Queensha.id – Jakarta,

 

Wacana penggantian tabung LPG 3 kilogram (kg) dengan Compressed Natural Gas (CNG) mulai menjadi perhatian masyarakat. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memang tengah mengkaji sekaligus menyiapkan peta jalan (roadmap) konversi penggunaan gas bumi sebagai alternatif pengganti LPG bersubsidi.

Namun, masyarakat tidak perlu khawatir. Hingga Sabtu (27/6/2026), pemerintah belum menetapkan penghapusan LPG 3 kg secara nasional. Program yang disiapkan masih berada pada tahap kajian, uji coba, serta persiapan produksi tabung CNG berukuran kecil sebelum diterapkan secara bertahap.

 

Mengapa Pemerintah Ingin Menggantikan LPG dengan CNG?

Pemerintah menilai ketergantungan Indonesia terhadap LPG impor sudah sangat tinggi.

Data Kementerian ESDM menunjukkan konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 1,6 hingga 1,7 juta ton. Sisanya masih harus dipenuhi melalui impor sehingga membebani anggaran negara dalam bentuk subsidi maupun devisa.

Karena itu, pemerintah mulai melirik pemanfaatan gas bumi domestik melalui CNG yang dinilai lebih melimpah dan berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah sedang memfinalisasi konsep pemanfaatan CNG sebagai bagian dari upaya mewujudkan kemandirian energi nasional.

“Rencana pemanfaatan CNG masih dalam tahap pembahasan dan akan segera difinalisasi,” ujar Bahlil, dikutip dari keterangan resmi Kementerian ESDM, Sabtu (27/6/2026).

Masyarakat Tidak Perlu Mengganti Kompor

Salah satu pertanyaan yang paling banyak muncul adalah apakah masyarakat harus membeli kompor baru jika nantinya menggunakan CNG.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman memastikan masyarakat tidak perlu mengganti kompor gas yang saat ini digunakan.

Menurutnya, tabung CNG yang sedang dikembangkan dirancang agar dapat langsung digunakan atau plug and play dengan kompor rumah tangga yang sudah ada.

“Kompor tidak perlu diganti. Tinggal dipasang, kemudian gas langsung dapat digunakan,” ujar Laode.

 

Tabung Lebih Ringan dan Diklaim Lebih Aman

Pemerintah juga menyiapkan tabung CNG berukuran setara 3 kilogram menggunakan material komposit fiber (Tipe 4).

Jenis tabung ini memiliki bobot lebih ringan dibanding tabung baja konvensional serta dirancang memiliki standar keamanan tinggi karena harus mampu menahan tekanan gas yang jauh lebih besar dibanding LPG.

 

Harga Berpotensi Lebih Murah

Selain mengurangi impor, penggunaan CNG diharapkan dapat menekan biaya energi rumah tangga.

Pemerintah menyebut harga CNG berpotensi lebih murah dibanding LPG karena memanfaatkan gas bumi dalam negeri sehingga subsidi negara juga dapat ditekan.

Bahkan, sejumlah kajian memperkirakan beban subsidi energi dapat dihemat hingga sekitar 30 persen apabila program konversi berjalan sesuai rencana.

 

Produksi Tabung CNG Sedang Dipersiapkan

Dirjen Migas Laode Sulaeman mengatakan pemerintah saat ini tengah mempersiapkan produksi tabung CNG ukuran kecil.

Karena teknologi pembuatannya masih terbatas di dalam negeri, pada tahap awal pemerintah juga membuka kemungkinan melakukan impor tabung CNG dari luar negeri, termasuk dari China, sebelum industri nasional mampu memproduksinya secara mandiri.

 

Subsidi Tetap Diberikan

Meski menggunakan bahan bakar yang berbeda, pemerintah memastikan masyarakat berpenghasilan rendah tetap akan mendapatkan perlindungan.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa subsidi energi tetap diberikan apabila program CNG diterapkan sebagai pengganti LPG 3 kilogram.

“Subsidi tetap harus diberikan untuk rakyat yang membutuhkan,” kata Bahlil.

 

Apakah LPG 3 Kg Langsung Dihapus?

Jawabannya belum.

Pemerintah masih menyusun roadmap, menyiapkan regulasi, infrastruktur distribusi, produksi tabung, hingga mekanisme implementasi di lapangan.

Artinya, masyarakat masih menggunakan LPG 3 kilogram seperti biasa sambil menunggu hasil kajian dan keputusan resmi pemerintah mengenai pelaksanaan program konversi tersebut.

 

Tantangan yang Harus Disiapkan

Pengamat energi menilai keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada harga yang lebih murah, tetapi juga kesiapan infrastruktur distribusi, ketersediaan tabung CNG, edukasi kepada masyarakat, serta standar keselamatan penggunaan di rumah tangga.

Apabila seluruh aspek tersebut dipenuhi, konversi LPG ke CNG diyakini dapat menjadi salah satu langkah strategis menuju kemandirian energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG dalam jangka panjang.

Dengan demikian, masyarakat tidak perlu panik terhadap isu penggantian LPG 3 kg. Saat ini pemerintah masih berada pada tahap persiapan dan kajian. Bila nantinya resmi diterapkan, pemerintah menegaskan proses transisi akan dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan keamanan, kenyamanan pengguna, serta keberlanjutan subsidi bagi masyarakat yang berhak.

 

***

Sumber: BS.

Penulis: Vico Rahman.