Queensha.id – Edukasi Keluarga,
Sebuah curahan hati seorang perempuan di media sosial menyita perhatian warganet. Dalam unggahan akun @curhatanseorangnetizen, ia menceritakan bagaimana dirinya beberapa kali ditinggalkan suami saat terjadi pertengkaran.
Mulai dari diturunkan di pinggir jalan setelah bertengkar, hingga ditinggal berangkat kerja meski telah menyiapkan bekal untuk suaminya. Meski sebelumnya selalu menangis dan marah, kini ia mengaku mulai merasa biasa saja menghadapi perlakuan tersebut.
“Kadang gue bersyukur, masih belum ada anak, masih sehat, masih kerja, orang tua masih lengkap. Tapi kok dia enggak sadar-sadar ya, enggak berubah sejengkal pun. Kayak punya istri kok cuma dimusuhin,” tulisnya.
Unggahan itu memancing ribuan komentar. Banyak yang menyayangkan sikap suami, sementara lainnya mengingatkan pentingnya komunikasi dan evaluasi dalam hubungan pernikahan.
Meninggalkan Pasangan Saat Bertengkar Bukan Solusi
Dalam psikologi hubungan, konflik adalah hal yang wajar dalam rumah tangga. Namun, cara menyelesaikan konflik sangat menentukan kualitas pernikahan.
Meninggalkan pasangan dalam kondisi emosi yang memuncak tanpa komunikasi yang baik dapat menimbulkan rasa ditolak, tidak dihargai, bahkan trauma emosional apabila terjadi berulang kali.
Bila dibiarkan, kebiasaan ini dapat mengikis rasa aman dan kepercayaan dalam hubungan suami istri.
Dampak Psikologis yang Bisa Muncul
Beberapa dampak yang dapat dirasakan pasangan apabila sering diperlakukan demikian antara lain:
- Kehilangan rasa dihargai.
- Muncul stres dan kecemasan.
- Komunikasi menjadi semakin buruk.
- Timbul rasa kesepian meski sudah menikah.
- Kepercayaan kepada pasangan menurun.
- Luka batin yang terus menumpuk.
- Hubungan menjadi dingin dan penuh jarak.
- Berisiko memicu depresi apabila berlangsung lama.
- Konflik kecil menjadi semakin besar.
- Meningkatkan risiko berakhirnya pernikahan apabila tidak segera diperbaiki.
Penyebab Suami Mudah Marah
Tidak semua suami bersikap demikian karena tidak mencintai istrinya. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi antara lain:
- Kesulitan mengendalikan emosi.
- Tekanan pekerjaan.
- Pola asuh masa kecil.
- Kurangnya kemampuan berkomunikasi.
- Ego yang tinggi.
- Tidak terbiasa meminta maaf.
Namun, apa pun penyebabnya, perlakuan yang merendahkan, mengabaikan, atau mempermalukan pasangan tidak dapat dibenarkan.
Cara Menyelesaikan Konflik dengan Sehat
Agar hubungan tetap terjaga, pasangan dapat mencoba beberapa langkah berikut:
- Menenangkan diri sebelum berbicara.
- Menghindari kata-kata kasar dan merendahkan.
- Mendengarkan pasangan tanpa memotong pembicaraan.
- Mengakui kesalahan jika memang keliru.
- Fokus mencari solusi, bukan mencari siapa yang salah.
- Meluangkan waktu berkualitas bersama.
- Bila diperlukan, berkonsultasi dengan konselor pernikahan atau tokoh agama yang dipercaya.
Pandangan Islam
Dalam Islam, suami diperintahkan memperlakukan istri dengan baik. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 19:
“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri) secara patut.”
Rasulullah SAW juga bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling baik kepada keluarganya.
Karena itu, rumah tangga idealnya menjadi tempat berlindung, saling menghormati, saling menguatkan, dan menyelesaikan persoalan melalui musyawarah, bukan dengan kemarahan yang berulang.
Bijak Menyikapi Curahan di Media Sosial
Curahan hati yang viral belum tentu menggambarkan seluruh kondisi rumah tangga seseorang. Masyarakat diimbau tidak terburu-buru menghakimi salah satu pihak hanya berdasarkan satu unggahan.
Yang terpenting adalah menjadikan kisah tersebut sebagai pengingat bahwa komunikasi, saling menghargai, serta kemampuan mengendalikan emosi merupakan fondasi penting dalam membangun keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan