Queensha.id – Edukasi Sosial,
Di tengah kehidupan masyarakat, tidak sedikit kisah kelam yang berawal dari sesuatu yang dianggap sepele. Salah satunya adalah kebiasaan ikut-ikutan dalam lingkungan pergaulan yang kurang baik.
Banyak kasus menunjukkan seseorang awalnya hanya ikut berkumpul bersama teman-teman saat menonton orkes dangdut atau hiburan malam. Dalam suasana tersebut, terkadang muncul ajakan untuk mencoba minuman keras.
Awalnya hanya sekadar “mencicipi”. Namun karena rasa penasaran dan dorongan lingkungan, kebiasaan itu perlahan berubah menjadi rutinitas.
Keesokan harinya mulai ikut patungan membeli minuman keras. Minggu berikutnya mulai mencari kesempatan untuk mabuk bersama. Lama-kelamaan aktivitas tersebut menjadi kebutuhan yang dianggap biasa.
Padahal, tanpa disadari, kerusakan besar sedang mulai terbentuk dalam kehidupannya.
Minuman Keras Merusak Akal dan Mengikis Kesadaran Beragama
Salah satu dampak paling nyata dari minuman keras adalah menurunnya kesadaran seseorang terhadap kewajiban agama.
Awalnya mungkin masih melaksanakan sholat lima waktu. Namun karena sering pulang larut malam dan berada dalam kondisi mabuk, mulai meninggalkan sholat Isya.
Besoknya tertidur hingga melewatkan sholat Subuh.
Hari berikutnya meninggalkan Magrib.
Sedikit demi sedikit ibadah mulai dianggap tidak penting. Hati menjadi keras dan rasa bersalah semakin berkurang.
Dalam banyak kasus, seseorang yang terbiasa mabuk akhirnya meninggalkan sholat secara keseluruhan karena pikirannya lebih dipenuhi oleh kesenangan sesaat daripada tanggung jawab kepada Allah SWT.
Bahasa Kasar dan Emosi Tidak Terkendali Mulai Muncul
Minuman keras tidak hanya merusak fisik, tetapi juga memengaruhi kepribadian.
Orang yang sebelumnya santun dapat berubah menjadi mudah marah, berbicara kasar, dan sulit mengendalikan emosi.
Keberanian yang muncul akibat pengaruh alkohol bukanlah keberanian sejati, melainkan hilangnya kemampuan berpikir jernih.
Akibatnya banyak konflik yang sebenarnya bisa dihindari justru terjadi karena seseorang sedang berada dalam pengaruh minuman keras.
Tidak sedikit pertengkaran, perkelahian, hingga tindak kekerasan berawal dari kondisi mabuk.
Produktivitas Menurun dan Karier Mulai Hancur
Ketika seseorang mulai terbiasa mabuk, dampaknya akan merembet ke dunia kerja.
Tubuh yang lelah akibat begadang membuat konsentrasi menurun.
Pekerjaan yang seharusnya selesai tepat waktu menjadi terbengkalai.
Sering terlambat masuk kerja.
Kinerja menurun.
Target pekerjaan tidak tercapai.
Ketika kebiasaan ini terus berulang, perusahaan tentu tidak bisa mentoleransi selamanya.
Teguran dari atasan mulai berdatangan.
Gaji dipotong karena pelanggaran disiplin.
Hubungan dengan rekan kerja memburuk.
Hingga akhirnya kehilangan pekerjaan yang selama ini menjadi sumber penghasilan utama.
Keuangan Kacau dan Ketergantungan pada Orang Tua
Setelah kehilangan pekerjaan, masalah baru mulai muncul.
Sementara kebutuhan hidup terus berjalan, penghasilan sudah tidak ada.
Karena masih memiliki kebiasaan membeli minuman keras dan berkumpul dengan teman-teman yang sama, uang yang ada semakin cepat habis.
Pada kondisi ini banyak orang mulai bergantung kepada orang tua.
