Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Perselingkuhan masih menjadi salah satu penyebab terbesar keretakan rumah tangga. Ketika orang ketiga hadir dalam sebuah hubungan, luka yang ditinggalkan sering kali tidak hanya dirasakan oleh suami atau istri, tetapi juga anak-anak dan keluarga besar.

Di media sosial, berbagai ungkapan mengenai sosok yang disebut “pelakor” atau perebut laki orang kerap menjadi perbincangan. Banyak tulisan yang menggambarkan bagaimana seorang perempuan menikmati hubungan dengan pria yang sebenarnya telah memiliki pasangan sah.

Bagi sebagian orang, hubungan tersebut mungkin terlihat penuh kebahagiaan. Namun di balik itu, sering kali ada air mata pasangan yang dikhianati, rasa kehilangan anak-anak, hingga kehancuran kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun.

 

Perselingkuhan Tidak Terjadi Sendiri

Dalam banyak kasus, perselingkuhan bukan hanya melibatkan orang ketiga. Keputusan untuk mengkhianati pasangan tetap berada di tangan orang yang telah berkomitmen dalam pernikahan.

Artinya, tanggung jawab tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja. Suami atau istri yang memilih menjalin hubungan dengan orang lain tetap memiliki tanggung jawab moral terhadap keluarga yang telah dibangun.

 

Apakah Hubungan dari Perselingkuhan Akan Bertahan?

Tidak ada jawaban yang pasti. Sebagian hubungan memang berlanjut hingga pernikahan, tetapi tidak sedikit yang akhirnya kandas karena persoalan kepercayaan.

Hubungan yang diawali dengan kebohongan sering kali menghadapi tantangan besar. Kepercayaan menjadi fondasi utama dalam sebuah rumah tangga. Ketika fondasi itu rapuh sejak awal, hubungan berpotensi mengalami konflik di kemudian hari.

 

Pesan untuk Pasangan yang Diselingkuhi

Menghadapi perselingkuhan bukanlah hal mudah. Rasa marah, kecewa, sedih, hingga kehilangan kepercayaan merupakan reaksi yang wajar.

Namun, banyak pakar hubungan menyarankan agar seseorang tetap menjaga harga diri, kesehatan mental, dan kemandirian. Keputusan untuk bertahan ataupun mengakhiri hubungan merupakan hak masing-masing individu, dengan mempertimbangkan kondisi keluarga, keselamatan, serta masa depan anak-anak.

Bagi yang memilih bertahan, membangun kembali kepercayaan membutuhkan komitmen dan usaha dari kedua belah pihak. Sementara bagi yang memilih berpisah, keputusan tersebut juga patut dihormati selama dilakukan melalui pertimbangan yang matang.

 

Menjaga Komitmen adalah Kunci

Pernikahan dibangun atas dasar kepercayaan, kesetiaan, dan tanggung jawab. Ketika salah satu pihak mengabaikan komitmen tersebut, dampaknya bisa sangat luas, mulai dari konflik rumah tangga hingga terganggunya perkembangan emosional anak.

Karena itu, menjaga komunikasi, saling menghargai, dan menyelesaikan masalah bersama menjadi langkah penting untuk mempertahankan keharmonisan keluarga.

Pada akhirnya, perselingkuhan tidak pernah benar-benar menghadirkan pemenang. Yang tersisa sering kali hanyalah luka, penyesalan, dan kepercayaan yang sulit dipulihkan. Rumah tangga yang sehat akan lebih mudah dibangun melalui kejujuran, kesetiaan, dan rasa saling menghormati daripada hubungan yang dimulai dengan pengkhianatan.

 

Menurut pandangan Islam, perselingkuhan dan merusak rumah tangga orang lain merupakan perbuatan yang sangat tercela. Islam tidak hanya melarang zina, tetapi juga melarang segala perbuatan yang dapat mengarah kepada zina dan merusak ikatan pernikahan.

1. Islam Melarang Mendekati Zina

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

(QS. Al-Isra’ [17]: 32)

Ayat ini menunjukkan bahwa bukan hanya zina yang dilarang, tetapi juga segala bentuk pendekatan yang mengarah kepadanya, seperti hubungan mesra dengan orang yang bukan pasangan sah.

2. Merusak Rumah Tangga Orang Lain Termasuk Dosa Besar

Rasulullah SAW bersabda:

“Bukan termasuk golongan kami orang yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya atau seorang budak dengan tuannya.”

(HR. Abu Dawud, dinilai sahih oleh sejumlah ulama)

Hadis ini menjadi dasar bagi banyak ulama bahwa menghasut, menggoda, atau menyebabkan retaknya hubungan suami istri adalah perbuatan yang sangat tercela.

3. Tanggung Jawab Bukan Hanya Orang Ketiga

Para ulama menjelaskan bahwa dalam perselingkuhan, dosa tidak hanya ditanggung oleh orang ketiga. Suami atau istri yang mengkhianati pasangannya juga memikul tanggung jawab penuh atas pilihannya, karena setiap orang bertanggung jawab atas amalnya sendiri.

4. Pandangan Ulama

Ulama seperti menjelaskan bahwa menjaga kehormatan (iffah) dan menunaikan amanah dalam pernikahan merupakan kewajiban setiap Muslim.

Sementara dalam berbagai karya beliau menerangkan bahwa maksiat, termasuk pengkhianatan dalam rumah tangga, dapat merusak hati, menghilangkan keberkahan hidup, dan menimbulkan berbagai dampak buruk bagi pelakunya maupun orang lain.

5. Sikap Islam bagi Istri atau Suami yang Diselingkuhi

Islam menganjurkan agar pasangan yang menjadi korban perselingkuhan:

  • Mengedepankan kesabaran tanpa mengabaikan keadilan.
  • Mengusahakan tabayun (klarifikasi) dan islah (perdamaian) jika masih memungkinkan.
  • Meminta pasangan bertaubat dengan taubat yang sungguh-sungguh.
  • Apabila pernikahan tidak dapat dipertahankan dan kemudaratan lebih besar daripada manfaatnya, Islam membolehkan perceraian sebagai jalan terakhir.

Jadi, menurut Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan para ulama, menggoda atau menjalin hubungan dengan orang yang masih terikat pernikahan merupakan perbuatan yang dilarang. Namun, Islam juga mengajarkan keadilan: kesalahan tidak boleh hanya dibebankan kepada orang ketiga. Suami atau istri yang mengkhianati akad pernikahan juga memikul dosa dan tanggung jawab atas perbuatannya.

Di sisi lain, Islam selalu membuka pintu taubat. Selama seseorang benar-benar menyesali perbuatannya, berhenti dari maksiat, dan bertekad tidak mengulanginya serta berusaha memperbaiki hak-hak yang telah dilanggar, Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penerima taubat.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.