Queensha.id – Edukasi Sosial,
Istilah playboy sudah lama dikenal masyarakat sebagai sebutan bagi pria yang gemar menjalin hubungan dengan lebih dari satu perempuan atau sering berganti pasangan tanpa komitmen yang jelas. Dalam praktiknya, perilaku seperti ini kerap menimbulkan kekecewaan, konflik, hingga trauma emosional bagi pihak yang merasa dipermainkan.
Meski demikian, para ahli psikologi mengingatkan bahwa seseorang tidak bisa langsung diberi label playboy hanya karena memiliki banyak teman perempuan atau mudah bergaul. Penilaian harus didasarkan pada pola perilaku yang berulang, konsisten, dan berdampak negatif terhadap pasangan.
Berikut sejumlah ciri yang kerap ditemukan pada pria dengan kecenderungan tersebut.
1. Terlalu Cepat Memberikan Perhatian Berlebihan
Pada awal perkenalan, pria seperti ini biasanya sangat romantis, mudah memuji, dan membuat lawan jenis merasa menjadi sosok paling istimewa.
Tujuan yang sering muncul: membangun kedekatan emosional secepat mungkin agar lebih mudah mendapatkan kepercayaan.
2. Sulit Diajak Berkomitmen
Saat hubungan mulai mengarah ke masa depan, ia cenderung menghindari pembicaraan mengenai status, pernikahan, atau tanggung jawab.
Tujuannya: mempertahankan kebebasan sehingga masih dapat menjalin hubungan dengan orang lain.
3. Sering Menghilang Tanpa Penjelasan
Komunikasi bisa sangat intens selama beberapa hari, kemudian tiba-tiba berhenti tanpa alasan yang jelas.
Tujuannya: menjaga jarak ketika perhatian sedang dialihkan kepada orang lain atau ketika merasa bosan.
4. Memiliki Banyak Alasan dan Cerita yang Berbeda
Ucapan yang disampaikan kepada satu orang sering kali berbeda dengan cerita kepada orang lainnya.
Tujuannya: menutupi hubungan lain atau menghindari terbongkarnya kebohongan.
5. Gemar Merayu Banyak Perempuan
Tidak hanya kepada pasangan, ia juga sering melontarkan pujian atau rayuan kepada perempuan lain, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
Tujuannya: memperoleh perhatian dan kepuasan dari banyak orang sekaligus.
6. Menjaga Kehidupan Pribadi Secara Berlebihan
Ia enggan memperkenalkan pasangan kepada keluarga atau sahabat dekat serta selalu merahasiakan aktivitas tertentu.
Tujuannya: menghindari kemungkinan hubungan gandanya diketahui.
7. Janji Besar, Bukti Minim
Ucapan seperti ingin menikah, setia selamanya, atau membangun masa depan bersama sering disampaikan, tetapi tidak diikuti tindakan nyata.
Tujuannya: mempertahankan hubungan melalui harapan tanpa menunjukkan komitmen yang sesungguhnya.
8. Aktif Mencari Kenalan Baru
Ia senang berkenalan dengan banyak perempuan melalui media sosial maupun lingkungan baru meski sudah memiliki pasangan.
Tujuannya: memperluas peluang menjalin hubungan baru.
9. Sulit Mengakui Kesalahan
Ketika ketahuan berbohong, ia lebih sering menyalahkan keadaan, pasangan, atau orang lain daripada mengakui perbuatannya.
Tujuannya: menghindari tanggung jawab dan mempertahankan citra di hadapan pasangan.
10. Hubungan Selalu Berakhir dengan Pola yang Sama
Mantan pasangan memiliki cerita yang hampir serupa, yakni merasa dibohongi, tidak dihargai, atau dipermainkan.
Tujuannya: bukan tujuan yang disengaja, tetapi menunjukkan pola hubungan yang tidak sehat dan terus berulang.
Dampak bagi Korban
Perilaku playboy dapat menimbulkan berbagai dampak psikologis, seperti hilangnya rasa percaya kepada pasangan, stres, kecemasan, rendah diri, hingga trauma untuk menjalin hubungan baru. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih berhati-hati dan tidak mudah terpikat hanya oleh kata-kata manis.
Cara Menyikapi
Psikolog menyarankan agar seseorang mengenali pasangan melalui proses yang cukup, memperhatikan kesesuaian antara ucapan dan tindakan, membangun komunikasi yang terbuka, serta tidak ragu mengakhiri hubungan apabila menemukan kebohongan dan manipulasi yang terus berulang.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat tidak hanya dibangun dengan rayuan atau perhatian sesaat, tetapi juga melalui kejujuran, kesetiaan, rasa saling menghormati, serta komitmen untuk bertumbuh bersama. Masyarakat juga diingatkan untuk tidak mudah memberi cap “playboy” kepada seseorang hanya berdasarkan kesan awal, melainkan melihat perilaku secara objektif dan menyeluruh.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan