Queensha.id – Jepara,
Rapat Anggota Tahunan (RAT) pertama Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Panggang digelar pada Senin (30/3/2026) dengan dihadiri Lurah Panggang Ahmad Sholichin, Ketua KKMP Panggang Ismuyanto, serta Babinsa Panggang Serda Rindarto.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB ini juga diikuti oleh pengurus, pengawas, dan anggota koperasi. Forum tersebut menjadi ajang evaluasi sekaligus pemaparan arah pengembangan koperasi ke depan.
Upaya mendorong kemandirian ekonomi warga terus digencarkan melalui Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Panggang di wilayah Jepara. Berbagai program telah ditawarkan, mulai dari layanan internet murah hingga distribusi kebutuhan pokok.
Melalui materi promosi yang beredar, warga diajak bergabung dengan berbagai manfaat seperti akses minyak murah, gas LPG, layanan internet terjangkau, hingga pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) setiap akhir tahun.
KKMP Panggang juga menghadirkan layanan internet “Merah Putih” yang menyasar rumah tangga hingga pelaku usaha. Paket bisnis ditawarkan mulai 100 Mbps hingga 500 Mbps, sementara paket rumah tangga berkisar antara Rp120 ribu hingga Rp285 ribu per bulan tanpa batas pemakaian (FUP).
Menariknya, biaya tersebut sudah termasuk simpanan wajib anggota koperasi, menandakan integrasi antara layanan digital dan sistem keanggotaan berbasis komunitas.

Meski demikian, Lurah Panggang, Ahmad Sholichin, mengakui koperasi masih dalam tahap pengembangan dengan keterbatasan sumber daya.
“Kita KKMP Panggang baru memiliki usaha distribusi gas 3 kg, BRILink, internet Merah Putih, dan sembako karena keterbatasan dana,” ujarnya, Senin (30/3).
Ketua KKMP Panggang, Ismuyanto, juga menegaskan kondisi riil yang dihadapi koperasi saat ini.

“Ya kita memang masih kekurangan modal. Semua kegiatan usaha yang berjalan saat ini murni dari iuran pengurus, pengawas, serta simpanan pokok dan wajib anggota. Jadi ruang gerak kami masih terbatas,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa dalam menjalankan usaha, pihaknya tetap berkomitmen mengikuti aturan yang berlaku, khususnya terkait harga.
“Kita berpatokan pada HET (Harga Eceran Tertinggi) sesuai aturan yang ada. Contohnya untuk penjualan gas elpiji 3 kilogram, kita tidak mungkin menjual di atas harga yang sudah ditentukan pemerintah. Artinya, margin keuntungan kita memang tipis, tapi itu sudah menjadi komitmen kami agar masyarakat tetap mendapatkan harga yang wajar,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi koperasi untuk berkembang lebih cepat.
“Di satu sisi kita ingin berkembang dan menambah unit usaha, tapi di sisi lain kita juga harus menjaga agar harga tetap terjangkau bagi anggota. Ini yang membuat perputaran modal kita tidak bisa terlalu cepat. Karena itu, kami sangat berharap ada dukungan, baik dari pemerintah maupun pihak lain, agar koperasi ini bisa naik kelas,” tambahnya.
Sementara itu, perwakilan Dinas Koperasi, Rusmiyati, menyampaikan harapan ke depan terhadap perkembangan koperasi ini.
“Artinya dari anggota bertambah maka kekuatan modal juga ikut meningkat. Dari situ koperasi bisa mengembangkan usaha lebih luas dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi anggota,” ujarnya.
Sejak diluncurkan pada Mei 2025, jumlah anggota terus meningkat, dari 13 orang pada Desember 2025 menjadi 47 anggota per Maret 2026. Meski menunjukkan pertumbuhan, kapasitas koperasi dinilai belum sebanding dengan kebutuhan pengembangan.
Persoalan lahan menjadi salah satu hambatan utama. KKMP Panggang belum memiliki lahan sendiri seluas 20 x 30 meter sesuai anjuran pemerintah. Saat ini, operasional masih menumpang di kantor kelurahan.
Pihak koperasi mengusulkan pemanfaatan lahan milik organisasi yang terbengkalai. Alternatif lainnya adalah permohonan dukungan modal hingga Rp500 juta guna memperkuat unit usaha yang ada.
Di tengah keterbatasan tersebut, KKMP Panggang tetap menjalankan layanan distribusi LPG 3 kg khusus anggota dengan harga Rp18.000 per tabung, serta layanan BRILink untuk berbagai transaksi masyarakat.
Ke depan, koperasi juga merancang pengembangan usaha budidaya lele sebagai langkah diversifikasi ekonomi warga.
Program ini dinilai sebagai fondasi awal ekonomi berbasis komunitas. Namun tanpa dukungan nyata dari pemerintah dan pemangku kepentingan, langkah KKMP Panggang berpotensi tersendat di tengah jalan.
Harapan kini tertuju pada sinergi semua pihak agar Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Panggang tak sekadar bertahan, melainkan mampu menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat.
***
(30 Maret 2026)

Tinggalkan Balasan