Namun ketika permintaan tidak dipenuhi, muncul kemarahan dan konflik keluarga.
Hubungan dengan orang tua yang sebelumnya harmonis berubah menjadi penuh pertengkaran.
Menjual Barang Hingga Terjerumus ke Dunia Kriminal
Ketika kebutuhan ekonomi semakin mendesak dan gengsi untuk tetap dianggap hebat di lingkungan pergaulan masih tinggi, sebagian orang mulai mengambil jalan pintas.
Barang-barang pribadi dijual satu per satu.
– Telepon genggam.
– Sepeda motor.
– Perhiasan dan barang berharga.
– Bahkan perabot rumah tangga.
Namun uang hasil penjualan tidak akan bertahan lama jika pola hidup buruk tetap dijalankan.
Ketika semua barang habis, godaan untuk melakukan tindakan kriminal mulai muncul.
Awalnya mungkin hanya diajak mengambil barang milik orang lain.
Karena berhasil dan tidak tertangkap, muncul keberanian untuk mengulanginya.
Lama-kelamaan pencurian menjadi kebiasaan.
Dari sinilah seseorang yang dulunya memiliki pekerjaan dan masa depan bisa berubah menjadi pelaku kriminal yang hidup dalam ketakutan.
Pandangan Pengamat Sosial Jepara
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai bahwa banyak kasus kriminalitas berawal dari lingkungan pergaulan yang salah dan lemahnya kontrol diri.
“Kerusakan sosial jarang terjadi secara tiba-tiba. Biasanya dimulai dari kebiasaan kecil yang dianggap biasa, seperti ikut-ikutan mabuk, nongkrong tanpa tujuan, dan mengabaikan tanggung jawab. Jika tidak dihentikan sejak awal, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi masalah ekonomi, konflik keluarga, hingga tindak kriminal,” ujarnya.
Menurutnya, keluarga, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, dan lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam mencegah generasi muda terjerumus ke dalam pergaulan yang merusak masa depan.
Pandangan Islam Tentang Minuman Keras dan Pencurian
Dalam Islam, minuman keras atau khamar diharamkan karena merusak akal manusia.
Akal merupakan anugerah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Ketika akal rusak akibat minuman keras, seseorang lebih mudah melakukan perbuatan dosa dan kehilangan kemampuan membedakan mana yang benar dan salah.
Islam juga menempatkan sholat sebagai tiang agama. Ketika seseorang mulai meninggalkan sholat, benteng moral dan spiritualnya semakin lemah.
Akibatnya berbagai perbuatan buruk menjadi lebih mudah dilakukan.
Selain itu, pencurian termasuk dosa besar karena merampas hak orang lain dan merusak ketertiban masyarakat.
Islam mengajarkan bahwa rezeki harus diperoleh melalui cara yang halal, meskipun sedikit. Sebaliknya, harta yang diperoleh melalui jalan haram tidak akan membawa keberkahan dalam kehidupan.
Menjaga Lingkungan Pergaulan Adalah Kunci Keselamatan
Kisah perjalanan dari mabuk-mabukan hingga terjerumus dalam tindak kriminal menjadi pelajaran penting bagi masyarakat.
Kerusakan hidup sering kali tidak dimulai dari kejahatan besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang terus dibiarkan.
Karena itu, memilih lingkungan pergaulan yang baik, menjaga ibadah, menjauhi minuman keras, serta memperkuat hubungan dengan keluarga menjadi langkah penting untuk menjaga masa depan.
Sebab ketika seseorang kehilangan akhlak, pekerjaan, keluarga, dan kepercayaan masyarakat, biaya yang harus dibayar jauh lebih mahal daripada sekadar kehilangan uang. Yang hilang adalah masa depan dan kesempatan untuk hidup lebih baik.
***
Queensha Jepara (Selasa, 9 Juni 2026).

Tinggalkan Balasan