Queensha.id – Jakarta,

 

Perubahan lanskap digital membuka peluang tak terduga bagi ibu rumah tangga. Profesi konten kreator kini tak lagi identik dengan selebritas atau kaum muda urban, melainkan menjadi ladang cuan baru yang mulai digarap serius dari ruang-ruang domestik.

Di tengah tekanan ekonomi dan perubahan gaya hidup pascapandemi, banyak perempuan memilih memanfaatkan media sosial sebagai sarana produktif. Bukan sekadar berbagi aktivitas harian, tetapi membangun personal branding hingga menghasilkan pendapatan yang signifikan.

Fenomena ini tercermin dari kisah Gracesyera (31), ibu tiga anak yang berhasil mengubah keterbatasan menjadi peluang. Berawal dari kondisi ekonomi yang terpukul saat pandemi Covid-19, ia mulai membuat konten sederhana dari rumah yang tanpa peralatan mahal, tanpa pengalaman profesional.

“Awalnya benar-benar nol. Hanya review produk yang dipakai sehari-hari. Tapi justru dari situ brand mulai melirik,” ungkapnya, dilansir dari Liputan6.

Langkah kecil tersebut menjadi titik balik. Konsistensi dan kejujuran dalam menyajikan konten membuatnya perlahan dikenal, hingga membuka berbagai peluang kerja sama komersial.

 

Bukan Sekadar Tren, Tapi Strategi Bertahan Hidup

Menjadi konten kreator bagi ibu rumah tangga kini lebih dari sekadar mengikuti tren. Ini adalah strategi adaptif di tengah ketidakpastian ekonomi. Dengan memanfaatkan ponsel dan akses internet, aktivitas rumah tangga dapat diubah menjadi konten bernilai ekonomi.

Namun, perjalanan ini tidak instan. Dibutuhkan pemahaman tentang algoritma media sosial, kemampuan storytelling, serta konsistensi dalam membangun audiens. Gracesyera mengakui, proses belajar menjadi kunci utama untuk bertahan.

“Konten itu bukan hanya soal bagus secara visual, tapi juga harus bisa menjangkau audiens yang tepat,” jelasnya.

 

Menemukan Niche: Kunci Menembus Pasar

Salah satu tantangan terbesar adalah menentukan niche. Banyak pemula terjebak mengikuti tren tanpa arah yang jelas. Padahal, kekuatan utama justru terletak pada keaslian.

Gracesyera akhirnya menemukan jalannya di konten parenting merupakan tema yang sesuai dengan kehidupannya sehari-hari. Pendekatan ini membuat kontennya terasa lebih autentik dan mudah diterima.

“Kalau sesuai kehidupan kita, lebih mudah konsisten dan tidak terasa dibuat-buat,” katanya.

Produksi Sederhana, Dampak Maksimal
Berbeda dari anggapan umum, konten yang “terlalu sempurna” justru mulai ditinggalkan. Audiens kini lebih menyukai konten yang real dan relatable.

Dengan memanfaatkan aktivitas sehari-hari bersama anak, Gracesyera hanya merekam momen sederhana, lalu menambahkan narasi melalui voice over. Strategi ini terbukti efektif sekaligus efisien bagi ibu rumah tangga dengan keterbatasan waktu.

 

Sumber Cuan Kian Beragam

Monetisasi menjadi daya tarik utama profesi ini. Tidak hanya dari endorsement, peluang penghasilan kini semakin luas di mulai dari affiliate marketing, kampanye buzzer, hingga penjualan produk digital seperti kelas online.

Diversifikasi ini menjadi kunci agar konten kreator tidak bergantung pada satu sumber pendapatan. Bahkan, banyak yang mampu menjadikan aktivitas ini sebagai profesi utama.

 

Berani Memulai, Bukan Menunggu Sempurna

Di tengah peluang besar tersebut, satu hal yang kerap menjadi penghambat adalah rasa ragu. Banyak yang menunda karena merasa belum siap atau belum memiliki peralatan memadai.

Padahal, menurut Gracesyera, kunci utama justru terletak pada keberanian memulai.

“Tidak perlu menunggu sempurna. Mulai saja dari yang ada. Justru yang sederhana dan jujur itu yang paling disukai,” tegasnya.

Fenomena ini menegaskan satu hal: peran ibu rumah tangga kini tidak lagi terbatas pada ruang domestik. Dengan kreativitas dan akses digital, mereka mampu menjadi motor ekonomi baru—mengubah aktivitas harian menjadi sumber penghasilan yang nyata.

Di era digital, dapur bukan lagi batas. Justru dari sanalah, peluang besar bisa dimulai.

 

***

Liputan6.

(24/4/2026).