Queensha.id – Edukasi Kesehatan,
Kutu merupakan parasit kecil yang hidup dengan mengisap darah manusia. Meski sama-sama disebut kutu, ternyata kutu kemaluan (kutu pubis) memiliki bentuk tubuh, habitat, dan cara hidup yang berbeda dengan kutu rambut.
Perbedaan tersebut terjadi karena masing-masing telah berevolusi untuk hidup pada bagian tubuh tertentu. Berikut penjelasannya.
Mengenal Jenis Kutu pada Manusia
Secara umum, terdapat tiga jenis kutu yang paling sering menyerang manusia.
1. Kutu Rambut (Pediculus humanus capitis)
Kutu rambut hidup di kulit kepala dan menempel pada batang rambut.
Ciri-ciri:
- Tubuh kecil memanjang.
- Berwarna abu-abu hingga kecokelatan.
- Telurnya (nit) menempel kuat di rambut.
Gejala:
- Kepala terasa sangat gatal.
- Muncul bekas gigitan di kulit kepala.
- Terlihat kutu atau telur di sela-sela rambut.
Penularan:
- Kontak kepala dengan kepala.
- Berbagi sisir, topi, helm, atau bantal.
2. Kutu Kemaluan (Phthirus pubis)
Kutu kemaluan dikenal sebagai crab louse karena bentuk tubuhnya menyerupai kepiting kecil.
Tubuhnya pendek, lebar, dan memiliki capit besar yang dirancang untuk mencengkeram rambut yang kasar seperti rambut kemaluan.
Selain di area kemaluan, kutu ini kadang ditemukan di:
- Ketiak
- Dada
- Janggut
- Kumis
- Alis
- Bulu mata
Gejala:
- Gatal hebat terutama pada malam hari.
- Muncul bintik kemerahan.
- Terlihat kutu atau telur pada rambut kemaluan.
Penularan:
- Kontak fisik yang sangat dekat, termasuk hubungan seksual.
- Berbagi handuk, pakaian dalam, atau seprai yang belum dicuci.
3. Kutu Badan (Pediculus humanus corporis)
Berbeda dengan dua jenis sebelumnya, kutu badan lebih sering hidup di lipatan pakaian daripada di tubuh.
Kutu hanya naik ke kulit saat mengisap darah.
Gejala:
- Gatal pada tubuh.
- Ruam merah.
- Bekas gigitan.
Penularan:
- Pakaian yang jarang dicuci.
- Lingkungan padat dan kebersihan kurang baik.
Mengapa Kutu Kemaluan Berbeda dengan Kutu Rambut?
Perbedaan utamanya terletak pada bentuk tubuh dan cakarnya.
Kutu rambut memiliki kaki yang cocok untuk rambut kepala yang halus dan rapat.
Sedangkan kutu kemaluan mempunyai capit besar seperti kepiting yang mampu mencengkeram rambut yang lebih tebal dan kasar, sehingga sulit bertahan hidup di rambut kepala.
Selain itu, kutu kemaluan tidak dapat melompat maupun terbang. Parasit ini hanya dapat merayap perlahan dari satu orang ke orang lain melalui kontak langsung.
Cara Mengobati Kutu Kemaluan
Pengobatan kutu kemaluan umumnya meliputi:
- Menggunakan losion atau krim antikutu yang mengandung permethrin 1% atau obat lain sesuai anjuran tenaga kesehatan.
- Mencuci pakaian, handuk, dan seprai menggunakan air panas, kemudian mengeringkannya dengan suhu tinggi.
- Menghindari hubungan intim hingga pengobatan selesai dan kutu benar-benar hilang.
- Memeriksa serta mengobati pasangan seksual bila diperlukan agar tidak terjadi penularan berulang.
- Bila kutu mengenai bulu mata, penanganannya harus dilakukan oleh dokter dan tidak menggunakan obat antikutu biasa di area mata.
Cara Mengobati Kutu Rambut
Untuk kutu rambut, langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Menggunakan sampo atau losion antikutu sesuai petunjuk.
- Menyisir rambut dengan sisir serit untuk mengangkat kutu dan telurnya.
- Mencuci topi, sarung bantal, sisir, dan perlengkapan rambut dengan air panas.
- Menghindari berbagi sisir, topi, atau aksesori rambut.
Cara Mencegah Infestasi Kutu
Pencegahan dapat dilakukan dengan:
- Menjaga kebersihan tubuh dan rambut.
- Tidak berbagi barang pribadi seperti handuk, pakaian, sisir, atau topi.
- Mencuci seprai dan pakaian secara rutin.
- Menghindari kontak erat dengan orang yang diketahui mengalami investasi kutu hingga selesai diobati.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera periksakan diri apabila:
- Gatal tidak membaik setelah pengobatan.
- Muncul infeksi kulit akibat garukan.
- Kutu mengenai bulu mata.
- Diduga terjadi penularan melalui hubungan seksual, karena dokter mungkin juga akan menyarankan pemeriksaan infeksi menular seksual (IMS) sesuai kondisi pasien.
Dengan mengenali jenis-jenis kutu, cara penularan, dan pengobatan yang tepat, masyarakat dapat mencegah penyebaran parasit ini sekaligus mengurangi risiko komplikasi akibat infeksi kulit.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan