Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Di balik senyum seorang ibu yang menggendong anaknya, terdapat perjuangan panjang yang sering kali tidak terlihat oleh mata. Islam mengajarkan bahwa seorang suami hendaknya menjadi orang pertama yang wajib menghargai setiap tetes pengorbanan istrinya.

Sejak awal kehamilan, tubuh seorang wanita mengalami perubahan luar biasa. Selama sembilan bulan ia membawa amanah Allah SWT di dalam rahimnya, menahan rasa mual, nyeri, perubahan hormon, hingga kelelahan yang tidak sedikit.

Bahkan dari sisi medis, ASI yang menjadi sumber nutrisi terbaik bagi bayi diproduksi melalui proses biologis yang memanfaatkan zat gizi dari tubuh ibu, yang diperoleh dari makanan dan dialirkan melalui darah. Selama kehamilan dan menyusui, kebutuhan kalsium ibu juga meningkat sehingga penting bagi ibu memperoleh asupan gizi yang cukup untuk menjaga kesehatannya.

Ketika persalinan tiba, seorang ibu juga mengalami perjuangan yang sangat berat. Dalam proses melahirkan normal, kehilangan darah sekitar 500 mililiter merupakan hal yang umum terjadi, bahkan bisa lebih banyak pada kondisi tertentu. Semua itu dilalui demi menghadirkan buah hati ke dunia.

Namun perjuangan itu tidak berhenti setelah bayi lahir.

Seorang ibu masih harus menyusui, begadang hampir setiap malam, menghadapi perubahan bentuk tubuh, rambut rontok akibat perubahan hormon, kelelahan fisik dan mental, serta tetap berusaha memberikan kasih sayang terbaik bagi anaknya.

Sering kali, semua itu dilakukan tanpa mengeluh.

 

Pandangan Islam tentang Besarnya Pengorbanan Ibu

Islam memberikan kedudukan yang sangat mulia kepada seorang ibu. Allah SWT berfirman:

“Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.”
(QS. Luqman: 14)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah sendiri mengingatkan manusia tentang beratnya perjuangan seorang ibu ketika mengandung dan menyusui.

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

“Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah.”
(QS. Al-Ahqaf: 15)

Kedua ayat tersebut menjadi bukti bahwa Islam tidak pernah meremehkan pengorbanan seorang wanita yang menjadi ibu.

 

Rasulullah SAW Mengajarkan Suami untuk Memuliakan Istri

Meski hadis yang sangat terkenal berbicara tentang kemuliaan ibu, Rasulullah SAW juga memberikan teladan bagaimana seorang suami harus memperlakukan istrinya.

Beliau bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini menjadi pedoman bahwa ukuran kebaikan seorang laki-laki bukan hanya ibadahnya kepada Allah, tetapi juga akhlaknya kepada istri.

Dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah SAW membantu pekerjaan rumah, berbicara dengan lembut, bercanda dengan istri, bahkan menjahit pakaiannya sendiri ketika diperlukan. Sikap beliau menunjukkan bahwa membantu istri bukanlah tanda kelemahan, melainkan akhlak mulia.

 

Apa yang Seharusnya Diberikan Suami?

Jika seorang istri telah mengorbankan tenaga, waktu, kesehatan, bahkan mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan, maka balasan yang pantas bukan hanya ucapan terima kasih.

Islam mengajarkan agar suami memberikan:

  • Rasa hormat kepada istri.
  • Kasih sayang dan kelembutan.
  • Dukungan moral dan emosional.
  • Nafkah lahir dan batin yang baik.
  • Kerja sama dalam mengasuh anak.
  • Waktu berkualitas bersama keluarga.
  • Penghargaan atas setiap pengorbanannya.

Membesarkan anak bukan hanya tugas seorang ibu. Seorang ayah memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik, melindungi, dan menciptakan suasana rumah tangga yang penuh kasih sayang.

 

Jangan Menunggu Kehilangan Baru Menyadari

Banyak suami baru menyadari besarnya pengorbanan istri ketika istrinya jatuh sakit, mengalami kelelahan berat, atau bahkan telah tiada.

Padahal, menghargai istri tidak membutuhkan harta yang melimpah. Kalimat sederhana seperti “Terima kasih sudah berjuang,” membantu menggendong anak ketika istri lelah, atau menemani istri berbincang setelah seharian mengurus rumah dapat menjadi bentuk cinta yang sangat berarti.

Keluarga yang sakinah tidak dibangun hanya dengan nafkah materi, tetapi juga dengan kasih sayang, penghormatan, dan kerja sama antara suami dan istri.

Pengorbanan seorang ibu dalam mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak merupakan amanah yang sangat besar. Karena itu, setiap suami hendaknya meneladani akhlak Rasulullah SAW dengan memperlakukan istrinya secara baik, menghormati jerih payahnya, dan hadir sebagai pasangan yang saling menguatkan.

Sebab, di balik lahirnya generasi yang saleh, terdapat seorang ibu yang berjuang tanpa lelah dan seorang ayah yang bertanggung jawab. Islam mengajarkan bahwa keduanya harus saling bekerja sama, saling menghormati, dan saling mencintai demi meraih keberkahan keluarga di dunia maupun akhirat.

 

***