Queensha.id – Edukasi Sosial,
Istilah hipnotis sering muncul ketika terjadi tindak kejahatan. Di media sosial maupun pemberitaan, tidak sedikit korban mengaku kehilangan uang, perhiasan, telepon genggam, bahkan kendaraan setelah diajak berbicara atau disentuh oleh orang yang tidak dikenal.
Sebagian masyarakat menyebut peristiwa tersebut sebagai “hipnotis”. Namun, benarkah seseorang bisa menguasai pikiran orang lain hanya dengan menepuk pundak atau menatap mata?
Para ahli psikologi dan hipnosis menjelaskan bahwa hipnotis memang nyata, tetapi tidak sesederhana seperti yang sering digambarkan dalam cerita atau media sosial. Banyak kasus kejahatan yang disebut sebagai “hipnotis” sebenarnya melibatkan kombinasi tipu daya, manipulasi psikologis, sugesti, pengalihan perhatian (distraksi), hingga pemanfaatan kepanikan korban.
Apa Itu Ilmu Hipnotis?
Hipnotis adalah suatu teknik komunikasi yang bertujuan membawa seseorang ke dalam kondisi fokus dan relaksasi sehingga lebih mudah menerima sugesti tertentu.
Dalam dunia medis, hipnotis digunakan sebagai terapi (hipnoterapi) untuk membantu mengatasi kecemasan, kebiasaan buruk, nyeri kronis, hingga meningkatkan kepercayaan diri. Penggunaannya dilakukan dengan persetujuan pasien dan oleh tenaga yang memiliki kompetensi.
Sementara itu, dalam dunia hiburan, hipnotis sering dipakai oleh pesulap atau hipnotis panggung. Umumnya peserta yang tampil adalah orang-orang yang bersedia mengikuti arahan dan lebih mudah menerima sugesti.
Apakah Hipnotis Bisa Dipakai untuk Kejahatan?
Dalam sejumlah kasus kriminal, pelaku memanfaatkan kondisi psikologis korban, misalnya ketika korban sedang panik, bingung, terburu-buru, atau lengah.
Pelaku biasanya mengajak berbicara, memberikan cerita yang meyakinkan, meminta bantuan, mengalihkan perhatian, atau membuat korban merasa harus segera mengambil keputusan.
Karena itu, banyak peristiwa yang dianggap sebagai “hipnotis” sebenarnya merupakan rekayasa psikologis dan penipuan, bukan kemampuan mengendalikan pikiran secara mutlak.
10 Cara Agar Terhindar dari Modus yang Sering Disebut Hipnotis
1. Jangan Mudah Percaya kepada Orang Asing
Pelaku kejahatan sering memulai aksinya dengan mengajak berbincang secara ramah.
Bersikap sopan boleh, tetapi jangan mudah percaya terhadap orang yang baru dikenal, terutama jika mulai membahas uang, perhiasan, ATM, atau barang berharga.
2. Jangan Panik Saat Diajak Berbicara
Kepanikan membuat seseorang sulit berpikir jernih.
Jika ada orang yang mendesak atau membuat situasi menjadi tegang, tarik napas, berpikir tenang, dan jangan terburu-buru mengambil keputusan.
3. Hindari Tempat Sepi
Banyak aksi kriminal terjadi di lokasi yang minim saksi.
Jika merasa ada orang mencurigakan mengikuti atau mengajak berbicara, segera menuju tempat ramai.
4. Jangan Menyerahkan Barang Berharga kepada Orang yang Tidak Dikenal
Apa pun alasannya, jangan menyerahkan dompet, ponsel, ATM, PIN, perhiasan, maupun kendaraan kepada orang yang belum dikenal.
5. Jangan Mudah Mengikuti Perintah Orang Asing
Pelaku terkadang meminta korban berpindah tempat atau melakukan sesuatu dengan alasan tertentu.
Jika merasa tidak nyaman, tolak dengan sopan dan segera menjauh.
6. Tetap Fokus pada Lingkungan Sekitar
Kurangi penggunaan ponsel saat berjalan.
Dengan tetap waspada terhadap lingkungan, peluang menjadi korban kejahatan dapat berkurang.
7. Hindari Membuka Informasi Pribadi
Jangan mudah menceritakan kondisi keuangan, isi rekening, atau kebiasaan sehari-hari kepada orang yang baru dikenal.
Informasi tersebut bisa dimanfaatkan oleh pelaku.
8. Segera Minta Bantuan Jika Merasa Aneh
Apabila merasa bingung, tertekan, atau ada orang yang terus memaksa berbicara, segera datangi petugas keamanan, polisi, atau masyarakat sekitar.
9. Edukasi Anggota Keluarga
Anak-anak dan lanjut usia sering menjadi sasaran karena dianggap lebih mudah dipengaruhi.
Berikan pemahaman kepada seluruh anggota keluarga agar tidak mudah percaya kepada orang asing.
10. Laporkan Kejadian Mencurigakan
Jika melihat atau mengalami dugaan penipuan, segera laporkan kepada kepolisian.
Laporan masyarakat dapat membantu mencegah munculnya korban berikutnya.
Pentingnya Edukasi Masyarakat
Masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua kejadian kehilangan harta disebabkan oleh kemampuan supranatural atau hipnotis. Dalam banyak kasus, pelaku memanfaatkan kelengahan, rasa percaya, tekanan psikologis, atau teknik komunikasi yang membuat korban mengambil keputusan tanpa berpikir matang.
Dengan meningkatkan kewaspadaan, literasi keamanan, dan tidak mudah percaya kepada orang asing, risiko menjadi korban dapat ditekan.
Menurut Purnomo Wardoyo, pengamat sosial asal Jepara, masyarakat perlu membangun budaya waspada tanpa menumbuhkan rasa takut yang berlebihan.
“Banyak kasus yang disebut hipnotis sebenarnya bermula dari manipulasi psikologis dan kelengahan korban. Karena itu, edukasi menjadi kunci utama. Masyarakat harus berani berkata tidak, tidak mudah percaya kepada orang yang tidak dikenal, dan segera meminta bantuan apabila menemukan situasi yang mencurigakan. Kewaspadaan adalah benteng pertama untuk mencegah kejahatan,” ujar Purnomo Wardoyo, Selasa (29/9/2026).
Ia menambahkan bahwa penyebaran informasi yang benar mengenai modus-modus kejahatan sangat penting agar masyarakat tidak mudah termakan hoaks maupun mitos, sekaligus mampu melindungi diri dan keluarganya dari berbagai bentuk penipuan.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan