Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Selama bertahun-tahun, usia muda identik dengan masa paling bahagia dalam kehidupan seseorang. Namun, anggapan tersebut kini mulai berubah.

Sejumlah studi terbaru menunjukkan bahwa Generasi Z (Gen Z) justru menjadi kelompok usia yang memiliki tingkat kebahagiaan paling rendah. Temuan tersebut membalik teori lama yang dikenal sebagai “kurva U kebahagiaan”, yaitu kebahagiaan tinggi saat muda, menurun pada usia paruh baya, lalu kembali meningkat ketika memasuki usia lanjut. Kini, pola itu berubah karena tingkat kebahagiaan anak muda justru mengalami penurunan signifikan.

Penelitian tersebut juga mencatat bahwa sejak periode 2019 hingga 2024, kelompok usia di bawah 45 tahun mengalami penurunan kesejahteraan psikologis yang cukup tajam. Banyak anak muda mengaku kehilangan tujuan hidup, merasa hubungan sosial semakin lemah, hingga mengalami tekanan mental yang lebih besar dibanding generasi sebelumnya.

 

 

Tekanan Hidup Gen Z Semakin Kompleks

Selain persoalan kesehatan mental, berbagai survei juga menunjukkan bahwa Gen Z menghadapi tantangan lain, seperti sulit memperoleh pekerjaan yang sesuai harapan, tingginya biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, serta tekanan untuk selalu tampil sempurna di media sosial.

Di lingkungan kerja, survei juga menunjukkan tingkat kebahagiaan kerja Gen Z lebih rendah dibanding generasi Milenial maupun Gen X. Penyebabnya antara lain perasaan kurang dihargai, sulit menemukan makna dalam pekerjaan, serta keinginan besar terhadap keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance).

 

 

Pengamat Sosial Jepara: Bukan Karena Gen Z Lemah, tetapi Bebannya Lebih Berat

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai fenomena tersebut tidak bisa disimpulkan bahwa Gen Z merupakan generasi yang lemah.

Menurutnya, generasi muda saat ini hidup di era dengan tekanan yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya.

“Dulu anak muda cukup bersaing dengan lingkungan sekitar. Sekarang mereka bersaing dengan jutaan orang di media sosial setiap hari. Mereka terus-menerus membandingkan pencapaian, gaya hidup, bahkan penampilan. Tekanan psikologis seperti ini tidak dialami generasi terdahulu dalam skala sebesar sekarang,” ujar Purnomo Wardoyo, Senin (6/7/2026).

Ia menambahkan bahwa kemudahan akses informasi memang membawa banyak manfaat, tetapi di sisi lain juga memunculkan kecemasan baru.

“Media sosial menciptakan standar kesuksesan yang sering kali tidak realistis. Banyak anak muda merasa tertinggal, padahal yang mereka lihat hanyalah potongan terbaik dari kehidupan orang lain,” katanya.

Purnomo juga menilai kondisi ekonomi global, persaingan kerja yang semakin ketat, serta tingginya biaya pendidikan dan kebutuhan hidup membuat beban psikologis Gen Z semakin berat.

 

 

Perlu Dukungan, Bukan Stigma

Menurut Purnomo Wardoyo, generasi muda tidak seharusnya diberi label sebagai generasi manja atau rapuh.

Sebaliknya, masyarakat perlu memberikan ruang dialog, dukungan keluarga, pendidikan kesehatan mental, serta kesempatan kerja yang lebih baik agar mereka mampu berkembang secara optimal.

“Gen Z memiliki kreativitas, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, dan semangat inovasi yang tinggi. Yang mereka butuhkan adalah lingkungan yang sehat, apresiasi, dan kesempatan untuk berkembang,” ujarnya.

 

 

Jadi, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan anak muda mengalami penurunan dibanding generasi sebelumnya. Faktor ekonomi, tekanan media sosial, hubungan sosial yang melemah, hingga ketidakpastian masa depan menjadi penyebab utama.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti seluruh Gen Z hidup sengsara. Para ahli menilai fenomena ini merupakan sinyal bahwa kesehatan mental dan kesejahteraan generasi muda perlu mendapat perhatian lebih serius dari keluarga, sekolah, dunia kerja, dan pemerintah.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.