Queensha.id – Nasional,
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan pelajar Indonesia di kancah internasional. Yudha Pramudya (14), siswa kelas IX SMP Negeri 2 Cimahi, Jawa Barat, berhasil meraih juara pertama kategori usia 14–17 tahun dalam kompetisi fotografi internasional UNESCO Youth Eyes on the Silk Roads 2026 edisi ke-8.
Berdasarkan siaran pers UNESCO yang dikutip dari Antara, Selasa (29/9/2026), karya Yudha berjudul “A Legacy in Every Carving” berhasil mengungguli lebih dari 7.000 foto dari peserta yang berasal dari 100 negara. Dewan juri menilai karya tersebut unggul dari sisi orisinalitas, kekuatan visual, dan keunikan cerita yang diangkat.
Foto tersebut menampilkan seorang pengukir kayu Jepara yang sedang mengerjakan ukiran dengan penuh ketelitian. Melalui karya itu, Yudha ingin menunjukkan bahwa keterampilan mengukir kayu khas Jepara merupakan warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun dan harus terus dijaga.
Yudha mengaku mulai tertarik pada dunia fotografi sejak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Kesempatan mengikuti kompetisi UNESCO ia ketahui melalui media sosial Instagram.
“Awalnya ketemu postingan di Instagram tentang lomba foto UNESCO Youth Eyes on the Silk Roads Photo Contest. Saya langsung berpikir mau coba saja. Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali,” ujar Yudha.
Untuk mengikuti lomba tersebut, Yudha meminjam kamera milik temannya dan menyewa lensa. Awalnya ia berencana memotret perajin wayang di Jelekong. Namun, ia kemudian memutuskan mencari perajin ukir kayu Jepara dan menemukan seorang pengrajin di kawasan Antapani, Bandung.
“Saya ingin menyampaikan bahwa tradisi kayu Jepara jangan sampai punah. Saya juga ingin mengeluarkan emosi para pengukir kayu saat mengukir,” katanya.
Menurut UNESCO, foto Yudha berhasil menangkap makna mendalam tentang seorang pengukir kayu Jepara yang menciptakan motif-motif rumit dengan keterampilan tangan, sekaligus menggambarkan upaya menjaga tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO, I.G.A.K. Satrya Wibawa, mengapresiasi keberhasilan Yudha. Menurutnya, prestasi tersebut menunjukkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam melestarikan budaya melalui media yang dekat dengan kehidupan mereka.
“Yang lebih penting adalah bagaimana seorang anak berusia 14 tahun melihat warisan budaya Indonesia melalui perspektif generasinya sendiri. Kamera di tangannya menjadi alat untuk bercerita bahwa tradisi bukan sesuatu yang hanya disimpan di masa lalu, tetapi sesuatu yang perlu diteruskan oleh generasi berikutnya,” ujarnya.
Karya Yudha bersama foto-foto para pemenang lainnya akan diterbitkan dalam album Youth Lens on the Silk Roads dan berpeluang dipamerkan dalam berbagai agenda UNESCO di masa mendatang.
Yudha mengaku tidak menyangka dapat menjadi juara dunia. Baginya, kompetisi ini awalnya hanya menjadi sarana menambah pengalaman sekaligus bekal untuk mewujudkan cita-citanya melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah kejuruan yang diimpikan.
Ia juga berharap berbagai warisan budaya Indonesia, mulai dari seni ukir, tarian, ritual, hingga karya seni tradisional lainnya, terus dijaga agar tetap lestari.
“Ritual, karya seni, tari, dan segala macam tradisi harus terus kita lestarikan agar tidak hilang di masa-masa mendatang,” tutup Yudha.
***
Sumber: Suara Surabaya.

Tinggalkan Balasan