Queensha.id – Edukasi Sosial & Kesehatan,

 

Di tengah masyarakat masih beredar anggapan bahwa wajah anak ditentukan oleh siapa yang lebih kuat syahwatnya atau siapa yang lebih dahulu mencapai orgasme saat berhubungan intim. Sebagian mengaitkannya dengan hadis Nabi Muhammad SAW, sementara sebagian lainnya mempertanyakannya dari sisi ilmu kedokteran.

Lalu, bagaimana sebenarnya penjelasan menurut Islam dan ilmu medis modern?

Perlu dipahami bahwa hadis-hadis sahih memang membahas kemiripan anak dengan orang tuanya. Namun, dokter spesialis obstetri dan ginekologi (Sp.OG) menjelaskan bahwa kemiripan wajah bayi secara ilmiah ditentukan oleh faktor genetik atau DNA yang diwariskan dari ayah dan ibu, bukan semata-mata urutan orgasme saat hubungan intim.

 

1. Jika syahwat suami lebih kuat, apakah anak lebih mirip ayah?

Dalam sebagian penjelasan ulama terhadap hadis disebutkan bahwa apabila “air” laki-laki lebih dominan, maka kemiripan anak dapat lebih condong kepada ayahnya. Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim.

Menurut dokter kandungan:

Ilmu kedokteran menjelaskan bahwa setiap anak menerima sekitar 50 persen DNA dari ayah dan 50 persen dari ibu. Wajah, warna kulit, bentuk mata, rambut, hingga postur tubuh dipengaruhi kombinasi ribuan gen, bukan hanya satu faktor.

2. Jika syahwat istri lebih kuat, apakah anak lebih mirip ibu?

Dalam hadis juga disebutkan bahwa apabila unsur dari perempuan lebih dominan, maka anak bisa lebih menyerupai ibunya.

Pandangan medis

Dokter menjelaskan bahwa gen ibu memang dapat lebih dominan pada ciri tertentu, misalnya bentuk wajah, warna kulit, atau karakter fisik tertentu. Namun hal tersebut terjadi karena mekanisme genetika, bukan karena tingkat syahwat saat berhubungan intim.

3. Jika syahwat keduanya sama kuat, apakah anak mirip keduanya?

Banyak orang meyakini anak akan menjadi perpaduan ayah dan ibu.

Secara medis

Hal ini justru paling sering terjadi. Anak dapat memiliki mata ayah, hidung ibu, dagu kakek, hingga senyum nenek karena kombinasi gen dari berbagai anggota keluarga.

4. Jika mani suami keluar lebih dahulu, apakah anak mirip paman dari ayah?

Sebagian riwayat menyebut kemungkinan kemiripan dengan keluarga pihak ayah.

Penjelasan dokter

Dalam genetika dikenal adanya pewarisan sifat dari leluhur. Karena itu seorang anak memang dapat lebih mirip paman, bibi, kakek, atau nenek akibat gen yang diwariskan lintas generasi.

5. Jika mani istri keluar lebih dahulu, apakah anak mirip paman dari ibu?

Riwayat lain menyebut kemungkinan kemiripan kepada keluarga dari pihak ibu.

Penjelasan medis

Fenomena ini juga dapat dijelaskan melalui genetika. Gen yang sebelumnya “tersembunyi” dapat muncul kembali pada keturunan sehingga anak tampak lebih mirip keluarga ibu.

6. Apa faktor utama yang menentukan wajah bayi?

Dokter spesialis kandungan menjelaskan beberapa faktor utama:

  • Kombinasi DNA ayah dan ibu.
  • Gen dominan dan gen resesif.
  • Variasi kromosom saat pembuahan.
  • Pewarisan sifat dari kakek dan nenek.
  • Mutasi gen yang terjadi secara alami.

7. Mengapa saudara kandung bisa berbeda wajah?

Meski lahir dari orang tua yang sama, setiap anak memperoleh kombinasi gen yang berbeda sehingga wajah kakak dan adik sering kali tidak identik.

8. Apakah makanan ibu hamil memengaruhi wajah bayi?

Tidak.

Nutrisi ibu hamil sangat penting untuk pertumbuhan organ dan kesehatan janin, tetapi tidak mengubah bentuk wajah yang sudah ditentukan oleh genetik.

9. Apakah posisi berhubungan intim memengaruhi wajah bayi?

Hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa posisi hubungan intim dapat menentukan wajah, warna kulit, atau kemiripan bayi.

10. Kesimpulan dokter spesialis obstetri dan ginekologi

Menurut ilmu kedokteran modern:

  • Wajah anak ditentukan oleh faktor genetik.
  • DNA berasal dari ayah dan ibu secara bersama-sama.
  • Anak dapat mirip ayah, ibu, atau anggota keluarga lainnya.
  • Tidak ada bukti ilmiah bahwa urutan orgasme saja menentukan wajah bayi.

Pandangan Islam

Dalam Islam, hadis sahih menjelaskan adanya hubungan antara “dominasi” atau “lebih dahulu” dari air laki-laki dan perempuan dengan kemiripan anak. Para ulama menafsirkan hadis tersebut dalam konteks bahasa dan pemahaman pada masa Nabi, sementara ilmu genetika modern menjelaskan bahwa kemiripan fisik merupakan hasil pewarisan gen dari kedua orang tua. Banyak ulama menilai tidak ada pertentangan yang harus dipaksakan antara hadis dan sains, karena hadis bukanlah buku teks biologi, melainkan petunjuk yang disampaikan sesuai pemahaman manusia pada zamannya.

 

Jadi, wajah anak tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan siapa yang lebih dahulu mencapai orgasme atau siapa yang syahwatnya lebih kuat. Secara medis, kemiripan anak merupakan hasil kombinasi genetik dari ayah dan ibu, sedangkan dalam Islam, hadis mengenai kemiripan dipahami sebagai bagian dari petunjuk Nabi yang memiliki ruang penafsiran dan tidak dimaksudkan sebagai penjelasan ilmiah yang rinci tentang genetika modern.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.