Queensha.id – Edukasi Sosial & Religi,
Fenomena seseorang yang terlihat rajin menjalankan ibadah, namun masih gemar membicarakan keburukan orang lain, menyebarkan gosip, menyindir, iri, dengki hingga mengadu domba, menjadi sebuah persoalan yang sering ditemukan dalam kehidupan sosial masyarakat.
Pada dasarnya, ibadah merupakan bentuk ketaatan seorang manusia kepada Allah SWT. Namun, dalam ajaran Islam, ibadah tidak hanya diukur dari banyaknya ritual yang dilakukan, melainkan juga bagaimana ibadah tersebut mampu membentuk akhlak dan perilaku yang baik terhadap sesama manusia.
Sebab, seseorang yang rajin salat, membaca Al-Qur’an, berpuasa, atau melakukan berbagai amalan lainnya seharusnya semakin memiliki hati yang lembut, rendah hati, menjaga perkataan, serta mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Akan tetapi, apabila seseorang masih gemar menyakiti orang lain melalui perkataan maupun perbuatan, maka perlu dilakukan introspeksi diri. Sebab, bisa jadi ibadah yang dilakukan belum sepenuhnya memberikan pengaruh terhadap perubahan akhlak.
Rajin Ibadah Tetapi Lisan Gemar Menyakiti Orang Lain
Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang masyarakat menemukan seseorang yang tampak sangat religius. Ia selalu hadir dalam kegiatan keagamaan, aktif mengikuti pengajian, bahkan dikenal sebagai orang yang rajin beribadah.
Namun, di sisi lain, orang tersebut memiliki kebiasaan membicarakan aib orang lain, menyebarkan cerita yang belum tentu benar, atau merasa senang ketika melihat orang lain mengalami kesulitan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kesalehan seseorang tidak hanya dapat dilihat dari penampilan luar.
Dalam Islam, ukuran kemuliaan seseorang bukan hanya dari banyaknya ibadah yang terlihat oleh manusia, tetapi juga dari kebersihan hati dan akhlaknya.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa seorang muslim yang baik adalah orang yang mampu menjaga orang lain dari gangguan lisan dan tangannya.
Artinya, seseorang yang rajin ibadah juga harus berusaha menjaga perkataan agar tidak menjadi sumber luka bagi orang lain.
1. Bahaya Gosip dan Ghibah dalam Islam
Gosip atau membicarakan keburukan orang lain dalam Islam dikenal dengan istilah ghibah.
Ghibah adalah menceritakan sesuatu tentang seseorang yang apabila orang tersebut mendengarnya, ia tidak menyukainya, meskipun cerita tersebut benar adanya.
Allah SWT memberikan peringatan keras mengenai ghibah dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 12, umat Islam diperintahkan untuk menjauhi prasangka buruk dan tidak mencari-cari kesalahan orang lain.
Sebab, membicarakan aib seseorang dapat merusak kehormatan, memperburuk hubungan sosial, serta menimbulkan permusuhan.
Terlebih lagi, di era digital seperti sekarang, gosip dapat menyebar lebih cepat melalui media sosial. Sebuah komentar atau unggahan yang dianggap sederhana dapat menjadi dosa apabila berisi penghinaan, fitnah, atau membuka keburukan orang lain.
2. Nyinyir dan Suka Merendahkan Orang Lain
Sikap nyinyir biasanya muncul dalam bentuk komentar negatif terhadap kehidupan seseorang.
Misalnya, ketika melihat orang lain sukses, mendapatkan rezeki, memiliki keluarga harmonis, atau mencapai sebuah prestasi, justru muncul komentar yang meremehkan.
Dalam pandangan Islam, seorang muslim dianjurkan untuk memiliki sifat husnuzan atau berprasangka baik.
Sebaliknya, kebiasaan merendahkan orang lain dapat menjadi tanda adanya penyakit hati.
Padahal, setiap manusia memiliki ujian dan perjalanan hidup masing-masing. Apa yang terlihat dari luar belum tentu menggambarkan seluruh perjuangan seseorang.
3. Iri dan Dengki yang Merusak Hati
Iri merupakan perasaan tidak senang ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat.
Sedangkan dengki adalah keinginan agar nikmat yang dimiliki orang lain tersebut hilang.
Dalam Islam, sifat dengki termasuk penyakit hati yang berbahaya karena dapat menghilangkan rasa syukur kepada Allah SWT.
Orang yang selalu iri akan sulit merasakan kebahagiaan. Sebab, pikirannya selalu membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.
