Queensha.id – Semarang,
Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah (Jateng) 2026 tidak hanya menghadirkan persaingan prestasi antar-atlet, tetapi juga menyisakan catatan terkait keselamatan dan kesehatan para peserta. Panitia Besar (PB) Porprov Jateng mencatat ratusan atlet mengalami cedera selama ajang olahraga tingkat provinsi tersebut berlangsung di wilayah Semarang Raya.
Berdasarkan data dari pos kesehatan PB Porprov Jateng 2026, sebanyak 157 atlet mendapatkan penanganan rawat jalan, sedangkan 14 atlet menjalani observasi medis. Selain itu, terdapat 22 atlet mengalami cedera serius sehingga harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Cedera Banyak Terjadi pada Cabor Kontak Fisik
Ketua Seksi Kesehatan PB Porprov Jateng, Dr. Elhamangto Zuhdan, menjelaskan bahwa kasus cedera yang membutuhkan rujukan paling banyak terjadi pada cabang olahraga (cabor) yang memiliki risiko kontak fisik.
Menurutnya, beberapa atlet mengalami cedera akibat benturan keras selama pertandingan, terutama pada olahraga yang melibatkan kontak langsung antar-pemain.
“Kasus-kasus yang dirujuk cukup banyak terjadi di cabor kontak fisik,” ujar Elhamangto saat konferensi pers di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa jenis cedera yang dialami atlet cukup beragam. Beberapa di antaranya berupa patah tulang hidung hingga perdarahan pada bagian wajah.
Dengan demikian, kesiapan tenaga medis menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung kelancaran pelaksanaan Porprov Jateng 2026.
Atlet Catur Juga Mengalami Cedera Kepala
Meskipun sebagian besar cedera terjadi pada cabang olahraga dengan risiko tinggi, ternyata insiden kesehatan juga dialami atlet dari cabor yang tergolong minim kontak fisik.
Elhamangto mengungkapkan, seorang atlet catur mengalami vulnus lacerasi atau luka robek pada bagian kepala.
“Risiko di cabor catur sebenarnya tergolong ringan, tetapi ada kejadian atlet mengalami luka robek di kepala,” jelasnya.
Namun, insiden tersebut bukan terjadi akibat pertandingan catur, melainkan karena atlet tersebut mengalami kecelakaan saat berada di toilet.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa risiko cedera dapat terjadi kapan saja, sehingga kesiapan layanan kesehatan tetap diperlukan di seluruh lokasi pertandingan.
PB Porprov Siapkan 275 Tim Medis
Untuk memberikan pelayanan kesehatan maksimal, PB Porprov Jateng 2026 telah menyiagakan ratusan tenaga medis selama pelaksanaan pertandingan yang berlangsung pada 20-30 Oktober 2026.
Sebanyak 275 tim medis ditempatkan di enam wilayah tuan rumah, yaitu Blora, Pati, Demak, Salatiga, Kota Semarang, dan Kabupaten Kendal.
Setiap tim medis dilengkapi dengan fasilitas standar pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Selain itu, masing-masing tim terdiri dari satu dokter, satu perawat, dan satu pengemudi ambulans.
Tidak hanya itu, panitia juga menyediakan ambulans mobile yang berfungsi sebagai pengganti apabila ambulans utama harus membawa atlet menuju rumah sakit untuk mendapatkan penanganan darurat.
Fasilitas Khusus Disiapkan untuk Atlet
Selain layanan medis umum, PB Porprov Jateng juga menyiapkan fasilitas tambahan sesuai kebutuhan masing-masing cabang olahraga.
Beberapa fasilitas tersebut meliputi tim tandu, fisioterapis, tenaga masseur, hingga perangkat tambahan seperti kolam pendingin untuk membantu proses pemulihan atlet setelah bertanding.
Menurut Elhamangto, setiap kasus darurat yang mengancam keselamatan jiwa akan langsung mendapatkan penanganan sesuai prosedur.
“Untuk penanganan kedaruratan yang mengancam jiwa, kami menerapkan prosedur rujukan ke rumah sakit terdekat dengan jarak dan waktu tempuh tercepat,” katanya.
Dua Atlet Meninggal Dunia di Porprov Jateng 2026
Di balik semangat kompetisi Porprov XVII Jateng 2026, terdapat duka mendalam setelah dua atlet meninggal dunia saat mengikuti ajang tersebut.
Salah satunya adalah Syabilla Rizkia Putri Raharja (22), atlet selam dari kontingen Kabupaten Jepara.
Syabilla meninggal dunia setelah bertanding pada nomor open water finswimming 3.000 meter di kawasan Awann Costa, Semarang. Kepergian atlet muda asal Jepara tersebut menjadi perhatian publik dan dunia olahraga Jawa Tengah.
Selain Syabilla, atlet pencak silat kontingen Kota Semarang, Ayudiah Rivana Tridiandinata (19), juga meninggal dunia.
Ayudiah mengembuskan napas terakhir setelah menjalani operasi akibat cedera patah jari tengah.
Keselamatan Atlet Menjadi Evaluasi Porprov Jateng
Dengan adanya sejumlah kasus cedera hingga meninggalnya dua atlet, penyelenggaraan Porprov Jateng 2026 menjadi bahan evaluasi bagi berbagai pihak.
Sebab, selain mengejar prestasi olahraga, faktor keselamatan atlet harus menjadi prioritas utama dalam setiap pertandingan.
Menurut pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, ajang olahraga besar harus selalu menempatkan aspek kesehatan dan keselamatan sebagai bagian penting dari keberhasilan penyelenggaraan.
“Prestasi memang menjadi tujuan utama dalam kompetisi olahraga, namun keselamatan atlet merupakan nilai yang tidak boleh diabaikan. Setiap atlet datang membawa harapan daerahnya, sehingga perlindungan terhadap mereka harus menjadi perhatian bersama,” ujar Purnomo.
Ia menambahkan, evaluasi menyeluruh perlu dilakukan agar kejadian serupa dapat diminimalkan pada penyelenggaraan olahraga berikutnya.
“Semangat olahraga adalah tentang perjuangan dan prestasi, tetapi tetap harus berjalan bersama dengan sistem keamanan, fasilitas medis, serta kesiapan panitia,” pungkasnya.
***
Sumber: KPS.

Tinggalkan Balasan