Queensha.id – Edukasi Sosial,
Di tengah arus modernisasi dan mobilitas tinggi masyarakat, sebuah fenomena sosial yang dikenal dalam budaya Jawa sebagai kepaten obor kian nyata terjadi. Istilah ini menggambarkan terputusnya hubungan silaturahmi, komunikasi, hingga jejak silsilah keluarga yang perlahan menghilang seiring waktu.
Secara filosofis, kepaten obor dimaknai sebagai padamnya “cahaya” yang menerangi asal-usul keluarga. Ketika obor itu padam, generasi penerus kehilangan arah yaitu tak lagi mengenal siapa saudara, dari mana asal garis keturunannya, bahkan kehilangan identitas kultural yang selama ini dijaga turun-temurun.
Fenomena ini bukan sekadar istilah, melainkan realitas yang kini banyak terjadi di tengah masyarakat. Salah satu gambaran nyata terlihat dari kisah keluarga besar yang berawal dari empat sosok: Abidin Rahmat, Yuliana Sari, Darmawan, dan Ayu Saswati.
Keempatnya memiliki anak hingga cucu dalam jumlah besar. Abidin Rahmat memiliki empat anak yang masing-masing memiliki dua hingga empat anak. Yuliana Sari memiliki tiga anak dengan masing-masing dua sampai tiga anak.
Darmawan memiliki dua anak dengan keturunan dua hingga tiga anak. Sementara Ayu Saswati memiliki empat anak dengan masing-masing dua hingga tiga anak.
Namun, setelah keempat tokoh tersebut meninggal dunia, hubungan antar keturunan perlahan terputus. Tidak ada lagi pertemuan keluarga, komunikasi pun terhenti. Bahkan, generasi cucu tidak lagi saling mengenal satu sama lain.
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai fenomena ini terjadi karena hilangnya figur sentral dalam keluarga.
“Dalam banyak keluarga besar, biasanya ada satu atau dua orang yang menjadi pengikat. Ketika mereka meninggal dunia dan tidak ada yang melanjutkan peran itu, maka hubungan antar anggota keluarga perlahan memudar hingga akhirnya terputus,” ujarnya, Rabu (25/3).
Menurutnya, kepaten obor tidak hanya berdampak pada hubungan sosial, tetapi juga pada identitas generasi berikutnya.
“Anak cucu akhirnya tidak tahu asal-usulnya, tidak mengenal saudara sendiri. Ini bukan sekadar soal silaturahmi, tapi juga menyangkut jati diri,” tambahnya.
Fenomena ini semakin diperparah oleh gaya hidup modern yang cenderung individualistis. Urbanisasi, kesibukan kerja, serta minimnya tradisi kumpul keluarga membuat hubungan kekerabatan semakin renggang.
Padahal, lanjut Purnomo, menjaga silaturahmi keluarga besar bisa dimulai dari hal sederhana, seperti membuat forum komunikasi keluarga, mengadakan pertemuan rutin, hingga mendokumentasikan silsilah keluarga secara tertulis maupun digital.
“Keluarga itu seperti jaringan. Kalau tidak dirawat, akan putus. Dan ketika sudah putus, menyambungkannya kembali tidak mudah,” tegasnya.
Fenomena kepaten obor menjadi pengingat bahwa menjaga hubungan keluarga bukan sekadar tradisi, melainkan kebutuhan sosial yang mendasar. Tanpa itu, generasi mendatang berisiko tumbuh tanpa mengenal akar mereka sendiri.
Di tengah perubahan zaman, menjaga “nyala obor” keluarga menjadi tanggung jawab bersama yaitu agar silsilah tidak sekadar tercatat, tetapi juga hidup dalam hubungan yang nyata.
***

Tinggalkan Balasan