Queensha.id – Edukasi Ekonomi,
“Kalau nggak nyicil, kapan punya rumah?”, “Kalau nggak kredit, mana bisa beli mobil?, “Namanya juga hidup, cicil aja dulu.”
Kalimat-kalimat seperti itu kini terdengar biasa dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, bagi sebagian orang, memiliki cicilan justru dianggap sebagai tanda bahwa hidup sedang naik kelas.
Rumah dicicil. Mobil dicicil. Motor dicicil. Ponsel dicicil. Furnitur dicicil. Liburan pun bisa dicicil.
Masalahnya bukan semata-mata pada cicilan.
Yang perlu dipertanyakan adalah ketika seseorang mulai memiliki keyakinan bahwa setiap keinginan harus diwujudkan dengan utang.
Di titik inilah cicilan yang awalnya dianggap sebagai alat untuk membantu memenuhi kebutuhan bisa berubah menjadi beban keuangan jangka panjang.
Bukan Semua Utang Itu Buruk
Ekonom dan praktisi keuangan tidak serta-merta menganggap semua utang sebagai sesuatu yang salah.
Dalam pengelolaan keuangan, utang dapat dibedakan menjadi utang produktif dan utang konsumtif.
Utang produktif digunakan untuk sesuatu yang berpotensi meningkatkan kemampuan menghasilkan pendapatan atau membangun aset. Sementara utang konsumtif lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan yang tidak menghasilkan pendapatan.
Contohnya, pinjaman untuk mengembangkan usaha yang menghasilkan pendapatan tentu berbeda dengan berutang untuk membeli barang hanya karena ingin mengikuti tren.
Begitu pula rumah.
KPR untuk membeli tempat tinggal tidak bisa disamakan begitu saja dengan cicilan barang konsumsi. Rumah dapat menjadi kebutuhan pokok sekaligus aset, meskipun keputusan mengambil KPR tetap harus disesuaikan dengan kemampuan finansial.
Jadi, persoalannya bukan “utang atau tidak utang”, melainkan “untuk apa berutang dan apakah kita mampu membayarnya?”
Ketika Cicilan Menjadi Gaya Hidup
Persoalan muncul ketika cicilan mulai digunakan bukan karena kebutuhan, tetapi karena seseorang merasa tidak mau tertinggal dari lingkungan.
Teman membeli mobil baru, ikut membeli.
Teman mengganti ponsel, ikut mengganti.
Melihat orang lain liburan, ikut mengambil paylater.
Kemudian muncul kalimat:
“Cicilannya cuma Rp1 juta per bulan.”
Kalimat tersebut sering membuat harga sebenarnya terasa kecil.
Padahal, jika seseorang memiliki lima cicilan dengan nominal Rp1 juta, totalnya sudah menjadi Rp5 juta setiap bulan.
Yang harus diperhatikan bukan hanya besarnya cicilan satu per satu, tetapi akumulasi seluruh kewajiban.
RRI dalam laporan mengenai jebakan cicilan pada anak muda juga menyoroti bagaimana angka angsuran yang tampak ringan dapat membuat seseorang merasa mampu, sementara tenor panjang dapat menciptakan beban finansial dalam waktu lama.
Gaji Besar Belum Tentu Keuangan Sehat
Kesalahan lain adalah menganggap seseorang aman berutang hanya karena memiliki penghasilan besar.
Padahal, kesehatan keuangan ditentukan oleh hubungan antara pendapatan, pengeluaran, aset, tabungan, dan kewajiban.
Seseorang dengan penghasilan Rp15 juta tetapi memiliki kewajiban cicilan Rp10 juta belum tentu lebih sehat secara finansial dibanding orang berpenghasilan Rp8 juta tanpa utang.
Karena itu, sebelum mengambil cicilan, pertanyaan yang lebih penting bukan:
“Bisa disetujui bank atau tidak?”
Tetapi:
“Kalau pendapatan saya turun atau kehilangan pekerjaan beberapa bulan, apakah saya masih sanggup membayar?”
Pertanyaan tersebut jauh lebih penting.
Ekonom: Gaya Hidup Konsumtif Perlu Dikurangi
Pengamat ekonomi dari Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana, mengingatkan masyarakat agar mengelola keuangan dengan lebih bijak dan mengurangi gaya hidup konsumtif.
Menurutnya, masyarakat perlu mengubah pola konsumsi menjadi lebih bijak dan produktif.
Pandangan tersebut relevan dengan fenomena ketika kemudahan kredit justru membuat masyarakat membeli sesuatu sebelum benar-benar memiliki kemampuan finansial untuk membayarnya.
Artinya, kemampuan mendapatkan kredit jangan disamakan dengan kemampuan membeli.
Bank atau perusahaan pembiayaan mungkin menyatakan Anda layak mendapatkan kredit. Namun, hanya Anda yang benar-benar mengetahui apakah cicilan tersebut akan membuat kehidupan keluarga lebih aman atau justru semakin sempit.
Utang Bisa Menggerus Masa Depan
Bahaya terbesar utang konsumtif bukan selalu terlihat pada bulan pertama.
Awalnya terasa ringan.
Bulan pertama masih mampu membayar.
Bulan kedua masih aman.
Bulan ketiga mulai mengurangi tabungan.
Kemudian muncul kebutuhan mendadak.
Anak sakit.
Motor rusak.
