Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang tentu membutuhkan bantuan dari orang lain. Tolong-menolong merupakan nilai sosial yang harus dijaga. Namun, masyarakat juga perlu memahami bahwa ada sebagian orang yang menjalin hubungan bukan karena rasa saling menghargai, melainkan untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Perlu diingat, tidak semua orang yang menunjukkan salah satu ciri di bawah ini pasti manipulatif. Perilaku seseorang harus dilihat secara menyeluruh dan berulang dalam berbagai situasi. Meski begitu, mengenali pola-pola berikut dapat membantu seseorang menjaga batasan yang sehat dalam hubungan pertemanan, keluarga, maupun pekerjaan.

 

1. Datang Hanya Saat Membutuhkan Bantuan

Salah satu tanda yang paling sering ditemukan adalah seseorang hanya menghubungi ketika membutuhkan uang, tenaga, koneksi, atau bantuan tertentu.

Ketika kebutuhannya telah terpenuhi, komunikasi kembali menghilang. Hubungan menjadi terasa satu arah karena ia jarang hadir ketika orang lain membutuhkan dukungan.

 

2. Sering Mengucapkan Omongan Manis untuk Meluluhkan Hati

Orang yang ingin memperoleh keuntungan kadang menggunakan pujian secara berlebihan.

Contohnya:

  • “Cuma kamu yang bisa bantu saya.”
  • “Kamu orang paling baik yang pernah saya kenal.”
  • “Saya percaya penuh sama kamu.”

Pujian memang bisa tulus, tetapi jika selalu muncul menjelang permintaan bantuan dan berulang sebagai pola, ada baiknya tetap bersikap hati-hati.

 

3. Sering Membuat Orang Lain Merasa Bersalah

Sebagian orang berusaha mendapatkan keinginannya dengan membuat orang lain merasa tidak enak hati.

Misalnya:

  • “Kalau kamu teman sejati, pasti mau membantu.”
  • “Masa hal sekecil ini saja tidak bisa?”
  • “Saya sudah menganggap kamu keluarga.”

Cara seperti ini dapat menekan orang lain agar mengabulkan permintaannya, bukan karena rela, melainkan karena merasa bersalah.

 

4. Janji Besar, Bukti Kecil

Mereka sering menjanjikan berbagai hal, seperti akan membalas budi, mengembalikan uang, atau membantu di kemudian hari.

Namun ketika waktunya tiba, janji tersebut sering tidak ditepati atau selalu ditunda dengan berbagai alasan.

 

5. Selalu Mengutamakan Kepentingan Sendiri

Dalam setiap keputusan, yang menjadi prioritas adalah keuntungan pribadinya.

Ia kurang mempertimbangkan dampak terhadap orang lain dan lebih fokus pada apa yang bisa diperoleh dari suatu hubungan.

 

6. Sulit Ditemui Setelah Keinginannya Tercapai

Setelah memperoleh bantuan, komunikasi menjadi jarang.

Telepon tidak diangkat, pesan lama dibalas, atau bahkan menghilang tanpa kabar hingga suatu saat membutuhkan bantuan lagi.

 

7. Pandai Beradaptasi dengan Korban yang Berbeda

Orang yang gemar memanfaatkan sering mampu menyesuaikan cara berbicara dengan lawan bicaranya.

Kepada orang yang religius ia berbicara soal nilai-nilai agama, kepada pebisnis ia berbicara soal keuntungan, dan kepada teman dekat ia mengandalkan kedekatan emosional.

Kemampuan beradaptasi ini tidak selalu buruk, tetapi bila digunakan semata-mata untuk mengambil keuntungan, hubungan menjadi tidak sehat.

 

8. Jarang Bersedia Membantu Balik

Hubungan yang sehat dibangun atas dasar saling memberi dan menerima.

Jika seseorang terus meminta bantuan tetapi hampir tidak pernah bersedia membantu ketika diminta, hubungan tersebut patut dievaluasi.

 

9. Menghindari Tanggung Jawab

Ketika terjadi masalah, ia cenderung menyalahkan keadaan atau orang lain.

Kesalahan pribadi jarang diakui, sedangkan keberhasilan selalu diklaim sebagai hasil usahanya sendiri.

 

10. Hubungan Selalu Dinilai dari Manfaat

Bagi orang yang suka memanfaatkan, hubungan sering dipandang sebagai sarana mencapai tujuan.

Ia lebih memilih mendekati orang yang memiliki jabatan, uang, koneksi, atau pengaruh, lalu menjaga kedekatan selama masih ada manfaat yang bisa diperoleh.

 

Mengapa Orang Bisa Bersikap Seperti Ini?

Menurut para psikolog, perilaku memanfaatkan orang lain dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pola asuh, pengalaman hidup, kebiasaan yang terbentuk, hingga cara seseorang memandang hubungan sosial. Karena penyebabnya beragam, tidak tepat untuk langsung memberi label negatif kepada seseorang hanya dari satu atau dua tindakan. Yang lebih penting adalah memperhatikan pola perilaku yang konsisten dari waktu ke waktu.

 

Cara Melindungi Diri

Agar tidak mudah dimanfaatkan, masyarakat dapat menerapkan beberapa langkah berikut:

  • Berani mengatakan “tidak” terhadap permintaan yang memberatkan.
  • Jangan mudah percaya hanya karena pujian atau rayuan.
  • Pisahkan rasa iba dengan keputusan yang menyangkut uang atau tanggung jawab.
  • Buat kesepakatan yang jelas jika melibatkan pinjaman atau kerja sama.
  • Nilai seseorang dari tindakan yang konsisten, bukan hanya dari kata-katanya.
  • Bangun hubungan yang didasarkan pada rasa saling menghormati dan saling membantu.

 

 

Menjadi pribadi yang suka menolong merupakan sikap yang terpuji. Namun, kebaikan juga perlu disertai kebijaksanaan. Mengenali pola perilaku orang yang cenderung memanfaatkan orang lain bukan bertujuan untuk menumbuhkan rasa curiga, melainkan agar masyarakat mampu menjaga batasan yang sehat, mengambil keputusan dengan lebih bijak, dan membangun hubungan yang saling menghargai, jujur, serta bertanggung jawab.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.