Queensha.id – Jepara,

 

Di balik kemeriahan tradisi Lomban yang digelar setiap sepekan setelah IdulFitri, tersimpan lapisan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar pesta laut. Prosesi larungan kepala kerbau yang menjadi puncak acara bukan hanya ritual turun-temurun, melainkan representasi filosofi hidup masyarakat pesisir yang sarat simbol dan nilai spiritual.

Tradisi yang berakar sejak era kepemimpinan H. Sidiq di Ujungbatu pada awal abad ke-20 ini menghadirkan 25 jenis sesaji atau ubo rampe yang masing-masing memuat pesan moral, spiritual, hingga refleksi kehidupan manusia.

 

Bukan Sekadar Ritual, Tapi Bahasa Simbolik

Kepala kerbau sebagai sesaji utama menjadi simbol paling kuat. Dibalut kain putih, ia melambangkan ketulusan dan keikhlasan manusia dalam berserah kepada Tuhan.

 

Namun lebih dari itu, kerbau juga dimaknai sebagai representasi sifat “kebodohan” yang harus dibuang jauh ke laut merupakan sebuah ajakan untuk meninggalkan kebodohan menuju kebijaksanaan.

Makna ini sejalan dengan filosofi Jawa kuno, bahkan serupa dengan ritual Mahesa Lawung di Keraton Surakarta, yang juga menggunakan kepala kerbau sebagai simbol penguburan sifat buruk manusia.

 

Ritual yang Menyatukan Darat dan Laut

Tradisi Lomban bukan hanya milik nelayan, tetapi menjadi milik kolektif masyarakat Jepara. Dalam perspektif kosmologis, ritual ini menjadi jembatan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Setiap elemen sesaji menyiratkan hubungan harmonis antara daratan dan lautan yaitu dua sumber kehidupan yang saling melengkapi bagi masyarakat pesisir.

 

Makna Mendalam di Balik 25 Sesaji

Dari ayam ingkung hingga kembang telon, setiap sesaji berbicara dalam bahasa simbol:

– Ayam Ingkung: ajakan untuk tunduk dan berserah diri kepada Tuhan.

– Kupat-Lepet: simbol pengakuan dosa dan saling memaafkan.

– Bubur Merah Putih: lambang asal-usul kehidupan manusia dari ibu dan ayah.

– Tumpeng Damar Murup: harapan akan pencerahan hidup.

– Sego Nuk-nukan: filosofi sedulur papat limo pancer, keseimbangan spiritual manusia.

– Kembang Telon: doa untuk kesempurnaan hidup yang kaya harta, ilmu, dan kuasa.

Tak hanya itu, unsur seperti ikan asin, sayur kelor, hingga sambal gepeng juga merepresentasikan realitas kehidupan masyarakat pesisir yang tentang kesederhanaan, ketahanan, dan keberlanjutan sumber daya laut.

Ritual atau Warisan Identitas?

Di tengah modernisasi, tradisi sesaji kerap diperdebatkan yaitu antara dianggap sebagai kearifan lokal atau praktik yang perlu ditinggalkan. Namun bagi masyarakat Jepara, Lomban bukan sekadar ritual, melainkan identitas budaya yang mengikat sejarah, spiritualitas, dan kebersamaan sosial.

Lebih dari sekadar larungan, Lomban adalah pengingat bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam, serta memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan tersebut.

Tradisi ini pun terus bertahan, menjadi saksi bahwa di tengah arus zaman, nilai-nilai leluhur masih berdenyut kuat dalam kehidupan masyarakat pesisir Jepara.

 

***

Sumber: Pegiat Budaya Jepara, Hadepe.
(Queensha Jepara | 27 Maret 2026)