Pendapatan berkurang.
Pekerjaan terganggu.
Pada saat itulah seseorang mulai menyadari bahwa sebagian besar penghasilannya sudah terikat untuk membayar kewajiban masa lalu.
Kondisi seperti ini membuat pendapatan hari ini tidak lagi sepenuhnya dapat digunakan untuk kebutuhan hari ini.
Sebagian sudah “dimiliki” oleh cicilan.
Ketika Gaji Hanya Lewat Rekening
Fenomena masyarakat yang penghasilannya habis untuk membayar cicilan menjadi perhatian ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad.
Ia pernah menyoroti kondisi kelompok kelas menengah yang semakin tertekan oleh utang dan cicilan. Menurutnya, meningkatnya akses terhadap pinjaman dapat menjadi persoalan ketika pendapatan tidak bertumbuh sebanding dengan kebutuhan dan kewajiban.
Inilah kondisi yang perlu dihindari.
Jangan sampai seseorang bekerja selama sebulan, kemudian ketika gaji masuk rekening, uang tersebut langsung terbagi untuk KPR, kendaraan, kartu kredit, paylater, pinjaman online dan berbagai cicilan lainnya.
Pada akhirnya, seseorang bekerja bukan lagi untuk meningkatkan kualitas hidup, tetapi hanya untuk membayar keputusan finansial masa lalu.
Cicilan Sehat Harus Punya Batas
Salah satu prinsip sederhana dalam mengelola cicilan adalah memastikan total kewajiban utang masih berada dalam batas kemampuan pendapatan.
BNI, misalnya, dalam edukasi literasi keuangannya menyebut cicilan yang sehat secara umum berada pada kisaran tidak lebih dari 30 persen penghasilan bulanan, sehingga kebutuhan pokok, tabungan, dan dana darurat masih memiliki ruang.
Angka tersebut bukan hukum yang berlaku mutlak untuk semua orang. Kondisi setiap keluarga berbeda.
Namun, prinsipnya sederhana:
Jangan mengambil cicilan hanya karena secara matematis masih bisa membayar. Pastikan setelah membayar cicilan, Anda masih bisa hidup dengan layak dan memiliki ruang untuk menghadapi keadaan darurat.
Sebelum Nyicil, Tanyakan Lima Hal Ini
Sebelum menandatangani perjanjian kredit, cobalah bertanya kepada diri sendiri:
Pertama, apakah barang tersebut benar-benar kebutuhan?
Jika tidak memilikinya tidak mengganggu kehidupan, mungkin sebenarnya itu keinginan.
Kedua, apakah saya mampu membayar tanpa mengorbankan kebutuhan pokok?
Jangan sampai cicilan membuat kebutuhan makan, pendidikan, kesehatan atau dana darurat dikorbankan.
Ketiga, apakah penghasilan saya stabil?
Cicilan berjalan setiap bulan, sementara penghasilan belum tentu selalu sama.
Keempat, berapa total biaya yang harus dibayar?
Jangan hanya melihat angka cicilan. Perhatikan bunga, biaya administrasi, asuransi, denda dan seluruh biaya lainnya.
Kelima, apakah saya siap jika terjadi keadaan darurat?
Jika kehilangan pekerjaan atau mengalami pengeluaran besar, apakah cicilan tetap dapat dibayar?
Tidak Punya Utang Bukan Berarti Gagal
Ada satu pola pikir yang juga perlu diluruskan.
Tidak memiliki rumah pada usia tertentu bukan berarti gagal.
Belum punya mobil bukan berarti miskin.
Tidak mengganti ponsel setiap tahun bukan berarti ketinggalan zaman.
Dan tidak mengambil cicilan bukan berarti tidak mampu mengikuti perkembangan zaman.
Setiap orang memiliki perjalanan finansial yang berbeda.
Ada orang yang memilih membeli rumah dengan KPR.
Ada yang memilih menabung terlebih dahulu.
Ada yang membeli kendaraan secara tunai.
Ada pula yang memilih menggunakan kendaraan lama selama masih layak.
Semuanya kembali pada kondisi dan tujuan masing-masing.
Yang Berbahaya Adalah Ketika Utang Menjadi Kebiasaan
Utang bukan musuh dan cicilan juga bukan sesuatu yang otomatis buruk.
KPR rumah, kredit usaha, maupun pembiayaan tertentu dapat menjadi alat finansial yang membantu seseorang mencapai tujuan lebih cepat.
Namun, utang menjadi berbahaya ketika seseorang berutang bukan karena membutuhkan, melainkan karena merasa harus memiliki sesuatu agar dianggap berhasil.
Kalimat “kalau nggak nyicil, nanti nggak bakalan punya” seharusnya tidak menjadi doktrin finansial.
Sebab ada pilihan lain: merencanakan, menabung, meningkatkan pendapatan, membeli sesuai kemampuan, atau menunda keinginan sampai kondisi keuangan benar-benar siap.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan finansial bukanlah berapa banyak barang yang berhasil dibeli dengan cicilan.
Melainkan seberapa kuat seseorang mengendalikan uangnya, memiliki aset, mempunyai dana cadangan, dan bisa tidur dengan tenang tanpa dihantui tagihan.
Karena hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat memiliki. Hidup adalah tentang siapa yang mampu menikmati apa yang dimiliki tanpa kehilangan ketenangan karena utang.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan