Queensha.id – Musik,

 

Jauh sebelum dikenal sebagai salah satu band rock terbesar di Indonesia, Slank memulai perjalanan dari lingkaran pertemanan anak SMA di Jakarta dengan semangat bermusik yang mentah, liar, dan apa adanya. Kisah ini bermula pada awal 1980-an, saat Bimbim yang merupakan motor penggerak band dan lebih dulu membentuk grup bernama Cikini Stones Complex (CSC) di lingkungan Perguruan Cikini.

Namun, bubarnya CSC justru menjadi titik lahirnya babak baru. Bersama sepupunya Denny BDN, serta Erwan dan Kiki, Bimbim mendirikan band baru bernama “Red Evil”. Formasi ini kemudian berkembang setelah masuknya Bongky Marcel, gitaris dari Rese Band yang saat itu justru dikenal sebagai rival.

Berbeda dari CSC yang kerap memainkan lagu-lagu The Rolling Stones, Red Evil tampil lebih eksploratif. Mereka berani membawakan lagu ciptaan sendiri, sekaligus mengusung pengaruh kuat dari band-band barat seperti Van Halen. Bahkan, karakter vokal Erwan kerap disebut-sebut menyerupai David Lee Roth, vokalis legendaris Van Halen.

Meski demikian, gaya bermusik mereka yang “tidak mirip aslinya” dan aksi panggung yang dianggap terlalu santai justru melahirkan identitas unik. Teman-teman mereka sering menyebut penampilan Red Evil sebagai “slenge’an” adalah sebuah label yang kelak menjadi fondasi nama besar mereka.

Momentum penting terjadi di arena bowling Hotel Kartika Chandra, Jakarta, saat perayaan ulang tahun Denny BDN. Dalam diskusi santai namun menentukan, nama “Red Eyes” sempat diusulkan. Namun setelah melalui perdebatan, lahirlah nama “Slank”itu diambil dari kata “slenge’an” yang dimodifikasi agar terdengar lebih keren dan mudah diingat.

 

Formasi I Slank (1983) yang merupakan Awal yang Mentah Tapi Berkarakter

Formasi pertama Slank terdiri dari:

– Kiki (gitar)

– Erwan (vokal)

– Bongky Marcel (gitar)

– Denny BDN (bass)

– Bimbim (drum)

Penampilan perdana mereka dengan nama Slank digelar di Universitas Nasional (UNAS) Jakarta. Di bawah manajemen Erry, kakak Erwan, mereka mulai membawakan lagu-lagu ciptaan sendiri merupakan sebuah langkah berani di tengah dominasi cover band saat itu.

Tak butuh waktu lama, Slank mulai tampil di berbagai gigs dan festival.

 

Salah satu momen penting adalah saat mereka tampil di Festival Band KMSS di Istora Senayan. Dengan keberanian artistik, Slank memasukkan unsur gamelan Jawa ke dalam aransemen mereka yang dimainkan langsung oleh Erwan. Eksperimen ini menciptakan nuansa “blues Indonesia” yang unik dan menarik perhatian penonton.

Namun, kemenangan belum berpihak. Festival tersebut dimenangkan oleh Grass Rock asal Surabaya. Meski kalah, Slank justru mendapatkan sesuatu yang lebih penting: pengakuan atas identitas musik mereka yang berbeda.

 

Formasi II Slank (1984): Awal Perubahan Besar

Memasuki akhir 1984, dinamika internal mulai terjadi. Kiki memutuskan hengkang dari band, membuka jalan bagi perubahan formasi. Ini menjadi awal dari fase transisi menuju formasi berikutnya.

Di awal 1985, Slank merekrut Adrian Sidharta yaitu kakak kandung Bimbim yang membawa warna baru lewat permainan keyboard. Kehadirannya memperkaya sound Slank yang sebelumnya didominasi gitar.

Namun, perubahan belum berhenti. Tak lama setelah itu, Erwan memilih mundur untuk melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat. Posisi vokalis kemudian diisi oleh dua perempuan, Uti Suharyani dan Lala yabg merupakan sebuah keputusan tak lazim di skena rock saat itu.

 

Dari Eksperimen ke Legenda

Perjalanan awal Slank bukanlah cerita tentang kesempurnaan, melainkan tentang keberanian bereksperimen, menerima kekurangan, dan menjadikannya identitas. Dari panggung kecil hingga festival besar, dari ejekan “slenge’an” hingga menjadi nama besar, Slank membuktikan bahwa keaslian adalah kekuatan utama dalam musik.

Apa yang dimulai sebagai band remaja dengan gaya urakan, perlahan menjelma menjadi ikon yang tak tergantikan dalam sejarah musik Indonesia. Dan semuanya berawal dari satu hal sederhana yaitu keberanian untuk menjadi berbeda.

 

***