Queensha.id – Edukasi Sosial,
Perdebatan mengenai boleh atau tidaknya memeriksa telepon genggam (HP) pasangan kembali menjadi perbincangan di media sosial. Sebagian orang berpendapat bahwa setelah menikah tidak ada lagi yang disebut privasi, sehingga pasangan berhak mengetahui isi ponsel maupun akun media sosial satu sama lain.
Di sisi lain, tidak sedikit yang menilai bahwa rasa saling percaya jauh lebih penting daripada memeriksa isi HP pasangan.
Banyak warganet beranggapan, semakin sering seseorang mencari tahu isi ponsel pasangannya, semakin besar pula rasa curiga yang muncul. Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu pertengkaran, kesalahpahaman, hingga merusak keharmonisan rumah tangga.
Pandangan tersebut biasanya didasari keyakinan bahwa hubungan yang sehat dibangun atas dasar kepercayaan. Selama pasangan menunjukkan komitmen dan kesetiaan, tidak ada alasan untuk terus-menerus mencurigainya.
Namun, bagaimana pandangan psikologi?
Menurut psikolog keluarga Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si. (Nina), kepercayaan merupakan fondasi utama dalam hubungan suami istri. Meski demikian, kepercayaan bukan berarti mengabaikan komunikasi maupun menghilangkan batasan pribadi.
Dalam berbagai kesempatan edukasi, Anna Surti Ariani menjelaskan bahwa pasangan perlu membangun keterbukaan, komunikasi yang jujur, serta saling menghormati ruang pribadi. Pernikahan bukan berarti salah satu pihak bebas melanggar privasi pasangannya tanpa adanya kesepakatan bersama.
Menurutnya, memeriksa HP pasangan secara diam-diam justru dapat menjadi tanda adanya masalah kepercayaan yang perlu diselesaikan melalui komunikasi, bukan dengan pengawasan berlebihan.
Psikologi juga memandang bahwa transparansi dalam rumah tangga memang penting, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan keuangan, keluarga, maupun komunikasi yang berpotensi memengaruhi hubungan. Namun, transparansi akan lebih sehat jika dilakukan atas dasar kesepakatan, bukan paksaan.
Para pakar hubungan juga mengingatkan bahwa apabila muncul perubahan perilaku pasangan yang menimbulkan kekhawatiran, langkah terbaik adalah berdialog secara terbuka. Sikap saling mendengarkan dan mencari solusi bersama dinilai jauh lebih efektif dibandingkan diam-diam memeriksa ponsel.
Pada akhirnya, setiap pasangan memiliki aturan yang berbeda dalam rumah tangga. Ada yang saling mengetahui kata sandi ponsel, ada pula yang memilih tetap menjaga ruang pribadi masing-masing. Selama keputusan tersebut disepakati bersama dan tidak disalahgunakan untuk menyembunyikan perselingkuhan atau perilaku yang merusak kepercayaan, hubungan tetap dapat berjalan dengan sehat.
Kepercayaan, keterbukaan, dan komunikasi yang baik merupakan tiga pilar utama dalam membangun pernikahan yang harmonis. Dengan ketiganya, pasangan dapat menghadapi berbagai tantangan tanpa harus terjebak dalam rasa curiga yang berlebihan.
***
Sumber: Queensha Jepara.

Tinggalkan Balasan