Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Keharmonisan rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh rasa cinta, tetapi juga oleh kemampuan suami dan istri untuk saling mendengar, menerima masukan, serta mengakui kesalahan ketika memang melakukan kekeliruan.

Dalam praktiknya, baik suami maupun istri dapat memiliki sikap defensif atau sulit menerima kritik. Psikolog di Indonesia umumnya menjelaskan bahwa perilaku tersebut sering dipengaruhi oleh pola asuh, pengalaman hidup, kemampuan mengelola emosi, rasa takut disalahkan, atau komunikasi yang kurang sehat. Karena itu, persoalan ini sebaiknya dipahami sebagai masalah perilaku yang dapat diperbaiki, bukan sebagai sifat bawaan yang tidak bisa diubah.

Berikut 10 ciri yang dapat muncul pada seseorang yang sulit menerima nasihat, beserta solusi yang dapat dilakukan.

 

1. Selalu Merasa Pendapatnya Paling Benar

Orang dengan sikap ini cenderung sulit mempertimbangkan sudut pandang pasangannya.

Solusi: Biasakan berdiskusi dengan tenang, saling mendengarkan, dan fokus mencari solusi, bukan menentukan siapa yang menang.

 

2. Sulit Mengakui Kesalahan

Meski sudah mengetahui kekeliruannya, ia tetap enggan meminta maaf karena khawatir dianggap kalah.

Solusi: Bangun budaya saling meminta maaf dalam keluarga. Mengakui kesalahan adalah tanda kedewasaan, bukan kelemahan.

 

3. Mudah Tersinggung Saat Diberi Masukan

Nasihat sering dianggap sebagai serangan pribadi sehingga memicu emosi.

Solusi: Sampaikan masukan dengan bahasa yang lembut, waktu yang tepat, dan tanpa merendahkan pasangan.

 

4. Sering Membalas dengan Menyalahkan Pasangan

Ketika dikritik, pembicaraan justru dialihkan pada kesalahan orang lain.

Solusi: Bahas satu persoalan dalam satu waktu dan hindari membuka kesalahan lama yang tidak berkaitan.

 

5. Sulit Mengendalikan Emosi

Perdebatan kecil dapat berubah menjadi pertengkaran besar.

Solusi: Jika emosi meningkat, beri waktu untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan pembicaraan.

 

6. Tidak Mau Mendengarkan Sampai Selesai

Pasangan dipotong pembicaraannya sehingga inti masalah tidak tersampaikan.

Solusi: Terapkan kebiasaan mendengar sampai selesai sebelum memberikan tanggapan.

 

7. Enggan Introspeksi

Lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada mengevaluasi diri sendiri.

Solusi: Luangkan waktu untuk refleksi diri dan saling mengevaluasi hubungan secara berkala.

 

8. Mengulang Kesalahan yang Sama

Karena tidak mau menerima masukan, kesalahan yang sama terus terjadi.

Solusi: Sepakati perubahan yang nyata dan saling mengingatkan dengan cara yang baik.

 

9. Menolak Saran dari Orang Terdekat

Nasihat dari pasangan, keluarga, atau sahabat sering diabaikan.

Solusi: Jika diperlukan, mintalah bantuan pihak ketiga yang netral, seperti konselor atau psikolog.

 

10. Hubungan Menjadi Kurang Harmonis

Sikap keras mempertahankan pendapat dapat membuat komunikasi memburuk dan mengurangi kehangatan dalam rumah tangga.

Solusi: Jadikan komunikasi, rasa saling menghargai, dan empati sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Pandangan Psikologi

Sejumlah pakar psikologi di Indonesia menjelaskan bahwa sikap defensif dalam hubungan sering muncul karena seseorang merasa harga dirinya terancam atau takut disalahkan. Oleh sebab itu, penyelesaiannya bukan dengan mempermalukan pasangan, melainkan membangun komunikasi yang aman, terbuka, dan saling menghormati.

Psikologi juga menekankan bahwa perubahan perilaku akan lebih mudah terjadi ketika kedua pasangan sama-sama bersedia belajar, mengendalikan emosi, menerima kritik secara sehat, dan menghargai perbedaan.

Pada akhirnya, rumah tangga yang harmonis tidak ditentukan oleh siapa yang selalu benar. Keharmonisan dibangun ketika suami dan istri sama-sama mau mendengar, mengakui kesalahan jika memang keliru, saling memaafkan, dan bersama-sama mencari jalan keluar terbaik demi keutuhan keluarga.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.