Queensha.id – Jepara,
Kisah pilu datang dari Dukuh Winong, RT 03/RW 05, Desa Ngeling, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara. Seorang janda lansia bernama Mbah Paini (64) menjalani kehidupan yang penuh keterbatasan bersama anaknya yang merupakan penyandang disabilitas (difabel), Ponimen (44).
Harapan agar keluarga tersebut mendapatkan perhatian dari pemerintah maupun para dermawan mengemuka setelah sebuah pesan beredar di Grup WhatsApp Forum Darurat Sosial Jepara. Dalam unggahan itu, salah seorang anggota grup menyampaikan permohonan bantuan bagi Mbah Paini yang dinilai hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan.
Dalam pesan tersebut disebutkan bahwa Mbah Paini membutuhkan bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) serta berbagai kebutuhan dasar yang hingga kini belum dimiliki.
“Assalamualaikum Yth. Bapak Bupati, Bapak Gubernur, Disperkim, Dinsos, Baznas, DPR, Alba, para relawan dan para donatur. Mohon bantuan untuk Mbah Paini, seorang janda usia 64 tahun yang tinggal bersama anak difabel. Rumahnya sangat tidak layak huni, tidak punya listrik, sumur, WC, maupun kamar mandi. Kami memohon uluran tangan dari pemerintah dan para donatur agar berkenan membantu,” demikian isi pesan yang beredar di Grup WhatsApp Forum Darurat Sosial Jepara.
Menjanda Sejak 1992
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Mbah Paini telah menjanda sejak tahun 1992 setelah suaminya meninggal dunia. Semasa hidup, sang suami bekerja sebagai pembuat gedek bambu untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Meski hidup serba kekurangan, rumah yang ditempati saat ini merupakan milik pribadi Mbah Paini beserta tanahnya.
Namun kondisi bangunan disebut membutuhkan perhatian serius karena minim fasilitas dasar yang layak.
Belum Pernah Mendapat Bantuan untuk Anak Difabel
Anaknya, Ponimen, yang merupakan penyandang disabilitas, disebut belum pernah menerima bantuan khusus. Sementara Mbah Paini sendiri baru memperoleh bantuan berupa beras dan minyak goreng.
Keluarga tersebut juga dikabarkan belum memiliki berbagai fasilitas penunjang kehidupan sehari-hari, seperti:
- Rumah layak huni (RTLH)
- Listrik
- Sumur
- WC dan kamar mandi
- Kompor gas 3 kilogram
- Sepeda motor maupun sepeda ontel
- Telepon genggam yang memadai
Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-hari mereka berlangsung dalam keterbatasan.
Berharap Uluran Tangan
Mbah Paini berharap masih ada kepedulian dari pemerintah maupun masyarakat yang dapat membantu meringankan beban hidupnya.
“Saya hanya ingin punya rumah yang lebih layak untuk ditempati bersama anak saya. Kalau bisa ada listrik, sumur, kamar mandi dan WC supaya hidup kami lebih baik. Saya mohon bantuan kepada pemerintah dan para donatur yang berkenan membantu kami,” ujar Mbah Paini, Sabtu (11/7/2026).
Perlu Verifikasi dan Tindak Lanjut
Informasi mengenai kondisi keluarga tersebut kini menjadi perhatian sejumlah warga yang berharap adanya tindak lanjut dari instansi terkait, baik melalui program bantuan sosial, perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH), maupun dukungan dari lembaga sosial dan para donatur.
Apabila data tersebut telah diverifikasi oleh pemerintah desa maupun dinas terkait, diharapkan bantuan dapat segera disalurkan agar Mbah Paini dan anaknya dapat menjalani kehidupan yang lebih layak.
***
Sumber: Zaenal Arifin/Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan