akhirnya, kemampuan membaca perilaku manusia bukan berarti mencari kelemahan orang lain, tetapi membantu kita membangun hubungan yang lebih sehat dan tidak mudah dimanfaatkan.
Menurut pandangan pengamat sosial asal Jepara Purnomo Wardoyo mengatakan
Menurut pandangan pengamat sosial asal Jepara Purnomo Wardoyo mengatakan bahwa dalam kehidupan sosial modern, fenomena orang yang dianggap “berpura-pura” tidak bisa dilihat secara hitam putih. Ia menegaskan bahwa setiap individu memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan emosi dan membangun citra diri di hadapan orang lain.
“Tidak semua orang yang terlihat sedih atau menangis itu sedang berpura-pura. Kita harus melihat konteksnya secara utuh, termasuk latar belakang dan situasi yang sedang dihadapi,” ujarnya, Kamis (13/8/2026).
Ia juga menambahkan bahwa masyarakat sering kali terlalu cepat memberikan penilaian tanpa memahami kondisi psikologis seseorang secara menyeluruh. Menurutnya, hal ini dapat memicu kesalahpahaman dalam hubungan sosial.
“Yang perlu diwaspadai adalah pola yang berulang dan sengaja digunakan untuk memanipulasi orang lain. Bukan sekadar ekspresi emosi sesaat,” tambahnya.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.
- alasan orang berpura-pura
- cara menghadapi orang manipulatif
- ciri hubungan tidak sehat
- ciri orang berpura-pura sedih
- ciri orang gemar akting
- ciri orang manipulatif
- ciri-ciri orang suka berpura-pura
- orang yang suka berpura-pura
- perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari
- psikologi berpura-pura
- psikologi orang suka mencari perhatian
- tanda manipulasi emosional

Tinggalkan Balasan