Queensha.id – Edukasi Sosial,
Di media sosial beredar sebuah narasi yang mengajak masyarakat merenungkan pentingnya hidup sesuai kemampuan. Narasi tersebut menyoroti kebiasaan sebagian orang yang membeli mobil atau rumah mewah demi menjaga gengsi, meski kondisi keuangan belum benar-benar siap.
Dalam narasi itu juga disebutkan bahwa lebih baik hidup sederhana daripada memaksakan diri berutang demi memperoleh pengakuan dari lingkungan.
Pesan tersebut memicu diskusi luas mengenai gaya hidup konsumtif, kondisi ekonomi keluarga, hingga pentingnya membangun fondasi keuangan yang sehat.
Benarkah Jepang Menganggap Mobil sebagai Simbol Kampungan?
Salah satu klaim yang beredar menyebut bahwa di Jepang hanya petani atau masyarakat pedesaan yang memiliki mobil, sedangkan warga kota lebih memilih berjalan kaki atau bersepeda.
Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya tepat jika digeneralisasi. Memang, di banyak kota besar Jepang seperti Tokyo dan Osaka, masyarakat lebih banyak menggunakan transportasi umum karena jaringan kereta dan bus sangat efisien, biaya parkir mahal, serta lalu lintas yang padat.
Namun, kepemilikan mobil tetap umum dijumpai, terutama di daerah pinggiran dan pedesaan yang akses transportasi publiknya lebih terbatas. Dengan demikian, memiliki mobil di Jepang bukanlah sesuatu yang dianggap “kampungan”, melainkan bergantung pada kebutuhan dan lokasi tempat tinggal.
Gengsi Bisa Menjadi Beban Finansial
Pakar keuangan mengingatkan bahwa salah satu penyebab masalah ekonomi rumah tangga adalah keputusan membeli barang berdasarkan gengsi, bukan kebutuhan.
Tidak sedikit orang yang mengambil kredit kendaraan atau barang konsumtif hanya karena ingin terlihat mapan di mata orang lain.
Padahal, cicilan yang terlalu besar dapat mengurangi kemampuan memenuhi kebutuhan pokok, dana darurat, pendidikan anak, maupun tabungan masa depan.
Karena itu, prinsip “bergaya sesuai kemampuan” dinilai lebih bijak daripada memaksakan diri mengikuti standar hidup orang lain.
Islam Mengajarkan Hidup Sederhana
Dalam ajaran Islam, sikap sederhana (wasathiyah) merupakan akhlak yang dianjurkan. Umat Islam diperintahkan untuk tidak berlebihan dalam membelanjakan harta dan tidak pula bersikap kikir.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Furqan ayat 67 bahwa hamba-hamba Allah yang baik adalah mereka yang ketika membelanjakan harta tidak berlebihan dan tidak pula terlalu pelit, tetapi berada di tengah-tengah.
Kesederhanaan bukan berarti hidup dalam kekurangan, melainkan menggunakan harta secara bijaksana sesuai kemampuan dan kebutuhan.
Bagaimana Islam Memandang Utang dan Riba?
Islam tidak melarang seseorang berutang apabila benar-benar diperlukan dan dilakukan dengan cara yang dibenarkan syariat.
Namun, Islam sangat menekankan agar utang dipenuhi tepat waktu serta tidak dilakukan secara berlebihan hingga memberatkan diri sendiri.
Adapun mengenai riba, Al-Qur’an secara tegas melarang praktik tersebut. Mayoritas ulama berpendapat bahwa riba adalah tambahan yang diambil dalam transaksi utang-piutang dengan cara yang diharamkan.
Karena itu, banyak umat Islam memilih mencari alternatif pembiayaan yang sesuai dengan prinsip syariah apabila membutuhkan fasilitas pembiayaan.
Meski demikian, tidak semua produk lembaga keuangan memiliki karakteristik yang sama. Penilaian mengenai suatu akad perlu melihat bentuk transaksi dan ketentuan yang berlaku, bukan hanya nama lembaganya.
Bangun Aset, Bukan Sekadar Penampilan
Perencana keuangan sering mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan bukanlah banyaknya barang mewah yang dimiliki, melainkan kemampuan menjaga kestabilan keuangan dalam jangka panjang.
Memiliki rumah, kendaraan, atau peralatan elektronik bukanlah sesuatu yang salah apabila memang dibutuhkan dan diperoleh melalui perencanaan keuangan yang matang.
Yang perlu dihindari adalah keputusan finansial yang didorong semata-mata oleh gengsi hingga mengorbankan ketenangan hidup.
Setiap orang memiliki kondisi ekonomi yang berbeda. Karena itu, keputusan membeli rumah, kendaraan, atau barang lainnya sebaiknya didasarkan pada kebutuhan, kemampuan finansial, dan perencanaan yang matang, bukan tekanan sosial atau keinginan untuk terlihat lebih kaya.
Islam mengajarkan umatnya untuk hidup sederhana, menjauhi pemborosan, berhati-hati dalam berutang, serta menghindari praktik riba. Pada akhirnya, kekayaan sejati tidak hanya diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, tetapi juga dari keberkahan rezeki, ketenangan hati, dan kemampuan hidup tanpa terbebani oleh utang yang melebihi kemampuan.
Sebagaimana pepatah bijak, “Bergayalah sesuai kemampuan, karena ketenangan hidup jauh lebih berharga daripada kemewahan yang dibangun di atas beban yang tidak sanggup dipikul.”
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan