Queensha.id – Opini Publik,
Sebuah unggahan yang beredar di media sosial membandingkan besaran hadiah juara Piala Dunia 2026 dengan anggaran harian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia. Perbandingan tersebut memicu diskusi publik mengenai skala belanja negara dan pentingnya pengelolaan anggaran secara efektif.
Dalam unggahan akun Facebook Viral Hari Ini, disebutkan bahwa juara Piala Dunia 2026 diperkirakan menerima hadiah sekitar US$50 juta atau sekitar Rp900 miliar.
Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan bahwa pelaksanaan Program MBG pada awal 2026 membutuhkan anggaran sekitar Rp855 miliar per hari, dan nilainya diproyeksikan meningkat hingga sekitar Rp1,2 triliun per hari seiring bertambahnya jumlah penerima manfaat.
Perbandingan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan publik mengenai bagaimana negara mengelola anggaran dalam jumlah yang sangat besar.
Bukan Sekadar Besar Anggaran, tetapi Manfaatnya
Sejumlah ekonom di Indonesia berulang kali menekankan bahwa dalam kebijakan fiskal, ukuran keberhasilan suatu program tidak hanya dilihat dari besarnya anggaran, melainkan dari efektivitas pelaksanaan, ketepatan sasaran, efisiensi penggunaan dana, serta manfaat nyata yang diterima masyarakat.
Ekonom senior Faisal Basri semasa hidupnya juga kerap mengingatkan bahwa belanja negara harus menghasilkan manfaat publik yang terukur, disertai tata kelola yang baik dan pengawasan yang kuat. Sementara ekonom Bhima Yudhistira juga beberapa kali menekankan pentingnya evaluasi berbasis hasil (outcome), bukan sekadar besarnya serapan anggaran.
Menurut pandangan para ekonom tersebut, setiap rupiah yang berasal dari uang rakyat melalui APBN harus dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Publik Berhak Mengawasi
Dalam negara demokrasi, masyarakat memiliki hak untuk mengetahui bagaimana anggaran negara digunakan, terutama pada program-program dengan nilai yang sangat besar.
Pengawasan publik dinilai penting untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai tujuan, meminimalkan potensi pemborosan, serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan keuangan negara.
Di sisi lain, Program MBG merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan kelompok penerima manfaat lainnya. Pemerintah menyatakan besarnya anggaran tersebut sejalan dengan luasnya cakupan penerima manfaat yang ditargetkan.
Transparansi Menjadi Kunci
Perbandingan antara hadiah Piala Dunia dan anggaran harian MBG memang menarik perhatian publik. Namun, para pengamat menilai keduanya memiliki tujuan yang berbeda sehingga tidak dapat disamakan secara langsung.
Meski demikian, besarnya anggaran negara tetap menuntut adanya transparansi, akuntabilitas, efisiensi, dan evaluasi berkala agar manfaat program benar-benar dirasakan masyarakat serta penggunaan dana publik dapat dipertanggungjawabkan secara optimal.
Dengan demikian, perdebatan yang muncul seharusnya tidak hanya berfokus pada besar kecilnya angka anggaran, melainkan pada sejauh mana setiap rupiah yang dibelanjakan mampu menghasilkan manfaat nyata bagi rakyat Indonesia.
***
Sumber: Akun Facebook.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan