Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Di tengah berkembangnya berbagai cerita mistis di media sosial, istilah Santet Tali Jiwo kembali menjadi perbincangan masyarakat. Dalam tradisi klenik Nusantara, istilah ini dikenal sebagai salah satu bentuk ilmu hitam yang dipercaya tidak menyerang fisik secara langsung, melainkan menargetkan kondisi kejiwaan seseorang.

Namun, penting dipahami bahwa hingga saat ini tidak terdapat bukti ilmiah yang dapat membuktikan keberadaan atau cara kerja santet sebagaimana digambarkan dalam berbagai cerita rakyat. Sebagian besar kisah mengenai Santet Tali Jiwo berasal dari tradisi lisan, kepercayaan lokal, dan cerita turun-temurun.

 

 

Kepercayaan yang Berkembang di Masyarakat

Dalam berbagai cerita masyarakat, Santet Tali Jiwo digambarkan sebagai praktik yang bertujuan “mengikat jiwa” seseorang sehingga korban diyakini mengalami perubahan perilaku, seperti kebingungan, ketakutan, sulit berkonsentrasi, atau merasa terus diawasi.

Sebagian cerita juga menyebutkan penggunaan media pribadi, seperti rambut, kuku, atau pakaian korban. Namun, seluruh narasi tersebut merupakan bagian dari kepercayaan tradisional dan bukan fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa seseorang mengalami gangguan akibat santet hanya berdasarkan perubahan perilaku.

 

 

Pandangan Islam

Dalam ajaran Islam, Al-Qur’an menyebut adanya praktik sihir pada masa lalu, misalnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 102. Namun, Islam juga menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat memberi manfaat atau mudarat tanpa izin Allah SWT.

Islam melarang umatnya mempelajari, mempraktikkan, atau meminta bantuan kepada dukun maupun pelaku ilmu hitam untuk mencelakakan orang lain.

Sebaliknya, umat Islam dianjurkan memperkuat keimanan dengan menjaga salat, memperbanyak doa, berdzikir, membaca Al-Qur’an, serta memohon perlindungan kepada Allah SWT, termasuk dengan membaca Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas yang dikenal sebagai doa perlindungan dari berbagai keburukan.

Islam juga mengingatkan agar tidak mudah menuduh seseorang sebagai pelaku santet tanpa bukti yang jelas, karena tuduhan tersebut dapat menimbulkan fitnah dan merugikan orang lain.

 

 

Perspektif Psikologi

Sejumlah psikolog di Indonesia mengingatkan bahwa gejala seperti halusinasi, depresi, kecemasan berat, perubahan perilaku drastis, atau kehilangan konsentrasi lebih tepat diperiksa dari sisi kesehatan mental terlebih dahulu.

Guru Besar Psikologi dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., pernah menjelaskan bahwa perubahan perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, biologis, maupun sosial. Karena itu, seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan memerlukan pemeriksaan profesional agar penyebabnya dapat diketahui secara tepat.

Sementara itu, psikolog klinis Kasandra Putranto juga beberapa kali mengingatkan bahwa masyarakat sebaiknya tidak terburu-buru mengaitkan gangguan psikologis dengan hal-hal supranatural tanpa evaluasi medis dan psikologis yang memadai.

Menurut para ahli, depresi, gangguan kecemasan, skizofrenia, trauma, maupun gangguan kesehatan mental lainnya dapat menimbulkan gejala yang oleh sebagian masyarakat terkadang disalahartikan sebagai gangguan gaib.

 

 

Bijak Menyikapi Cerita Mistis

Cerita mengenai Santet Tali Jiwo merupakan bagian dari khazanah budaya dan kepercayaan yang hidup di sebagian masyarakat Indonesia. Namun, dalam menyikapi fenomena tersebut, masyarakat perlu membedakan antara cerita rakyat, keyakinan budaya, ajaran agama, dan penjelasan ilmiah.

Apabila seseorang mengalami perubahan perilaku, kesulitan mengendalikan emosi, depresi, halusinasi, atau gejala gangguan kejiwaan lainnya, langkah yang dianjurkan adalah segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau psikolog, tanpa mengabaikan ikhtiar spiritual sesuai keyakinan masing-masing.

Dengan pendekatan yang seimbang antara nilai agama, ilmu pengetahuan, dan pelayanan kesehatan, masyarakat diharapkan dapat menyikapi berbagai fenomena mistis secara lebih bijaksana, kritis, dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.