Queensha.id – Edukasi Kesehatan,
Di tengah masyarakat, pasangan suami istri yang belum memiliki anak sering kali mendapat pertanyaan seperti, “Kapan punya momongan?” atau bahkan dianggap belum sempurna sebagai sebuah keluarga.
Padahal, baik dari sisi medis maupun agama, memiliki anak bukanlah ukuran keberhasilan sebuah pernikahan. Keturunan merupakan anugerah yang diberikan Allah SWT sesuai dengan kehendak-Nya, sementara dari sisi kesehatan, kehamilan dipengaruhi oleh banyak faktor yang tidak selalu dapat dikendalikan.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi (Sp.OG) menjelaskan bahwa sekitar 10–15 persen pasangan usia subur mengalami kesulitan memperoleh keturunan atau infertilitas. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh faktor suami, istri, kombinasi keduanya, maupun penyebab yang belum diketahui. Karena itu, pemeriksaan kesuburan sebaiknya dilakukan oleh kedua pasangan, bukan hanya istri.
Berikut beberapa hal yang penting dipahami masyarakat.
1. Belum Memiliki Anak Bukan Berarti Rumah Tangga Tidak Bahagia
Kebahagiaan keluarga tidak hanya ditentukan oleh hadirnya anak.
Rumah tangga yang harmonis dibangun melalui kasih sayang, saling menghormati, komunikasi yang baik, dan komitmen untuk menjalani kehidupan bersama.
Dalam Islam, Allah SWT berfirman bahwa Dia memberikan anak kepada siapa yang Dia kehendaki, menjadikan sebagian tidak memiliki anak, dan semua itu berada dalam kekuasaan-Nya (QS. Asy-Syura ayat 49–50).
2. Memiliki Anak Adalah Rezeki yang Waktunya Berbeda
Dokter kandungan menjelaskan bahwa peluang kehamilan dipengaruhi oleh usia, kualitas sperma, kualitas sel telur, kesehatan rahim, keseimbangan hormon, hingga gaya hidup.
Karena itu, ada pasangan yang cepat memperoleh keturunan, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih lama atau bantuan program kehamilan.
Perbedaan tersebut bukan karena kurang berusaha, melainkan karena kondisi biologis setiap pasangan tidak sama.
3. Masa Berdua Merupakan Kesempatan Membangun Fondasi Pernikahan
Selama menunggu kehadiran buah hati, pasangan dapat memanfaatkan waktu untuk memperkuat hubungan.
Misalnya dengan memperbaiki komunikasi, merencanakan keuangan keluarga, meningkatkan ibadah, menjaga kesehatan, hingga mempersiapkan ilmu pengasuhan anak.
Banyak psikolog keluarga menilai bahwa pasangan yang memiliki hubungan emosional kuat sebelum memiliki anak cenderung lebih siap menghadapi tantangan sebagai orang tua.
4. Pemeriksaan Kesuburan Harus Dilakukan Suami dan Istri
Masih banyak anggapan bahwa apabila belum memiliki anak, penyebabnya pasti berasal dari istri.
Padahal secara medis, infertilitas dapat berasal dari pihak suami, pihak istri, maupun keduanya.
Dokter spesialis kandungan umumnya menyarankan pasangan yang belum hamil setelah satu tahun berhubungan secara teratur tanpa kontrasepsi untuk berkonsultasi. Bagi perempuan berusia di atas 35 tahun, evaluasi dapat dilakukan setelah enam bulan.
Pemeriksaan biasanya meliputi analisis sperma, pemeriksaan hormon, evaluasi ovulasi, kondisi rahim, serta saluran tuba.
5. Menjalani Gaya Hidup Sehat Meningkatkan Peluang Kehamilan
Dokter menyarankan pasangan menjaga berat badan ideal, mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, berhenti merokok, membatasi alkohol, mengelola stres, dan tidur yang cukup.
Langkah tersebut memang tidak menjamin kehamilan, tetapi dapat meningkatkan kesehatan reproduksi secara keseluruhan.
6. Jangan Mudah Menyalahkan Diri Sendiri
Tidak sedikit pasangan mengalami tekanan psikologis karena merasa gagal menjadi suami atau istri.
Padahal, kesulitan memperoleh keturunan merupakan kondisi medis yang dapat dialami siapa saja.
Dukungan pasangan dan keluarga menjadi faktor penting agar tekanan emosional tidak semakin berat.
7. Islam Mengajarkan Ikhtiar dan Kesabaran
Selain menjalani pemeriksaan medis, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa dan istighfar.
Salah satu doa yang dianjurkan adalah doa Nabi Zakariya dalam QS. Ali ‘Imran ayat 38:
“Rabbi hab li min ladunka dzurriyyatan thayyibah, innaka sami’ud du’a.”
Artinya, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”
Sementara dalam QS. Nuh ayat 10–12 dijelaskan bahwa memperbanyak istighfar menjadi salah satu bentuk mendekatkan diri kepada Allah yang mendatangkan berbagai karunia dan rezeki.
8. Jangan Memberikan Tekanan kepada Pasangan yang Belum Memiliki Anak
Dokter dan psikolog sepakat bahwa tekanan dari lingkungan dapat meningkatkan stres, yang berdampak pada kualitas hidup pasangan.
Karena itu, masyarakat sebaiknya menghindari pertanyaan yang bersifat menghakimi seperti “Kapan punya anak?” atau “Kenapa belum hamil?”.
Lebih baik memberikan doa, dukungan, dan empati.
Jadi, belum memiliki keturunan bukan berarti rumah tangga gagal atau kurang bahagia. Dari sudut pandang dokter spesialis kandungan, kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh banyak faktor medis dan perlu diperiksa bersama oleh suami maupun istri.
Sementara dalam Islam, anak adalah karunia Allah SWT yang diberikan sesuai hikmah dan waktu terbaik menurut-Nya. Tugas manusia adalah terus berikhtiar, menjaga kesehatan, memperbanyak doa, serta tetap bersabar dan saling menguatkan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan