Queensha.id – Edukasi Islam,
Zina merupakan salah satu dosa besar dalam Islam. Perbuatan ini tidak hanya merusak kehormatan diri, tetapi juga dapat membawa dampak buruk bagi keluarga, masyarakat, dan kehidupan spiritual seseorang.
Meski demikian, Islam adalah agama yang penuh kasih sayang dan tidak menutup pintu harapan bagi siapa pun yang ingin kembali kepada Allah SWT. Selama seseorang masih hidup dan belum mencapai sakaratul maut, pintu taubat tetap terbuka apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosanya. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.”
(QS. Ali Imran: 135)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa sebesar apa pun dosa seseorang, termasuk zina, Allah tetap membuka jalan ampunan bagi hamba yang benar-benar menyesal dan berhenti dari perbuatannya.
1. Zina Adalah Dosa Besar, Tetapi Bukan Berarti Tidak Bisa Diampuni
Dalam pandangan para ulama, zina termasuk dosa besar. Namun, dosa besar bukan berarti pelakunya tidak memiliki kesempatan memperoleh ampunan Allah.
Selama pelaku benar-benar bertaubat sebelum ajal tiba, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
2. Apa Itu Taubat Nasuha?
Ulama Indonesia seperti Prof. Dr. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa taubat yang benar (taubat nasuha) bukan sekadar mengucapkan istighfar, melainkan perubahan hati dan perilaku menuju ketaatan kepada Allah.
Taubat nasuha memiliki beberapa syarat utama:
- Menyesali dosa dengan sungguh-sungguh.
- Segera menghentikan perbuatan maksiat.
- Bertekad kuat tidak mengulanginya lagi.
- Memperbanyak amal saleh.
- Jika dosa berkaitan dengan hak orang lain, menyelesaikan hak tersebut sesuai syariat.
3. Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah
Sering kali seseorang merasa dosanya terlalu besar sehingga malu untuk kembali kepada Allah.
Padahal Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat Allah.”
(QS. Hud: 114)
Ayat ini menjadi motivasi agar seorang muslim memperbanyak ibadah, sedekah, membaca Al-Qur’an, berbuat baik kepada sesama, dan menjaga salat sebagai bagian dari proses memperbaiki diri.
4. Jangan Terus Tenggelam dalam Rasa Bersalah
Penyesalan adalah bagian dari taubat. Namun, terus-menerus larut dalam rasa putus asa justru dapat menghalangi seseorang untuk bangkit.
Islam mengajarkan agar seseorang mengambil pelajaran dari masa lalu, kemudian memperbaiki masa kini dan masa depan.
5. Allah Mencintai Orang yang Bertaubat
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 222)
Ayat ini menunjukkan bahwa taubat yang tulus bukan hanya diampuni, tetapi juga dicintai oleh Allah SWT.
6. Jangan Pedulikan Cemoohan Manusia
Seseorang yang telah bertaubat mungkin masih mendapatkan cibiran atau hinaan dari orang lain.
Namun, yang paling penting adalah penilaian Allah, bukan penilaian manusia. Islam melarang membuka atau mengumbar dosa yang telah ditutupi Allah, dan mendorong setiap muslim untuk menjaga kehormatan diri serta tidak menghakimi orang yang telah bertaubat.
7. Perbanyak Amal Saleh Setelah Bertaubat
Taubat hendaknya dibuktikan dengan perubahan nyata, seperti:
- Menjaga salat lima waktu.
- Memperbanyak istighfar dan zikir.
- Membaca Al-Qur’an setiap hari.
- Menjauhi lingkungan yang mengajak kepada maksiat.
- Menutup aurat sesuai syariat.
- Berpuasa sunnah.
- Bersedekah.
- Menikah secara halal apabila telah mampu.
Pandangan Ulama Indonesia
Prof. Dr. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa rahmat Allah jauh lebih luas daripada dosa manusia. Karena itu, seorang muslim tidak boleh berputus asa selama masih mau kembali kepada Allah dengan taubat yang tulus.
Sementara itu, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dalam berbagai kajiannya juga sering mengingatkan bahwa seorang pendosa tidak boleh putus asa dari rahmat Allah. Namun, harapan akan ampunan harus disertai usaha sungguh-sungguh untuk meninggalkan maksiat dan memperbaiki diri, bukan menjadikan rahmat Allah sebagai alasan untuk terus berbuat dosa.
Jadi, taubat adalah kesempatan yang Allah berikan kepada setiap hamba. Seberat apa pun dosa yang pernah dilakukan, termasuk zina, pintu ampunan tetap terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan taubat dilakukan dengan ikhlas serta memenuhi syarat-syaratnya.
Seorang muslim tidak dianjurkan terus hidup dalam bayang-bayang dosa masa lalu. Yang lebih penting adalah menjadikan penyesalan sebagai awal perubahan menuju kehidupan yang lebih dekat kepada Allah SWT. Dengan memperbanyak ibadah, meninggalkan maksiat, serta menjaga keistiqamahan, seorang hamba dapat berharap memperoleh ampunan, rahmat, dan kasih sayang Allah Yang Maha Pengampun.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan