Queensha.id – Demak,

 

Informasi mengenai dugaan banyaknya beras bantuan pangan ukuran 10 kilogram yang dijual kembali oleh warga di Pasar Baru Desa Kedungmutih, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, menjadi perhatian publik setelah beredar sebuah unggahan di media sosial.

Informasi tersebut berasal dari unggahan akun Facebook Pak Muin pada Kamis (24/9/2026). Dalam unggahan tersebut disebutkan bahwa sejumlah warga penerima bantuan pangan diduga memilih menjual kembali beras yang diterimanya kepada pedagang di pasar.

Perlu ditegaskan bahwa informasi tersebut masih berupa dugaan berdasarkan unggahan media sosial dan belum dapat diverifikasi secara independen oleh Queensha.id. Hingga artikel ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Bulog, Dinas Sosial Kabupaten Demak, maupun instansi pemerintah terkait mengenai dugaan tersebut maupun kualitas beras yang dikeluhkan.

Dalam unggahan itu, seorang pedagang yang disebut sebagai Mbak Tun (bukan nama sebenarnya) mengaku kiosnya selalu didatangi warga setiap kali penyaluran bantuan pangan dilakukan.

“Segini untuk hari ini saja ada 40 zak ini, besok pagi pasti ada lagi. Kita beli Rp100 ribu per zak. Ya saya jual lagi ke teman. Dari teman katanya masuk lagi ke gudang,” ujar Mbak Tun sebagaimana dikutip dalam unggahan akun Facebook Pak Muin.

Menurut pengakuannya, dalam satu hari penyaluran bantuan, ia dapat memperoleh sekitar 30 hingga 40 karung beras bantuan.

Beras tersebut disebut dibeli dengan harga sekitar Rp100 ribu per karung ukuran 10 kilogram, kemudian dijual kembali kepada pedagang lain. Dalam unggahan yang sama juga disebutkan ada warga yang menjual beras dengan harga antara Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per karung, sementara sebagian lainnya memilih sistem tukar tambah, yakni menukar tiga karung beras bantuan dengan beras kualitas lebih baik disertai tambahan uang sekitar Rp80 ribu.

 

Keluhan Terhadap Kondisi Beras

Masih berdasarkan informasi yang beredar di media sosial tersebut, sebagian warga mengaku kurang puas terhadap kualitas beras bantuan yang diterima.

Keluhan yang disampaikan antara lain:

  • Butiran beras kecil-kecil seperti menir.
  • Warna beras kekuningan.
  • Mengeluarkan aroma apek.
  • Setelah dimasak nasi tidak pulen.
  • Teksturnya cenderung lembek bahkan disebut menyerupai bubur.

Keluhan tersebut merupakan klaim yang muncul dalam unggahan media sosial dan belum dapat dipastikan mewakili seluruh beras bantuan pangan yang disalurkan pemerintah di berbagai daerah.

 

Mengapa Beras Bisa Berbau Apek?

Secara umum, beras dapat berbau apek karena beberapa faktor, antara lain:

  • Disimpan terlalu lama di gudang.
  • Kelembapan tinggi saat penyimpanan.
  • Ventilasi gudang kurang baik.
  • Karung beras terkena air atau lembap saat distribusi.
  • Kualitas gabah sejak awal kurang baik.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi aroma, warna, dan kualitas nasi setelah dimasak.

 

Mengapa Butiran Beras Kecil?

Beras dengan butiran kecil biasanya disebabkan oleh:

  • Tingginya persentase beras pecah (broken rice).
  • Proses penggilingan.
  • Kualitas gabah yang kurang baik.

Semakin tinggi kadar beras pecah, umumnya kualitas visual dan teksturnya akan berbeda dibanding beras premium.

 

Mengapa Warga Diduga Menjual Beras Bantuan?

Apabila informasi dalam unggahan tersebut benar, terdapat beberapa kemungkinan alasan warga menjual beras bantuan, di antaranya:

  1. Merasa kualitas beras kurang sesuai selera.
  2. Membutuhkan uang tunai untuk kebutuhan lain.
  3. Menukar dengan beras yang dianggap lebih baik.
  4. Sudah memiliki stok beras di rumah.

Namun, alasan tersebut dapat berbeda-beda pada setiap penerima bantuan dan belum dapat digeneralisasi.

 

Perlu Evaluasi dan Klarifikasi

Apabila dugaan tersebut benar terjadi, kondisi ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pihak terkait, mulai dari proses pengadaan, penyimpanan, distribusi hingga pengawasan kualitas beras bantuan pangan.

Di sisi lain, klarifikasi dari Bulog, pemerintah daerah maupun instansi terkait juga diperlukan agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh mengenai kualitas beras bantuan dan dugaan praktik penjualan kembali oleh sebagian penerima manfaat.

Hingga artikel ini diterbitkan, Queensha.id masih menunggu tanggapan resmi dari pihak-pihak terkait guna memenuhi prinsip pemberitaan yang berimbang dan akurat sesuai Kode Etik Jurnalistik.

 

***