Queensha.id – Edukasi Islami,

 

Pertanyaan tentang siapa yang harus lebih diutamakan oleh seorang laki-laki setelah menikah, ibu atau istri, menjadi salah satu dilema klasik dalam kehidupan rumah tangga. Banyak suami merasa berada di posisi sulit karena harus menjaga perasaan dua wanita yang sangat berjasa dalam hidupnya.

Di satu sisi, ada ibu yang telah mengandung, melahirkan, merawat, dan membesarkan sejak kecil. Di sisi lain, ada istri yang menjadi pasangan hidup, teman perjuangan, serta pendamping dalam membangun keluarga.

Lalu bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai hal tersebut?

 

Islam Tidak Mengajarkan Membandingkan Ibu dan Istri

Dalam ajaran Islam, ibu dan istri bukanlah dua pihak yang harus dipertandingkan. Keduanya memiliki hak dan kedudukan yang berbeda.

Berbakti kepada ibu merupakan kewajiban besar seorang anak. Allah SWT memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.

Allah SWT berfirman:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya…”
(QS. Al-Ahqaf: 15)

Bahkan Rasulullah SAW ketika ditanya siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik, beliau menjawab:

“Ibumu, ibumu, ibumu, kemudian ayahmu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hal tersebut menunjukkan tingginya kedudukan seorang ibu dalam Islam.

Namun setelah seorang laki-laki menikah, ia juga memiliki tanggung jawab baru sebagai suami dan pemimpin keluarga.

Allah SWT berfirman:

“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut.”
(QS. An-Nisa: 19)

Artinya, seorang suami wajib memberikan kasih sayang, perlindungan, nafkah, dan perlakuan baik kepada istrinya.

 

Dalam Nafkah, Prioritas Suami Adalah Keluarga Inti

Salah satu hal yang sering menjadi sumber konflik adalah masalah ekonomi.

Ketika seorang laki-laki telah menikah, kewajiban utama dalam nafkah berada pada:

  1. Istri
  2. Anak-anak
  3. Kebutuhan rumah tangga

Suami tidak boleh mengabaikan kebutuhan wajib keluarganya hanya karena ingin memberikan sesuatu kepada orang tua.

Rasulullah SAW bersabda:

“Mulailah dengan dirimu sendiri, kemudian keluargamu.”
(HR. Muslim)

Namun bukan berarti orang tua boleh dilupakan. Jika kebutuhan keluarga sudah terpenuhi dan ada kelebihan rezeki, maka membantu ibu dan ayah menjadi bentuk bakti yang sangat mulia.

 

Ibu Memiliki Hak Dihormati, Istri Memiliki Hak Dilindungi

Dalam kehidupan rumah tangga, seorang suami harus memahami bahwa bentuk kasih sayang kepada ibu dan istri berbeda.

Kepada ibu:

  • Menghormati perkataan dan nasihatnya.
  • Membantu ketika membutuhkan.
  • Tidak menyakiti hatinya.
  • Tetap menjaga hubungan silaturahmi.

Kepada istri:

  • Memberikan nafkah.
  • Menjaga kehormatan dan perasaannya.
  • Melindungi privasi rumah tangga.
  • Tidak membiarkan istri dizalimi.

Suami yang baik bukanlah yang selalu membela ibu atau selalu membela istri, tetapi suami yang mampu menempatkan sesuatu sesuai porsinya.

 

Jangan Membuka Aib Rumah Tangga kepada Orang Tua

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah suami membawa masalah rumah tangga kepada ibunya tanpa pertimbangan.

Misalnya, menceritakan keburukan istri kepada ibu. Hal ini bisa membuat hubungan antara menantu dan mertua menjadi tidak harmonis.

Begitu juga sebaliknya, istri tidak boleh mengajak suami untuk memutus hubungan dengan ibunya.

Islam mengajarkan sikap pertengahan: menyelesaikan masalah dengan bijaksana, musyawarah, dan menjaga kehormatan semua pihak.

 

Suami Harus Menjadi Penengah yang Bijaksana

Laki-laki yang matang dalam rumah tangga bukan yang memilih salah satu pihak, tetapi mampu menjadi jembatan antara ibu dan istri.

Beberapa sikap yang bisa dilakukan:

  • Tidak membandingkan ibu dengan istri.
  • Tidak menyampaikan keluhan salah satu pihak kepada pihak lainnya.
  • Mengajarkan istri untuk menghormati ibu.
  • Mengingatkan ibu dengan cara lembut jika terjadi campur tangan berlebihan.
  • Memberikan perhatian kepada keduanya.

Ibu Dimuliakan, Istri Dipenuhi Haknya

Dalam pandangan Islam, ibu tidak boleh disakiti dan istri tidak boleh dizalimi.

Ibu memiliki kedudukan tinggi karena jasa melahirkan dan membesarkan. Sedangkan istri memiliki hak karena ia menjadi amanah yang diberikan Allah kepada suami.

Suami yang beriman bukan memilih antara ibu atau istri, melainkan mampu memberikan bakti kepada ibu dan keadilan kepada istri.

Karena keluarga yang harmonis bukan dibangun dengan memenangkan satu pihak, tetapi dengan memahami hak, kewajiban, kasih sayang, dan ketakwaan kepada Allah SWT.

 

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.