Queensha.id – Jepara,

Fenomena perselingkuhan yang terjadi di lingkungan masyarakat, termasuk di wilayah Kabupaten Jepara, sering kali menjadi perhatian publik setelah muncul di media sosial. Sebuah persoalan rumah tangga yang awalnya bersifat pribadi terkadang berubah menjadi konsumsi masyarakat luas ketika informasi tersebut tersebar melalui unggahan, komentar, maupun percakapan di dunia maya.

Namun, di tengah situasi tersebut, muncul pihak-pihak tertentu yang diduga memanfaatkan permasalahan pribadi orang lain untuk mencari keuntungan, baik berupa materi, popularitas, maupun kepentingan tertentu.

Pengamat sosial asal Jepara Purnomo Wardoyo mengatakan, perkembangan media sosial membuat setiap orang lebih mudah mendapatkan informasi, tetapi juga membuka peluang munculnya perilaku tidak bertanggung jawab.

Menurutnya, masyarakat perlu membedakan antara pihak yang benar-benar memberikan bantuan dengan pihak yang memanfaatkan masalah orang lain.

“Persoalan rumah tangga merupakan masalah yang sensitif. Ketika ada pihak yang masuk bukan untuk menyelesaikan masalah, tetapi justru mencari keuntungan dari penderitaan orang lain, masyarakat harus berhati-hati,” ujar Purnomo Wardoyo, Senin (28/9/2026).

 

Berikut 10 ciri-ciri orang yang memanfaatkan kasus orang lain demi mendapatkan keuntungan materi maupun kepentingan pribadi.

1. Mengaku Sebagai Penolong, Tetapi Meminta Imbalan

Ciri pertama adalah seseorang datang dengan alasan ingin membantu menyelesaikan masalah, tetapi kemudian mulai meminta uang, hadiah, atau keuntungan tertentu.

Bantuan yang awalnya terlihat sebagai bentuk kepedulian berubah menjadi transaksi tersembunyi.

Menurut Purnomo, masyarakat perlu melihat niat seseorang dari tindakannya, bukan hanya dari kata-kata yang disampaikan.

 

2. Sengaja Membesar-besarkan Masalah Agar Mendapat Perhatian

Orang yang memanfaatkan kasus orang lain biasanya tidak fokus mencari solusi, melainkan memperbesar konflik.

Masalah pribadi yang seharusnya dapat diselesaikan secara kekeluargaan justru dibuat semakin ramai agar mendapatkan perhatian publik.

Di era media sosial, perhatian dan popularitas terkadang menjadi keuntungan tersendiri bagi sebagian orang.

 

3. Mengancam Akan Membuka Kasus Jika Tidak Mendapat Keuntungan

Salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah adanya ancaman publikasi.

Misalnya, seseorang mengatakan akan menyebarkan informasi, membuat pemberitaan, atau membuka aib seseorang apabila keinginannya tidak dipenuhi.

Perilaku seperti ini dapat menjadi bentuk tekanan psikologis terhadap pihak yang sedang mengalami masalah.

 

4. Memanfaatkan Rasa Malu dan Ketakutan Korban

Kasus perselingkuhan biasanya menyangkut harga diri, keluarga, dan hubungan sosial.

Pihak yang tidak bertanggung jawab dapat memanfaatkan kondisi tersebut dengan membuat korban merasa takut, malu, atau tertekan.

Tujuannya agar korban mengikuti permintaan mereka.

 

5. Tidak Memiliki Kepedulian Terhadap Penyelesaian Masalah

Orang yang benar-benar membantu biasanya mencari jalan keluar terbaik bagi semua pihak.

Sementara pihak yang hanya mencari keuntungan cenderung tidak peduli apakah masalah selesai atau semakin besar.

Yang menjadi perhatian utama adalah keuntungan yang bisa diperoleh dari konflik tersebut.

 

6. Menggunakan Media Sosial Untuk Membentuk Opini Publik

Media sosial dapat menjadi alat positif untuk edukasi, tetapi juga dapat disalahgunakan.

Pihak tertentu bisa membuat unggahan, komentar, atau narasi yang menggiring opini masyarakat tanpa memahami seluruh fakta yang sebenarnya terjadi.

Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati menerima informasi yang belum jelas kebenarannya.

 

7. Mengaku Memiliki Banyak Pengaruh atau Jaringan

Sebagian orang mencoba meyakinkan korban dengan mengaku memiliki hubungan dengan media, organisasi, atau pihak tertentu.

Hal tersebut terkadang digunakan untuk memberikan tekanan agar korban merasa tidak memiliki pilihan lain.

Menurut Purnomo, masyarakat harus tetap meminta kejelasan dan tidak mudah takut terhadap klaim seseorang.

 

8. Menggunakan Masalah Pribadi Sebagai Ajang Mencari Popularitas

Kasus rumah tangga seseorang bukanlah bahan untuk mencari ketenaran.

Namun, ada pihak yang menjadikan masalah orang lain sebagai konten, bahan pembicaraan, atau cara meningkatkan citra pribadi.

Padahal, setiap informasi yang disebarkan memiliki dampak terhadap keluarga dan masa depan seseorang.

 

9. Tidak Melakukan Verifikasi Fakta

Orang yang hanya mengejar keuntungan biasanya tidak peduli dengan kebenaran informasi.

Mereka dapat menyampaikan cerita berdasarkan satu sisi saja tanpa melakukan klarifikasi kepada pihak terkait.

Dalam dunia jurnalistik, verifikasi dan keberimbangan informasi merupakan prinsip utama agar masyarakat mendapatkan informasi yang benar.

 

10. Mengutamakan Uang Dibanding Penyelesaian Masalah

Ciri paling terlihat adalah ketika seseorang lebih fokus membicarakan keuntungan dibanding mencari solusi.

Masalah keluarga seharusnya diselesaikan dengan pendekatan yang bijak, komunikasi, dan jika diperlukan melibatkan pihak yang memang memiliki kewenangan.

Bukan dijadikan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

 

Masyarakat Diminta Bijak Menghadapi Kasus Viral

Purnomo Wardoyo menambahkan, masyarakat perlu memiliki kesadaran bahwa tidak semua orang yang hadir dalam sebuah konflik memiliki tujuan membantu.

Menurutnya, penyelesaian masalah sosial harus mengutamakan kemanusiaan, menjaga privasi, serta menghindari tindakan yang dapat merugikan pihak lain.

“Media sosial harus digunakan untuk memberikan edukasi dan manfaat, bukan menjadi alat untuk menekan atau mengambil keuntungan dari kesulitan orang lain,” jelasnya.

Kasus perselingkuhan maupun masalah rumah tangga merupakan persoalan yang membutuhkan kehati-hatian. Masyarakat diharapkan tidak mudah menghakimi, tidak menyebarkan informasi yang belum terbukti, serta lebih memilih penyelesaian yang memberikan manfaat bagi semua pihak.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.