Padahal, setiap manusia telah memiliki bagian rezeki masing-masing yang diberikan Allah SWT.
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak rasa syukur dan mendoakan kebaikan bagi sesama.
4. Adu Domba dan Dampaknya bagi Kehidupan Sosial
Adu domba atau namimah merupakan perilaku menyampaikan perkataan dari satu pihak kepada pihak lain dengan tujuan merusak hubungan.
Contohnya, seseorang menyampaikan perkataan yang dapat menimbulkan kebencian antara teman, keluarga, tetangga, atau kelompok masyarakat.
Dalam Islam, adu domba merupakan perbuatan tercela karena dapat menghancurkan persaudaraan.
Bahkan, sebuah hubungan yang telah dibangun bertahun-tahun dapat rusak hanya karena informasi yang tidak benar atau perkataan yang sengaja dipelintir.
Karena itu, seorang muslim harus berhati-hati dalam menerima maupun menyampaikan informasi.
5. Ibadah Harus Membentuk Akhlak Mulia
Islam mengajarkan bahwa ibadah dan akhlak merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Salat seharusnya mampu mencegah seseorang dari perbuatan buruk dan kemungkaran.
Puasa juga bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi melatih kesabaran, pengendalian diri, serta menjaga perkataan.
Begitu pula membaca Al-Qur’an bukan hanya untuk mendapatkan pahala, tetapi juga memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Dengan demikian, seseorang yang rajin beribadah hendaknya terus memperbaiki hati dan perilaku.
Sebab, tujuan utama ibadah adalah mendekatkan manusia kepada Allah SWT sekaligus menjadikan dirinya lebih baik dalam kehidupan sosial.
Pandangan Pengamat Sosial Jepara Purnomo Wardoyo
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, mengatakan bahwa fenomena seseorang yang rajin beribadah tetapi masih memiliki perilaku buruk terhadap sesama merupakan persoalan hubungan antara nilai agama dan praktik kehidupan sehari-hari.
“Ibadah seharusnya tidak hanya berhenti pada aktivitas ritual, tetapi harus mampu membentuk karakter seseorang. Ketika seseorang rajin beribadah namun masih suka menyakiti orang lain melalui ucapan maupun tindakan, berarti ada nilai moral yang belum sepenuhnya diterapkan dalam kehidupan sosial,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa ukuran kebaikan seseorang tidak hanya berdasarkan penampilan religius, tetapi juga bagaimana ia memperlakukan orang lain.
“Orang yang benar-benar memahami nilai agama biasanya akan lebih menjaga lisan, menghormati orang lain, tidak mudah menghakimi, serta berusaha memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar,” kata Purnomo.
Ia menambahkan, perkembangan media sosial juga membuat masyarakat harus semakin berhati-hati dalam berkomunikasi.
“Saat ini satu perkataan dapat menyebar luas dan menimbulkan dampak besar. Karena itu, budaya tabayun atau memeriksa kebenaran informasi harus terus dikedepankan,” jelasnya.
Jangan Hanya Memperbaiki Hubungan dengan Allah, Tetapi Juga dengan Manusia
Pada akhirnya, seorang muslim tidak cukup hanya memperbanyak ibadah secara lahiriah, tetapi juga harus memperbaiki hati dan akhlak.
Rajin salat, membaca Al-Qur’an, dan melakukan ibadah lainnya merupakan sesuatu yang sangat baik. Namun, semua itu harus tercermin melalui sikap rendah hati, menjaga lisan, menghindari gosip, menjauhi iri dengki, serta tidak menyakiti orang lain.
Sebab, kesalehan sejati bukan hanya terlihat ketika seseorang berada di tempat ibadah, tetapi juga terlihat dari bagaimana ia memperlakukan manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Karena ibadah yang benar akan melahirkan akhlak yang baik.
***
Sumber: TIY.
Penulis: Vico Rahman.
- adu domba
- Akhlak Muslim
- akhlak seorang Muslim
- bahaya adu domba
- ghibah
- hubungan ibadah dan akhlak
- hukum ghibah dalam Islam
- iri dan dengki dalam Islam
- iri dengki
- Islam
- Kehidupan Sosial
- menjaga lisan
- menjaga lisan dalam Islam
- orang rajin ibadah tapi suka gosip
- pengamat sosial Jepara Purnomo Wardoyo
- penyakit hati
- Queensha.id
- religi Jepara

Tinggalkan Balasan