Queensha.id – Jakarta,
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) kini memiliki tugas tambahan di luar fungsi pertahanan negara, yakni membantu percepatan program swasembada pangan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Sjafrie dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR RI di Jakarta pada Selasa (19/5/2026). Dalam rapat itu, pemerintah menjelaskan adanya pembagian tugas baru kepada TNI Angkatan Darat (AD) dan TNI Angkatan Laut (AL) untuk mendukung sektor pertanian dan peternakan nasional.
Menurut Sjafrie, TNI AD akan difokuskan pada pengembangan pertanian padi, jagung, serta tanaman pangan lainnya di luar palawija. Sementara TNI AL diberi tugas khusus untuk mengembangkan produksi kedelai nasional.
“Kami sudah melakukan pembagian tugas bahwa untuk Angkatan Darat tugasnya adalah pertanian jagung dan padi selain palawija,” ujar Sjafrie dalam rapat bersama Komisi I DPR.
TNI AL Fokus Produksi Kedelai untuk Kurangi Impor
Dalam penjelasannya, Sjafrie menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai. Selama ini, kebutuhan kedelai nasional untuk bahan baku tempe, tahu, hingga pakan ternak masih banyak dipenuhi dari luar negeri.
Karena itu, pemerintah mulai melibatkan TNI AL untuk mengembangkan budidaya kedelai dalam skala besar. Bahkan, menurut Sjafrie, hasil panen kedelai yang dikelola TNI AL mulai menunjukkan kualitas yang lebih baik.
Pemerintah berharap langkah ini dapat membantu Indonesia menekan impor pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang.
Apa Itu Swasembada Pangan?
Swasembada pangan adalah kondisi ketika suatu negara mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri tanpa bergantung besar pada impor dari negara lain.
Program ini menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, terutama untuk komoditas strategis seperti:
- Beras
- Jagung
- Kedelai
- Daging
- Gula
- Bawang putih
Pemerintah menilai swasembada pangan penting karena berkaitan langsung dengan stabilitas ekonomi, harga bahan pokok, hingga keamanan nasional.
Jika produksi dalam negeri kuat, Indonesia dianggap tidak mudah terdampak krisis global, perang dagang, maupun gejolak harga internasional.
Mengapa TNI Dilibatkan?
Pelibatan TNI dalam sektor pangan bukan tanpa alasan. Pemerintah menilai TNI memiliki sumber daya manusia, jaringan teritorial hingga tingkat desa, serta kemampuan organisasi yang cepat dalam menjalankan program nasional.
Selain itu, TNI juga dianggap mampu membantu percepatan pembukaan lahan, pendampingan petani, distribusi logistik, hingga pengamanan kawasan pangan strategis.
Melalui program Batalyon Teritorial Pembangunan, pemerintah bahkan mulai membentuk kompi khusus pertanian dan peternakan di dalam satuan TNI.
“Di batalyon itu ada kompi pertanian dan ada kompi peternakan,” kata Sjafrie.
Manfaat yang Diharapkan untuk Masyarakat
Jika program ini berjalan maksimal, ada sejumlah dampak positif yang diharapkan dapat dirasakan masyarakat luas, di antaranya:
1. Harga Pangan Lebih Stabil
Produksi pangan dalam negeri yang meningkat diharapkan mampu menjaga harga beras, jagung, dan kedelai agar tidak mudah melonjak.
2. Mengurangi Ketergantungan Impor
Indonesia selama ini masih mengimpor jutaan ton kedelai setiap tahun. Jika produksi lokal meningkat, devisa negara bisa dihemat.
3. Membuka Lapangan Kerja
Program pertanian skala besar berpotensi membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat desa, petani, hingga sektor distribusi pangan.
4. Ketahanan Nasional Lebih Kuat
Pangan dianggap bagian penting dari pertahanan negara. Negara yang kuat pangannya dinilai lebih siap menghadapi krisis global.
Pengamat Ingatkan TNI Tetap Fokus Fungsi Utama
Meski mendapat dukungan dari sejumlah pihak, pelibatan TNI di sektor sipil juga memunculkan perhatian publik. Sebagian pengamat mengingatkan agar tugas tambahan tersebut tidak mengganggu fungsi utama TNI sebagai alat pertahanan negara.
Karena itu, pemerintah diminta memastikan pelibatan TNI tetap berada dalam koridor membantu percepatan program nasional, bukan mengambil alih peran masyarakat sipil maupun petani.
Di sisi lain, DPR juga meminta agar program swasembada pangan dilakukan dengan melibatkan kementerian terkait, akademisi, hingga kelompok tani agar hasilnya benar-benar efektif dan berkelanjutan.
Tantangan Besar di Lapangan
Meski terdengar menjanjikan, program swasembada pangan masih menghadapi berbagai tantangan besar, seperti:
- Alih fungsi lahan pertanian
- Perubahan iklim dan cuaca ekstrem
- Ketersediaan pupuk
- Regenerasi petani muda
- Infrastruktur irigasi
- Ketergantungan benih impor
Karena itu, keterlibatan TNI dinilai hanya salah satu bagian dari solusi. Pemerintah tetap perlu memperkuat kebijakan pertanian nasional secara menyeluruh agar target swasembada benar-benar tercapai.
Program ini kini menjadi sorotan publik karena menunjukkan perubahan peran TNI yang semakin luas, tidak hanya menjaga pertahanan negara, tetapi juga ikut membantu ketahanan pangan nasional di tengah tantangan global yang terus berkembang.
***
Queensha Jepara, (21 Mei 2026).

Tinggalkan Balasan