Queensha.id – Edukasi Religi,

 

Di tengah masyarakat masih beredar anggapan bahwa seseorang yang berada dalam keadaan junub (janabah) setelah melakukan hubungan suami istri tidak boleh makan, minum, atau keluar rumah sebelum mandi wajib atau berwudu.

Bahkan ada anggapan bahwa makan dan minum dalam keadaan junub dapat menyebabkan rezeki terhambat, menjadi miskin, atau kehidupan menjadi tidak berkah.

Lalu, bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai hal tersebut? Apakah benar keadaan junub dapat menyebabkan seseorang menjadi fakir atau rezekinya menjadi sempit?

Berikut penjelasan berdasarkan pemahaman fikih Islam.

 

Apa Itu Keadaan Junub Dalam Islam?

Junub atau janabah adalah kondisi seseorang yang berada dalam keadaan hadas besar setelah melakukan hal-hal tertentu, di antaranya:

  1. Melakukan hubungan suami istri.
  2. Keluarnya air mani karena sebab tertentu.
  3. Mimpi basah.

Dalam kondisi junub, seseorang belum diperbolehkan melakukan ibadah tertentu seperti:

  • salat,
  • tawaf di Ka’bah,
  • menyentuh mushaf Al-Qur’an menurut sebagian besar ulama.

Untuk kembali melakukan ibadah tersebut, seseorang harus melakukan mandi wajib (mandi janabah).

 

Apakah Orang Junub Dilarang Makan dan Minum?

Dalam ajaran Islam, tidak ada larangan bahwa orang junub tidak boleh makan atau minum.

Seseorang yang selesai berhubungan suami istri kemudian masih dalam keadaan junub tetap diperbolehkan:

  • makan,
  • minum,
  • berbicara,
  • beraktivitas,
  • bekerja,
  • keluar rumah.

Namun, Islam mengajarkan adab yang baik, yaitu dianjurkan untuk membersihkan diri terlebih dahulu.

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa ketika seseorang dalam keadaan junub dan ingin makan atau tidur, dianjurkan untuk berwudhu terlebih dahulu.

Hal ini menunjukkan bahwa wudu sebelum makan atau tidur dalam keadaan junub merupakan anjuran kebersihan dan kesopanan, bukan syarat wajib agar makanan menjadi halal atau rezeki tidak terhambat.

 

Apakah Makan Saat Junub Bisa Menyebabkan Miskin?

Anggapan bahwa makan dalam keadaan junub dapat menyebabkan seseorang menjadi miskin atau rezekinya seret tidak memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an maupun hadis sahih.

Dalam Islam, rezeki seseorang ditentukan oleh Allah SWT.

Penyebab sempitnya rezeki dalam ajaran Islam lebih berkaitan dengan berbagai hal, seperti:

  • kurangnya usaha,
  • perilaku zalim,
  • mengambil hak orang lain,
  • melakukan dosa tanpa bertaubat,
  • meninggalkan kewajiban agama,
  • tidak menjaga hubungan baik dengan sesama.

Bukan semata-mata karena seseorang makan atau minum ketika masih dalam keadaan junub.

 

Mengapa Dianjurkan Berwudhu Setelah Hubungan Suami Istri?

Walaupun makan dan minum dalam keadaan junub diperbolehkan, berwudu terlebih dahulu merupakan kebiasaan yang dianjurkan.

Beberapa hikmahnya antara lain:

1. Menjaga Kebersihan Diri

Setelah hubungan suami istri, tubuh membutuhkan proses membersihkan diri.

Berwudhu menjadi bentuk menjaga kebersihan dan kesegaran sebelum melakukan aktivitas lain.

2. Mengikuti Sunnah Nabi

Rasulullah SAW memberikan contoh agar seseorang yang masih dalam keadaan junub dan belum mandi wajib tetap menjaga kebersihan dengan berwudhu.

3. Menjaga Ketenangan Hati

Berwudhu dapat membuat seseorang merasa lebih nyaman, bersih, dan siap menjalani aktivitas.

Apakah Orang Junub Boleh Keluar Rumah?

Orang yang masih junub juga diperbolehkan keluar rumah.

Tidak ada larangan dalam Islam bahwa seseorang yang belum mandi wajib tidak boleh bepergian.

Namun, apabila akan memasuki waktu salat, maka wajib segera mandi janabah agar dapat melaksanakan salat dalam keadaan suci.

 

Bagaimana Hubungan Junub Dengan Keberkahan Rezeki?

Dalam Islam, keberkahan rezeki tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik seseorang, tetapi juga berkaitan dengan:

  • kejujuran,
  • usaha yang halal,
  • doa,
  • sedekah,
  • menjaga hubungan keluarga,
  • menjalankan perintah Allah.

Menjaga kebersihan dan kesucian memang bagian dari ajaran Islam, tetapi tidak tepat jika membuat keyakinan baru bahwa makan ketika junub pasti menyebabkan kemiskinan.

Islam mengajarkan keseimbangan antara menjaga adab dan tidak membuat sesuatu yang tidak ada dalilnya menjadi sebuah hukum.

 

Jadi, anggapan bahwa orang yang makan dan minum dalam keadaan junub akan menjadi miskin atau rezekinya terhambat tidak memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam.

Orang yang berada dalam keadaan junub tetap boleh makan, minum, dan melakukan aktivitas sehari-hari.

Namun, dianjurkan untuk berwudhu terlebih dahulu sebagai bentuk mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW dan menjaga kebersihan diri.

Yang menentukan luas atau sempitnya rezeki bukanlah seseorang makan dalam keadaan junub, tetapi bagaimana seseorang menjalani kehidupan dengan usaha, doa, kejujuran, dan ketaatan kepada Allah SWT.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.