Queensha.id – Edukasi Sosial,
Belakangan ini, masyarakat semakin sering menjumpai remaja laki-laki yang tampil dengan gaya bicara lembut, ekspresi wajah menyerupai perempuan, hingga membuat konten bergaya “girlfriend” di platform seperti Facebook, Instagram, dan TikTok. Sebagian dari mereka masih berusia SMP maupun SMA.
Fenomena tersebut sering memunculkan pertanyaan di masyarakat: apakah perilaku seperti itu merupakan bawaan sejak lahir, hasil pengaruh lingkungan, atau sekadar mengikuti tren media sosial?
Menurut psikologi modern, jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Setiap individu memiliki latar belakang perkembangan yang berbeda-beda.
Apakah Itu Bawaan Lahir?
Para psikolog menjelaskan bahwa tidak semua anak laki-laki yang terlihat feminin memiliki penyebab yang sama.
Sebagian anak sejak kecil memang menunjukkan sifat yang lebih lembut, sensitif, atau lebih nyaman dengan aktivitas tertentu. Namun penelitian menunjukkan bahwa ekspresi gender dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor, seperti temperamen bawaan, pola pengasuhan, pengalaman hidup, lingkungan sosial, serta proses perkembangan psikologis. Tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan semua kasus.
Apa Saja Penyebabnya?
Beberapa faktor yang dapat berperan antara lain:
- Temperamen atau karakter bawaan yang lebih lembut.
- Pola asuh dan lingkungan keluarga.
- Pergaulan dengan teman sebaya.
- Pengaruh media sosial dan budaya populer.
- Keinginan memperoleh perhatian, pengakuan, atau popularitas.
- Masa pencarian jati diri yang memang umum terjadi pada remaja.
Psikolog juga menjelaskan bahwa masa remaja merupakan periode ketika seseorang sedang mencari identitas diri sehingga lebih mudah mengikuti tren atau meniru figur yang dianggap menarik.
Bagaimana Awalnya?
Pada sebagian remaja, perilaku tersebut dapat mulai tampak sejak masa kanak-kanak. Pada sebagian lainnya baru muncul ketika memasuki SMP atau SMA karena pengaruh teman, komunitas, maupun media sosial.
Tidak semua perilaku feminin pada anak laki-laki berarti akan menetap hingga dewasa. Perkembangan setiap individu berbeda.
Sampai Kapan Bisa Berlangsung?
Tidak ada batas waktu yang pasti.
Pada sebagian orang, ekspresi tersebut berubah seiring bertambahnya usia dan kematangan psikologis. Pada sebagian lainnya dapat menetap sebagai bagian dari cara mereka mengekspresikan diri. Karena itu, psikolog tidak menyimpulkan hanya dari penampilan atau gaya berbicara seseorang.
Apa Akibatnya?
Dampaknya sangat bergantung pada lingkungan.
Beberapa remaja dapat mengalami:
- Bullying atau perundungan.
- Dikucilkan oleh teman.
- Tekanan psikologis.
- Menurunnya rasa percaya diri.
- Kecemasan hingga depresi apabila terus-menerus mendapat stigma.
Namun perlu dibedakan bahwa dampak tersebut sering kali muncul karena perlakuan lingkungan, bukan semata-mata karena ekspresi dirinya.
Bagaimana Penilaian Masyarakat?
Di Indonesia, norma budaya dan agama pada umumnya mengharapkan laki-laki tampil maskulin. Karena itu, laki-laki yang berpenampilan feminin sering memperoleh penilaian negatif, komentar tajam, atau stigma dari masyarakat.
Bagaimana Perasaan Keluarga?
Sebagian keluarga merasa malu, khawatir, bingung, atau takut menjadi bahan pembicaraan lingkungan. Namun ada juga keluarga yang memilih mendampingi anak untuk memahami kondisi psikologisnya dan memberikan dukungan emosional.
Para psikolog menekankan bahwa komunikasi yang baik dalam keluarga lebih membantu dibanding cemoohan atau kekerasan verbal.
Apakah Bisa “Disembuhkan”?
Istilah “disembuhkan” tidak tepat jika hanya mengacu pada gaya bicara, gestur, atau ekspresi yang feminin.
Jika perilaku tersebut merupakan bagian dari perkembangan, pencarian identitas, atau pengaruh lingkungan, maka pendekatan yang dianjurkan adalah konseling psikologis bila remaja atau keluarganya mengalami kesulitan, kecemasan, atau konflik. Psikolog akan membantu memahami faktor-faktor yang memengaruhi perilaku tersebut dan mendukung kesehatan mental remaja, bukan sekadar mengubah penampilannya.
Pandangan Pakar Psikologi
Sejumlah psikolog Indonesia menjelaskan bahwa perkembangan identitas dan ekspresi diri pada remaja dipengaruhi oleh interaksi faktor biologis, psikologis, keluarga, teman sebaya, dan lingkungan sosial. Karena itu, setiap kasus perlu dipahami secara individual dan tidak dapat disimpulkan hanya dari penampilan luar. Pendampingan keluarga, komunikasi yang terbuka, dan bantuan profesional bila diperlukan merupakan langkah yang lebih tepat daripada memberi label atau stigma.
Fenomena remaja laki-laki yang bergaya gemulai di media sosial tidak memiliki satu penyebab tunggal. Psikologi memandang bahwa perilaku tersebut dapat dipengaruhi oleh kombinasi faktor bawaan, perkembangan, lingkungan, serta pengaruh media sosial. Penilaian hanya berdasarkan penampilan tidak cukup untuk memahami kondisi seseorang. Pendekatan yang mengedepankan komunikasi, edukasi, dan pendampingan psikologis akan lebih bermanfaat dibanding stigma atau penghakiman.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan