Queensha.id – Edukasi Islam,

 

Masyarakat Indonesia kerap dihadapkan pada berbagai informasi keagamaan yang beredar luas di media sosial, salah satunya mengenai “7 bagian tubuh manusia yang disukai jin atau setan”. Narasi tersebut biasanya disertai potongan hadis dan penjelasan yang mengaitkan bagian tubuh tertentu dengan keberadaan jin.

Namun, bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai hal tersebut? Apakah seluruh klaim itu benar secara syariat, atau hanya penafsiran yang berkembang di masyarakat?

 

 

Islam Mengakui Keberadaan Jin dan Setan

Dalam ajaran Islam, keberadaan jin memang diakui. Jin disebut sebagai makhluk ciptaan Allah yang diciptakan dari api, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa jin memiliki kehidupan sebagaimana manusia, ada yang beriman dan ada pula yang kafir.

Sementara setan dalam Islam dipahami sebagai makhluk yang berusaha menggoda manusia agar menjauh dari perintah Allah.

Namun demikian, para ulama menegaskan bahwa pembahasan mengenai jin harus tetap merujuk pada dalil yang sahih dan tidak berlebihan dalam menafsirkan hadis.

 

 

Hadis Tentang Menguap dan Menutup Mulut

Salah satu hadis yang sering dikutip berkaitan dengan mulut adalah anjuran menutup mulut saat menguap.

Rasulullah SAW bersabda bahwa ketika seseorang menguap, hendaknya ia menutup mulut karena setan masuk bersama orang yang menguap.

Hadis ini diriwayatkan oleh Sahih Muslim.

Para ulama menjelaskan bahwa hadis tersebut mengandung adab dan etika dalam Islam, yaitu menjaga sopan santun ketika menguap serta menghindari sikap malas.

Mayoritas ulama tidak memahami hadis ini secara harfiah bahwa setan benar-benar masuk secara fisik ke dalam tubuh manusia melalui mulut, melainkan sebagai bentuk gangguan spiritual dan simbol kelalaian.

 

 

Tentang Kuku Panjang dan Kebersihan

Hadis mengenai memotong kuku juga dikenal luas dalam Islam. Rasulullah SAW menganjurkan umat Muslim menjaga kebersihan tubuh, termasuk memotong kuku.

Dalam pandangan ulama, kuku panjang lebih dikaitkan dengan kebersihan dan kesehatan, bukan semata-mata tempat tinggal jin.

Islam sangat menekankan kebersihan sebagai bagian dari iman. Karena itu, menjaga kuku tetap bersih dan pendek termasuk sunnah yang dianjurkan.

 

 

Hidung dan Anjuran Bersuci

Dalam hadis riwayat Sahih Muslim disebutkan bahwa saat bangun tidur, seseorang dianjurkan membersihkan hidung sebanyak tiga kali karena setan bermalam di batang hidung.

Ulama menjelaskan bahwa hadis ini mengandung hikmah kebersihan dan kesehatan. Membersihkan hidung saat bangun tidur juga memiliki manfaat medis karena membantu membersihkan saluran pernapasan dari kotoran dan lendir.

 

 

Hadis “Setan Kencing di Telinga”

Ada pula hadis yang menyebut setan “kencing di telinga” orang yang tertidur hingga melewatkan salat malam.

Menurut para ulama, ungkapan tersebut adalah bentuk majas atau perumpamaan untuk menggambarkan kelalaian dan beratnya seseorang bangun beribadah.

Makna utamanya bukan persoalan fisik, tetapi teguran spiritual agar umat Islam tidak lalai menjalankan ibadah.

 

 

Tentang Setan Mengalir dalam Darah

Hadis mengenai setan berjalan melalui aliran darah manusia juga termasuk hadis sahih.

Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan kuatnya godaan setan terhadap manusia. Namun, hadis tersebut tidak dimaknai bahwa setan secara biologis hidup dalam darah manusia seperti penyakit.

Maknanya lebih kepada bahwa godaan setan dapat memengaruhi pikiran, hawa nafsu, dan emosi manusia dengan sangat dekat.

 

 

Benarkah Jin Tinggal di Pusar dan Kemaluan?

Sementara itu, klaim mengenai jin tinggal di pusar maupun kemaluan manusia tidak memiliki dasar hadis sahih yang kuat dan sering kali hanya berkembang dalam ceramah populer maupun media sosial.

Para ulama mengingatkan masyarakat agar berhati-hati menerima informasi agama yang belum jelas sumber dan derajat hadisnya.

Meski demikian, Islam memang mengajarkan adab ketika membuka pakaian, masuk kamar mandi, maupun menjaga aurat dengan membaca basmalah dan doa-doa tertentu.

Tujuannya adalah memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan makhluk gaib serta menjaga kesopanan dan kehormatan diri.

 

 

Pandangan Ulama Indonesia

Sejumlah ulama Indonesia menekankan bahwa pembahasan jin dan setan tidak boleh membuat umat Islam terjebak dalam ketakutan berlebihan.

Quraish Shihab pernah menjelaskan bahwa banyak ayat dan hadis tentang setan harus dipahami secara proporsional, yakni sebagai simbol godaan dan dorongan negatif dalam diri manusia.

Sementara Buya Yahya dalam beberapa ceramahnya mengingatkan agar masyarakat tidak mudah mempercayai cerita mistis yang tidak memiliki dasar kuat dalam agama.

Menurutnya, Islam lebih menekankan penguatan iman, ibadah, dzikir, dan akhlak dibanding terlalu fokus membahas keberadaan jin secara berlebihan.

Pandangan serupa juga sering disampaikan Abdul Somad yang menegaskan bahwa perlindungan terbaik dari gangguan setan adalah menjaga salat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan memperbaiki perilaku sehari-hari.

 

 

Pentingnya Literasi Agama di Era Digital

Maraknya informasi keagamaan di media sosial membuat masyarakat perlu lebih selektif dalam menerima dan menyebarkan konten.

Tidak semua kutipan hadis yang viral memiliki penjelasan lengkap sesuai ilmu tafsir maupun syarah hadis.

Karena itu, masyarakat dianjurkan merujuk kepada ulama terpercaya dan sumber-sumber Islam yang sahih agar tidak terjebak dalam pemahaman yang keliru atau berlebihan mengenai jin dan setan.

Dalam Islam, fokus utama bukanlah takut kepada jin, melainkan memperkuat iman, menjaga ibadah, dan memperbaiki akhlak sebagai benteng utama menghadapi segala bentuk godaan.

 

***

(Queensha Jepara, 25 Mei 2026)