Queensha.id – Jakarta,
Di tengah terik menyengat kawasan Cilincing, sosok pria berjas rapi lengkap dengan peci dan kacamata hitam tampak kontras mendorong gerobak bakso. Bukan pejabat, bukan pula penghulu. Ia adalah Sugiyo (45), yang lebih dikenal sebagai Bang Baron merupakan penjual bakso dengan gaya “perlente” yang kini jadi buah bibir warga.
“Saya bukan penghulu, bukan pula pejabat, saya adalah penjual bakso,” ujarnya lugas.
Gaya nyentriknya bukan tanpa alasan. Di balik setelan jas yang membuatnya bercucuran keringat, Baron menyimpan strategi dagang yang sederhana namun efektif: menarik perhatian lewat penampilan, lalu mempertahankan pelanggan dengan rasa dan pelayanan.
Gerobak bertuliskan “Bakso Perlente Bang Baron” yang mangkal di depan rumahnya hampir tak pernah sepi. Mayoritas pembelinya adalah ibu-ibu sekitar yang bukan hanya datang untuk makan, tetapi juga mencari hiburan dari canda khas Baron.
“Awalnya aneh lihat dia pakai jas, tapi lama-lama jadi terbiasa. Apalagi dia sering melawak,” kata Afni, salah satu pelanggan setia.
Menu yang ditawarkan pun beragam, mulai dari bakso isi telur puyuh hingga bakso urat dengan kuah panas yang menggoda. Meski cuaca panas Cilincing tak kenal ampun, Baron tetap konsisten dengan ciri khasnya.
“Pakai jas memang panas, tapi ini cara untuk menarik pelanggan. Mereka suka yang rapi dan pelayanan yang baik,” jelasnya, dilansir dari BBC, Minggu (12/4).
Di balik kesan santai dan penuh canda, Baron adalah pekerja keras. Ia mengaku hanya tidur sekitar dua jam sehari. Waktunya tersita untuk belanja bahan, memasak, hingga melayani pelanggan.
Kerja keras itu terbayar. Dalam sehari, hampir 300 porsi bakso ludes terjual.
Perjalanan usahanya pun tidak mulus. Pria asal Brebes, Jawa Tengah, ini sempat membuka usaha di kampung halaman sebelum kembali merantau ke Jakarta Utara. Kini, usaha di Brebes dilanjutkan oleh istri dan anak-anaknya.
Untuk menjaga pelanggan tetap terhubung, Baron memanfaatkan media sosial seperti TikTok. Ia kerap siaran langsung untuk memberi tahu lokasi berjualannya yang kerap berpindah.
Langkah itu terbukti jitu. Di tengah persaingan usaha kuliner yang ketat, Baron justru tampil beda yakni mengandalkan keunikan, konsistensi, dan kedekatan dengan pelanggan.
Di balik jas yang basah oleh keringat, ada pesan sederhana yang ia bawa berdagang bukan sekadar soal jualan, tetapi juga soal cara memperlakukan orang.
Dan di Cilincing, Bang Baron telah membuktikan bahwa gaya boleh nyentrik, tapi hasil tetap fantastik.
***

Tinggalkan Balasan