Queensha.id – Jepara,

 

Di balik kesederhanaan bangunan Sekolah Rakyat Dasar (SRD) 1 Jepara, tersimpan kisah inspiratif tentang keteguhan hati seorang perempuan muda yang memilih mengabdikan hidupnya demi masa depan anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Sosok itu adalah Mita Lia Sofiana (30), perempuan asal Desa Kaligarang, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Meski sempat mengalami kecelakaan hingga harus menjalani operasi akibat patah tulang pada salah satu kakinya, semangatnya untuk mendampingi anak-anak didiknya tidak pernah surut.

Bagi Mita, keterbatasan fisik bukan alasan untuk menghentikan pengabdian.

 

Menanti Kesempatan Mengabdi Selama Bertahun-tahun

Perjalanan Mita menuju dunia pendidikan tidaklah singkat.

Lulusan Sarjana Manajemen Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang tahun 2017 itu telah memendam keinginan menjadi seorang pendidik selama lebih dari tujuh tahun.

Meski cita-citanya belum terwujud sebagai guru formal, jalan pengabdian akhirnya datang ketika ia dipercaya menjadi wali asuh di Sekolah Rakyat Dasar (SRD) 1 Jepara sejak Oktober 2025.

Di sekolah tersebut, Mita mendampingi anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu, bukan hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai sosok orang tua yang hadir setiap hari.

 

Ujian Datang Saat Semangat Sedang Membara

Belum lama menjalankan tugasnya, Mita justru menghadapi cobaan berat.

Ia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan salah satu kakinya mengalami cedera serius hingga harus menjalani operasi.

Dokter menyarankan agar dirinya menjalani istirahat total selama satu bulan demi proses pemulihan.

Namun bagi Mita, meninggalkan anak-anak didiknya terasa jauh lebih berat dibanding rasa sakit yang dialaminya.

Sebulan setelah operasi, ketika kondisi kakinya belum sepenuhnya pulih, ia memutuskan kembali ke asrama sekolah dengan bantuan tongkat.

“Pada masa pemulihan awal, saya jalan pakai tongkat. Susah memang, tapi rasanya hampa cuma duduk di rumah. Sementara saya memiliki anak didik yang juga menjadi tanggung jawab saya,” kenang Mita, dilansir dari berbagai sumber, Sabtu (27/6/2026).

Dengan langkah yang masih tertatih, ia kembali menjalankan aktivitas mendampingi anak-anak, termasuk saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tari maupun aktivitas keseharian di asrama.

 

Menjadi Orang Tua Kedua Selama 24 Jam

Peran wali asuh di SRD 1 Jepara jauh melampaui tugas seorang pengajar.

Mita bersama 11 wali asuh lainnya bekerja secara bergantian selama 24 jam untuk memastikan seluruh kebutuhan anak-anak terpenuhi.

Mereka mendampingi kehidupan para siswa mulai dari bangun tidur, belajar, beribadah, makan bersama, hingga beristirahat.

Dalam keseharian, para wali asuh juga berperan sebagai pembimbing karakter, pendengar keluh kesah, sekaligus figur orang tua yang memberikan kasih sayang kepada anak-anak.

 

Menanamkan Nilai Kehidupan

Selama mendampingi para siswa, Mita berfokus membangun tiga nilai utama.

Pertama, melatih kemandirian, agar anak-anak mampu mengurus kebutuhan dirinya sendiri sejak dini.

Kedua, membentuk kedisiplinan, sebagai bekal menghadapi kehidupan di masa depan.

Ketiga, menumbuhkan karakter yang santun dan penuh empati melalui pendekatan yang lembut dalam setiap proses pendampingan.

Sikapnya yang sabar dan tutur katanya yang halus membuat Mita menjadi sosok yang dekat sekaligus disegani oleh anak-anak di SRD 1 Jepara.

 

“Fokus Kerjakan yang Kita Doakan”

Bagi Mita, apa yang dijalaninya saat ini merupakan jawaban dari doa-doa yang pernah ia panjatkan.

Meski jalannya berbeda dari yang dibayangkan, ia percaya setiap proses memiliki hikmah tersendiri.

“Saya sendiri sadar, belum punya ilmunya dalam mengasuh anak didik. Ini justru menjadi ladang belajar sekaligus praktik langsung. Fokus kerjakan yang kita doakan. Enggak nyangka, tapi ternyata ini jalannya,” tuturnya sambil tersenyum.

Pengabdian yang Menginspirasi

Kisah Mita Lia Sofiana menjadi bukti bahwa menjadi pendidik bukan hanya soal berdiri di depan kelas dan mengajar mata pelajaran.

Lebih dari itu, pendidikan adalah tentang menghadirkan kasih sayang, keteladanan, dan pendampingan bagi anak-anak yang membutuhkan perhatian.

Meski sempat kehilangan kemampuan berjalan normal akibat cedera, semangat pengabdiannya tidak pernah patah.

Langkahnya memang sempat terhenti, tetapi tekadnya tetap berdiri tegak demi memastikan anak-anak di Sekolah Rakyat Dasar Jepara tumbuh menjadi generasi yang mandiri, berkarakter, dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Di tengah berbagai tantangan dunia pendidikan, sosok seperti Mita Lia Sofiana menjadi pengingat bahwa pengabdian sejati tidak selalu diukur dari jabatan atau penghargaan, melainkan dari ketulusan hati untuk terus hadir bagi mereka yang membutuhkan, bahkan ketika diri sendiri sedang berjuang melawan rasa sakit.

 

***

Sumber: TB.

Penulis: Vico Rahman.