Queensha.id – Banyuwangi,

 

Pagi bagi Riza Purnamasari (41) bukan sekadar awal hari, melainkan medan pertama perjuangan. Saat sebagian orang masih terlelap, perempuan asal Banyuwangi yang akrab disapa Icha itu sudah sibuk menyiapkan dua anaknya berangkat sekolah. Dari sana, perannya berubah cepat mulai dari ibu menjadi pekerja, dari pengasuh menjadi tulang punggung keluarga.

Rutinitasnya nyaris tanpa jeda. Mengantar anak, bekerja sebagai sales di dealer mobil, menyempatkan olahraga, hingga tetap aktif di komunitas perempuan. Hari-harinya padat, tapi penuh arah.

Sejak 2019, Icha menjalani semuanya seorang diri. Ia memilih berpisah dari suaminya karena ketidakcocokan. Keputusan itu berat, terlebih karena datang bersamaan dengan badai Pandemi COVID-19 yang mengguncang banyak sendi kehidupan.

“Tiap hari masih dikasih napas sama Allah, berarti masih ada kesempatan jadi lebih baik,” ujarnya lirih namun tegas.

 

Titik Terendah yang Menguji

Tak banyak yang tahu, di balik sosoknya yang kini tampak mapan, Icha pernah benar-benar jatuh. Tahun 2019 menjadi fase paling gelap. Ia harus memulai hidup dari nol hingga tanpa harta, tanpa kendaraan, bahkan tanpa rumah sendiri.

Bersama ibunya dan dua anaknya, Icha tinggal di satu kamar kos sempit. Untuk mengantar anak sekolah, ia berjalan kaki. Sesekali meminjam sepeda motor satpam kantornya demi bertahan.
Namun, ia tidak berhenti.

Tahun berikutnya, ia fokus melunasi utang keluarga. Perlahan, hidup mulai menunjukkan titik terang.

 

Bangkit dan Membalik Keadaan

Memasuki 2021, kerja kerasnya mulai berbuah. Ia mampu menabung, memberangkatkan ibunya umrah, membeli mobil, hingga memiliki rumah sendiri melalui KPR.

Semua itu diraih bukan dari satu sumber penghasilan. Selain bekerja di jaringan penjualan resmi Auto2000, Icha juga berjualan makanan mulai dari rice bowl hingga puding.

“Selama halal dan bisa menghasilkan, saya jalani,” katanya.

Setahun kemudian, ia bahkan berhasil mewujudkan mimpi lamanya yaitu pergi ke Paris, kota impian sejak SMP. Sebuah pencapaian yang bukan hanya soal materi, tapi bukti bahwa perjuangan panjangnya tidak sia-sia.

 

Anak Tetap Nomor Satu

Di tengah tekanan pekerjaan, Icha memegang satu prinsip: anak adalah prioritas utama.

Ia tetap profesional dalam melayani pelanggan, tetapi tak pernah absen saat anak-anaknya membutuhkan di mulai dari pembagian rapor hingga lomba sekolah.

“Kerja penting, tapi anak tetap nomor satu,” tegasnya.

Perjalanan ini pun tidak ia lalui sendirian. Ada sosok ibunya yang setia membantu menjaga anak-anaknya. Dukungan itu menjadi fondasi kuat dalam setiap langkahnya.

 

Berdamai dengan Luka

Menjadi ibu tunggal bukan hanya soal ekonomi, tapi juga mental. Icha mengaku sempat merasa malu di awal perpisahan. Bahkan, untuk menjawab pertanyaan sederhana seperti “suaminya di mana?”, ia memilih menghindar.

“Dulu saya jawab di luar kota, biar gak panjang,” ujarnya sambil tersenyum kecil.

Namun waktu mengajarkannya banyak hal. Kini, ia telah berdamai dengan keadaan. Tidak lagi peduli pada penilaian orang lain. Ia memilih fokus pada hidupnya, anak-anaknya, dan rasa syukur yang terus ia jaga.

Hubungannya dengan mantan suami pun membaik. Mereka sepakat tetap bekerja sama demi masa depan anak-anak.

 

Kartini Masa Kini: Melawan Rasa Takut

Bagi Icha, makna Raden Ajeng Kartini di masa kini bukan sekadar soal emansipasi pendidikan. Perempuan modern, terutama ibu tunggal, menghadapi tantangan berbeda yakni melawan rasa takut dan stigma.

“Kartini masa kini harus percaya diri. Jangan karena janda merasa lemah,” ujarnya.

Ia percaya perempuan dibekali kekuatan lebih, bukan untuk mengeluh, tetapi untuk bangkit.

Pesannya sederhana namun kuat: jangan merasa sendirian, jangan terlalu merasa kuat hingga lupa berserah, dan jangan berhenti bersyukur.

 

Kemenangan yang Sunyi

Kini, di titik hidup yang lebih tenang, Icha memilih satu kata untuk menggambarkan perjalanannya yaitu glory untuk kemenangan.

Bukan kemenangan yang riuh, melainkan yang lahir dari air mata, kerja keras, dan proses panjang berdamai dengan diri sendiri.

Ia tidak lagi berlari untuk membuktikan sesuatu pada orang lain. Ia hanya ingin terus berjalan, menemani anak-anaknya tumbuh, dan menikmati setiap fase kehidupan.

“Selama ada Allah, aku baik-baik saja. Aku tenang. Aku bahagia,” tuturnya.
Dan mungkin, di situlah letak kemenangan yang sesungguhnya.

 

***

Kompas.