Queensha.id – Jepara,
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara terus melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi potensi kekeringan yang dapat berdampak terhadap sektor pertanian. Upaya tersebut dilakukan melalui pembenahan saluran irigasi, pembangunan embung, fasilitasi bendung, hingga pembangunan sumur dalam di sejumlah wilayah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara, Mudhofir, menyampaikan hal tersebut saat melakukan peninjauan Embung Belik Gesing di Desa Bringin, Kecamatan Batealit, Jumat (25/6).
Menurut Mudhofir, ketersediaan air menjadi faktor penting yang harus diperhatikan dalam setiap musim tanam. Terbatasnya pasokan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, termasuk komoditas jagung yang memiliki risiko mengalami kekeringan apabila kebutuhan air tidak terpenuhi.
“Pemkab Jepara berupaya bersama penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan petani agar penggunaan air bisa lebih efisien,” ujar Mudhofir, Jum’at (25/9/2026).
Pengelolaan Air Jadi Kunci Produktivitas Pertanian Jepara
Selain pembangunan infrastruktur sumber air, Pemkab Jepara juga melakukan pendampingan kepada petani melalui penyuluhan. PPL membantu petani menyesuaikan pola tanam dan teknik budidaya dengan kondisi ketersediaan air di masing-masing wilayah.
Pendataan kondisi lahan serta berbagai persoalan yang dihadapi petani menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko tanaman mengalami puso atau gagal panen akibat kekurangan air.
Dari sekitar 21 ribu hektare Lahan Baku Sawah (LBS) di Kabupaten Jepara, sekitar 30 persen masih digunakan untuk menanam padi pada musim tanam ketiga. Kondisi tersebut membuat pengelolaan sumber daya air menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas pertanian.
Beberapa wilayah di Jepara sebelumnya juga pernah mengalami dampak kekeringan, salah satunya Kecamatan Kedung.
Embung Belik Gesing Dukung Pengairan 11 Hektare Lahan Pertanian
Pemkab Jepara terus mendorong pembangunan embung di wilayah yang memiliki potensi sumber air. Salah satunya adalah Embung Belik Gesing di Desa Bringin, Kecamatan Batealit.
Embung tersebut memiliki kapasitas sekitar 500 meter kubik dan mampu mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian seluas kurang lebih 11 hektare.
“Kalau ada sumber air di dekat lahan pertanian, kami minta diinformasikan agar bisa kami fasilitasi,” kata Mudhofir.
Namun, Mudhofir menjelaskan keberadaan embung tetap memiliki keterbatasan. Embung di wilayah dengan sumber air terbatas tetap berpotensi mengalami kekeringan apabila musim kemarau berlangsung cukup panjang.
DKPP Jepara Bangun 30 Sumur Dalam
Sebagai langkah tambahan menghadapi musim kemarau, DKPP Jepara juga membangun 30 titik sumur dalam pada tahun ini.
Dari jumlah tersebut, tiga titik menggunakan tenaga surya untuk mendukung operasional pompa air. Pembangunan tersebut diprioritaskan pada lokasi yang dinilai memiliki manfaat besar bagi kebutuhan pertanian masyarakat.
Keberadaan infrastruktur air tersebut diharapkan mampu membantu petani menjaga keberlangsungan produksi, terutama saat pasokan air mengalami penurunan.
Petani Rasakan Manfaat Embung Belik Gesing
Embung Belik Gesing saat ini telah dimanfaatkan oleh Kelompok Tani Ngudi Karaharjan 1. Pembangunan embung tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian dan pada tahun depan akan dilanjutkan tahap penyelesaian atau finishing.
Ketua Kelompok Tani Ngudi Karaharjan 1, Zainal Sholikin, mengatakan keberadaan embung sangat membantu para petani dalam menjaga ketersediaan air.
Menurutnya, sekitar 20 petani memanfaatkan air embung untuk mengairi tanaman padi, jagung, dan kacang.
“Adanya embung membuat debit air lebih terjamin,” ujarnya.
Dengan berbagai program tersebut, Pemkab Jepara berharap pengelolaan sumber daya air semakin optimal sehingga sektor pertanian tetap produktif dan risiko gagal panen akibat kekeringan dapat diminimalkan.
***
Sumber: Queensha Jepara.

Tinggalkan Balasan