Queensha.id – Jepara,
Sebuah unggahan di media sosial Facebook milik M. Abdullah Badri menjadi perhatian warganet setelah mengangkat persoalan keamanan dalam penyelenggaraan orkesan di Kabupaten Jepara.
Dalam tulisan berjudul “Jepara Paling Resah Soal Orkesan”, yang diunggah pada Kamis (2/7/2026), Abdullah Badri menyampaikan pandangannya mengenai kondisi yang menurutnya masih kerap terjadi dalam sejumlah kegiatan hiburan orkes di Jepara.
Tulisan tersebut merupakan opini pribadi penulis yang berangkat dari cerita seseorang yang disebutnya sebagai “cah ngaji”, yang memiliki istri asal Kabupaten Kendal.
Bandingkan Jepara dengan Kendal
Dalam narasinya, Abdullah Badri menuliskan bahwa menurut cerita tersebut, penyelenggaraan orkes di Kendal dinilai lebih tertib.
Ia menyebut lokasi acara dibatasi menggunakan pagar pembatas dan tamu yang masuk umumnya hanya undangan. Menurut narasi itu, suasana disebut lebih kondusif tanpa banyak gangguan keamanan.
Sebaliknya, ia menggambarkan bahwa pada sejumlah kegiatan orkes di Jepara pernah terjadi kericuhan, seperti aksi saling melempar botol yang menyebabkan pertunjukan harus dihentikan.
Namun demikian, narasi tersebut merupakan pengalaman yang diceritakan oleh penulis dan tidak dapat digeneralisasi sebagai gambaran seluruh penyelenggaraan orkes di Jepara.
Soroti Potensi Konflik Saat Orkesan
Abdullah Badri juga menyinggung adanya potensi perselisihan yang dapat dipicu oleh hal-hal sepele di tengah keramaian, mulai dari saling pandang, saling senggol, hingga adu mulut.
Menurutnya, kondisi tersebut diperparah apabila terdapat pengunjung yang berada di bawah pengaruh minuman beralkohol sehingga mudah terpancing emosi.
Ia bahkan mengaku mendengar cerita mengenai adanya oknum yang diduga sengaja mencari keributan untuk memperoleh keuntungan melalui proses penyelesaian perkara. Pernyataan tersebut merupakan bagian dari narasi yang disampaikan penulis dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Pandangan Agama tentang Minuman Keras
Selain membahas keamanan orkesan, Abdullah Badri mengaitkan persoalan tersebut dengan ajaran Islam mengenai larangan mengonsumsi minuman keras.
Ia mengutip kisah yang diriwayatkan dalam literatur Islam mengenai turunnya ayat Al-Qur’an yang melarang seseorang mendekati salat dalam keadaan mabuk, serta hadis Nabi Muhammad SAW tentang larangan meminum khamar.
Melalui kutipan tersebut, ia menegaskan pandangannya bahwa minuman keras dapat menghilangkan kesadaran, merusak moral, dan berpotensi memicu tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Opini Pribadi yang Mengundang Diskusi
Unggahan M. Abdullah Badri memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat. Sebagian warganet menganggap tulisannya sebagai kritik sosial agar penyelenggaraan hiburan rakyat berlangsung lebih tertib, aman, dan bebas dari konsumsi minuman keras.
Di sisi lain, terdapat pula masyarakat yang menilai tidak semua kegiatan orkes di Jepara berakhir ricuh. Banyak penyelenggaraan hiburan yang berjalan aman berkat kerja sama panitia, aparat keamanan, pemerintah desa, serta masyarakat setempat.
Karena itu, berbagai pihak berharap penyelenggaraan hiburan rakyat tetap dapat menjadi sarana rekreasi masyarakat dengan mengedepankan ketertiban, kepatuhan terhadap aturan, serta menjauhi tindakan yang dapat memicu konflik maupun mengganggu keamanan dan ketertiban umum.
***
Sumber; Abdullah Badri.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan