Queensha.id – Edukasi Sosial, 

Perkembangan zaman membawa banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat. Kemajuan teknologi, tuntutan ekonomi, serta perubahan pola pikir membuat sebagian masyarakat mulai lebih fokus pada kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan bersama.

Fenomena individualisme atau sikap yang lebih mengutamakan diri sendiri kini semakin sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut bukan berarti masyarakat kehilangan seluruh rasa kepedulian, tetapi terdapat perubahan cara seseorang melihat hubungan sosial di lingkungan sekitarnya.

Salah satu gambaran yang sering muncul di masyarakat adalah ketika sesuatu diberikan secara gratis, banyak orang dari berbagai kalangan berlomba-lomba mendapatkannya.

Mulai dari masyarakat kurang mampu hingga orang yang secara ekonomi berkecukupan ikut mengambil kesempatan tersebut.

Namun ketika harus membayar dengan harga tertentu, sebagian orang justru berusaha menawar bahkan menghindari kewajiban tersebut.

Di sisi lain, ketika disebut tidak mampu atau miskin, sebagian orang merasa keberatan. Tetapi ketika ditanya mengenai kondisi keuangan, jawabannya sering kali mengaku tidak memiliki uang.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya perubahan pola perilaku sebagian masyarakat dalam melihat keuntungan dan tanggung jawab.

Antara Hak dan Kewajiban yang Mulai Tidak Seimbang

Dalam kehidupan sosial, manusia memiliki hak sekaligus kewajiban. Setiap orang tentu memiliki hak untuk mendapatkan bantuan, fasilitas, atau kesempatan tertentu.

Namun, hak tersebut seharusnya berjalan beriringan dengan kesadaran untuk menjalankan kewajiban.

Permasalahan muncul ketika seseorang hanya ingin menerima, tetapi sulit memberikan.

Contohnya, seseorang berharap mendapatkan bantuan dari lingkungan ketika mengalami kesulitan, tetapi ketika orang lain membutuhkan bantuan, dirinya justru memilih menghindar.

Sikap seperti ini jika terus berkembang dapat melemahkan nilai gotong royong yang selama ini menjadi salah satu karakter masyarakat Indonesia.

Mengapa Orang Mulai Enggan Peduli Terhadap Sesama?

Salah satu contoh yang sering menjadi perhatian adalah ketika terjadi kecelakaan di jalan raya.

Dahulu, masyarakat cenderung spontan membantu korban kecelakaan. Namun saat ini sebagian orang memilih berhenti sebentar, melihat dari kejauhan, bahkan tidak sedikit yang langsung pergi.

Alasan yang muncul beragam, mulai dari takut menjadi saksi, takut ikut terseret masalah hukum, takut dimintai keterangan, hingga merasa tidak ingin mendapatkan kesulitan tambahan.

Padahal, pertolongan sederhana seperti menghubungi petugas, memberikan informasi lokasi kejadian, atau membantu mengamankan korban merupakan bentuk kepedulian sosial.

Menolong Karena Kemanusiaan, Bukan Karena Keuntungan

Fenomena lain yang juga menjadi sorotan adalah ketika seseorang lebih mudah memberikan perhatian jika terdapat keuntungan tertentu.

Misalnya, ketika seseorang mengalami penipuan dengan kerugian besar, banyak pihak yang ikut membantu karena kasus tersebut menarik perhatian.

Namun terkadang bantuan tersebut tidak sepenuhnya didasari rasa kemanusiaan, melainkan ada harapan mendapatkan keuntungan, popularitas, atau imbalan tertentu.

Padahal, nilai utama dalam membantu sesama seharusnya adalah rasa empati dan kepedulian, bukan semata-mata keuntungan pribadi.

Dampak Jika Sikap Individualisme Terus Berkembang

Jika sikap individualisme yang berlebihan terus berkembang, beberapa dampak sosial dapat muncul, antara lain:

1. Menurunnya Rasa Gotong Royong

Masyarakat menjadi semakin sulit bekerja sama karena setiap orang lebih fokus pada kepentingannya sendiri.

2. Berkurangnya Rasa Empati

Orang mulai terbiasa melihat kesulitan orang lain tanpa merasa perlu ikut membantu.

 

3. Lingkungan Sosial Menjadi Kurang Harmonis

Hubungan antar warga dapat menjadi lebih dingin karena interaksi hanya berdasarkan kepentingan.

 

4. Hilangnya Nilai Kebersamaan

Budaya saling membantu yang menjadi ciri masyarakat Indonesia dapat semakin melemah.

Pandangan Pengamat Sosial Jepara Purnomo Wardoyo

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, mengatakan bahwa perubahan perilaku masyarakat tidak bisa dilepaskan dari perkembangan zaman, tekanan ekonomi, serta perubahan cara berpikir manusia modern.

Menurutnya, masyarakat saat ini perlu kembali memperkuat nilai kepedulian sosial agar kehidupan bersama tidak hanya berorientasi pada keuntungan pribadi.

“Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Kemajuan zaman memang membuat seseorang lebih mandiri, tetapi jangan sampai kemandirian berubah menjadi sikap tidak peduli terhadap lingkungan dan sesama,” ujar Purnomo Wardoyo, Minggu (27/9/2026).

Ia menilai budaya gotong royong harus tetap dijaga melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

“Menolong tidak harus selalu dalam bentuk materi. Memberikan waktu, tenaga, informasi, atau sekadar menunjukkan kepedulian juga merupakan bentuk kemanusiaan,” tambahnya.

Kembali Membangun Kepedulian Sosial

Di tengah perubahan zaman, masyarakat perlu menemukan keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama.

Memiliki kehidupan yang lebih baik bukan berarti melupakan orang lain. Sebab, lingkungan yang aman, nyaman, dan harmonis hanya dapat tercipta ketika masyarakat masih memiliki rasa peduli.

Kepedulian sosial tidak harus dimulai dari tindakan besar. Hal kecil seperti membantu tetangga, tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, menghargai orang lain, dan memberikan pertolongan saat mampu dapat menjadi langkah awal menjaga nilai kemanusiaan.

Karena pada akhirnya, kualitas sebuah masyarakat tidak hanya diukur dari kemajuan ekonominya, tetapi juga dari seberapa besar rasa peduli antar manusia di dalamnya.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.