Queensha.id – Edukasi Islam,
Perbincangan tentang bagaimana seseorang meninggal dunia yaitu apakah dengan rasa sakit, tiba-tiba, atau dalam kondisi tenang dan kerap memunculkan spekulasi di tengah masyarakat. Tidak sedikit yang mengaitkan cara kematian dengan amal perbuatan semasa hidup, bahkan menganggap kematian yang menyakitkan sebagai tanda buruk atas perilaku seseorang.
Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya dibenarkan dalam ajaran Islam. Sejumlah ulama di Indonesia menegaskan bahwa cara seseorang meninggal bukanlah ukuran mutlak baik atau buruknya amal seseorang.
Pendakwah nasional, Abdul Somad, dalam berbagai ceramahnya menjelaskan bahwa kematian merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT yang tidak bisa diukur hanya dari tampilan lahiriah.
“Kita tidak bisa menilai seseorang dari cara wafatnya. Itu wilayah takdir Allah. Yang lebih penting adalah bagaimana amalnya selama hidup,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Quraish Shihab. Ia menekankan bahwa manusia tidak memiliki kapasitas untuk menghakimi hubungan antara sebab kematian dengan dosa atau pahala seseorang.
Menurutnya, musibah seperti kecelakaan, kebakaran, atau sakit keras bisa terjadi kepada siapa saja, tanpa memandang latar belakang amalnya.
“Jangan menyederhanakan takdir. Tidak semua penderitaan adalah hukuman, bisa jadi itu ujian, bahkan bentuk kasih sayang Allah,” jelasnya.
Dalam perspektif Islam, kematian dengan kondisi tertentu memang memiliki makna tersendiri. Misalnya, orang yang wafat karena sakit berat atau kecelakaan dalam kondisi tertentu bahkan bisa dikategorikan sebagai syahid. Artinya, penderitaan sebelum wafat tidak selalu bermakna buruk.
Ulama kharismatik Indonesia, Yahya Cholil Staquf, juga mengingatkan pentingnya menjaga cara pandang masyarakat agar tidak mudah mengaitkan musibah dengan stigma negatif.
“Bahaya jika masyarakat terbiasa menghakimi. Itu bisa melukai keluarga yang ditinggalkan dan menyesatkan pemahaman agama,” ujarnya dalam sebuah forum keagamaan.
Meski demikian, para ulama sepakat bahwa setiap manusia tetap harus melakukan introspeksi diri. Kematian, dalam bentuk apa pun, adalah pengingat bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara dan setiap orang akan mempertanggungjawabkan amalnya.
Narasi yang menyebut seseorang meninggal secara tragis karena dosa masa lalu, menurut para ulama, perlu diluruskan. Sebab, hal tersebut tidak hanya berpotensi keliru secara teologis, tetapi juga dapat menimbulkan stigma sosial yang tidak adil.
Jadi, cara seseorang meninggal bukanlah indikator pasti dari baik atau buruknya kehidupan yang ia jalani. Yang menjadi ukuran sejati tetaplah amal perbuatan dan niat yang hanya diketahui oleh Allah SWT.
Masyarakat pun diimbau untuk lebih bijak dalam menyikapi kabar kematian, dengan mengedepankan empati, doa, dan penghormatan kepada almarhum serta keluarga yang ditinggalkan.
***
(Queensha Jepara | 2 Mei 2026)

Tinggalkan Balasan