Queensha.id – Jepara,
Di balik semarak tradisi Lomban Jepara yang setiap tahun digelar pada 8 Syawal, tersimpan kisah sunyi penuh makna. Bukan sekadar pesta laut, Lomban adalah ritus sakral yang menyatukan budaya, doa, dan harapan nelayan. Di sanalah peran Agus Mardiko menjadi bagian penting yang jarang tersorot.
Pria 53 tahun asal Kelurahan Ujungbatu, kecamatan Jepara kota, kabupaten Jepara itu bukan sekadar pembuat miniatur perahu. Ia adalah penjaga tradisi, perawat doa, dan penerus laku spiritual yang telah diwariskan lintas generasi.
Lomban yakni Lebih dari Sekadar Tradisi
Tradisi Lomban bukan hanya perayaan budaya tahunan, melainkan sebuah ritus yang sarat nilai simbolik. Prosesi larungan kepala kerbau dan berbagai sesaji mencerminkan rasa syukur masyarakat nelayan kepada Sang Pencipta, sekaligus permohonan keselamatan dan kelimpahan rezeki.
Sejak tahun 2020, Lomban resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dengan nomor registrasi 202001135, memperkuat posisinya sebagai identitas kultural masyarakat Jepara.
Catatan sejarah bahkan menunjukkan bahwa tradisi ini telah berlangsung sejak abad ke-19, sebagaimana tertulis dalam jurnal Hindia Belanda tahun 1868 berjudul Het Loemban Feest Te Japara.
Perahu Kecil, Makna Besar
Dalam prosesi larungan, perahu kecil yang membawa sesaji bukanlah benda biasa. Perahu itu menjadi simbol perjalanan doa, harapan, dan penyerahan diri kepada Tuhan.
Agus Mardiko mengungkapkan, pembuatan perahu tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada laku spiritual yang harus dijalani, termasuk puasa selama tiga hari untuk menyucikan niat.
“Bahan utamanya juga khusus, harus dari kain putih, bambu apus, dan batang pisang raja,” ujarnya, Kamis (26/3).
Mandat membuat perahu ini ia terima sejak 2005 dari almarhum H. Zaenal Arifin, mantan Kepala Desa Ujungbatu. Sejak itu, ia setia menjalankan amanah tersebut setiap tahun.
Doa yang Tak Diucap Sembarangan
Meski enggan mengungkapkan secara rinci doa yang dibacakan, Agus menjelaskan bahwa inti dari ritual tersebut adalah permohonan kepada Allah agar nelayan Jepara diberi rezeki melimpah dan dijauhkan dari mara bahaya.
Ia menyebut istilah Jawa seperti kalis ing sambikala (terhindar dari bahaya) serta harapan agar Jepara senantiasa tentrem raharja.
“Ini bukan sekadar tradisi. Ini tentang membuang keburukan dan memohon perlindungan atas ridlo Allah,” tegasnya.
Simbol “Joyo Samudro”
Tahun ini, perahu yang dibuat berukuran sekitar 90 cm x 3,5 meter, dengan ornamen merah putih di lambungnya. Di sana tertulis kalimat “Joyo Samudro” merupakan sebuah doa yang berarti kejayaan laut Jepara.
Perahu tersebut nantinya akan dilarung bersama 25 jenis sesaji di perairan sekitar Pulau Bokor, sebagai puncak dari rangkaian ritual Lomban.
Menjaga Tradisi, Menjaga Makna
Di tengah modernisasi, peran sosok seperti Agus Mardiko menjadi krusial. Ia bukan hanya membuat perahu, tetapi juga menjaga ruh dari tradisi itu sendiri.
Lomban mungkin terlihat meriah di permukaan.
Namun di balik itu, ada doa-doa yang dipanjatkan dalam diam, ada laku yang dijalani dengan khidmat, dan ada harapan yang dititipkan pada ombak laut.
Dan dari tangan Agus Mardiko, perahu kecil itu terus berlayar yang membawa doa masyarakat Jepara menuju langit.
***
Hadepe/SB.
(Redaksi Queensha.id | Jepara, 26 Maret 2026)

Tinggalkan Balasan